sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kemenko PMK curiga belanja rokok picu stunting

Belanja rokok masyarakat lebih tinggi ketimbang protein hewani, sayur, dan buah.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 07 Okt 2020 22:08 WIB
Kemenko PMK curiga belanja rokok picu stunting
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2018, pengeluaran per kapita sebulan masyarakat untuk belanja rokok dan tembakau menempati daftar urutan lebih tinggi dibanding konsumsi protein hewani, sayur, dan buah. Sementara survei status gizi balita Indonesia pada 2019 menunjukkan prevalensi stunting hanya sebesar 27,67%.

Asisten Deputi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Rama P.S Fauzi curiga belanja protein hewani, sayur, dan buah untuk ibu hamil juga ditukarkan konsumsi rokok.

“Memang Presiden Jokowi periode dua ingin pembangunan SDM berkualitas, tidak semudah apa yang sudah direncanakan. Ternyata, yang kita hadapi itu stunting. Itu dimulai dari ibu hamil dan kebetulan dilarang merokok. Bahkan, (jatah) untuk ibu hamil ini jangan-jangan juga dibelanjakan untuk merokok,” tutur Rama dalam diskusi virtual ‘Menagih Komitmen Pemerintah Pusat; Melarang Iklan Rokok’ yang diselenggarakan Alinea.id, Rabu (7/10).

Indonesia tergolong negara paling tinggi jumlah perokok anak. Tingkat kecanduan rokok dinilai akan berlipat ganda dan semakin sulit dihentikan. Imbasnya, banyak perokok yang berumur 30-40 tahun sudah mengidap penyakit tidak menular.

Rama menyebut, lebih dari 70% pasien Covid-19 dengan penyakit tidak menular mengalami gejala berat.

“Itu yang menjadi masalah Indonesia sebenarnya, mengapa fatalitasnya juga lebih tinggi daripada negara lain. Kalau kita berbicara tentang imunitas, kekebalan tubuh, sulit walaupun sudah ada vaksin, tetapi pola konsumsi masyarakat lebih mendahulukan rokok,” ucapnya.

Rama khawatir tren perokok anak terus meningkat setiap tahun. Ironisnya, banyak terjadi pada rentang usia anak sekolah menengah (SMP). Bahkan, mulai dilakukan oleh anak usia sekolah dasar.

“Faktanya, ketika saya di Kulon Progo, Jogja, anak sudah merokok sejak kelas 1 SD. Ini memang merupakan bagian dari pengaruh iklan rokok,” ujar Rama.

Sponsored

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto menyebutkan ada empat faktor yang menyebabkan perokok lebih berisiko terpapar Covid-19. Pertama, asap rokok mengganggu sistem kekebalan tubuh (imunitas).

"Jika terpapar asap rokok bertahun-tahun, fungsi silia (struktur mikrotubular berbasis rambut) terinfeksi dan tak bisa membersihkan nafas dari bakteri, hingga virus," kata dia saat dihubungi Alinea.id, Selasa (23/6).

Kedua, rokok bisa meningkatkan infeksi karena reseptor HCO2 lebih tinggi. Perokok cenderung memiliki reseptor HCO2 berkali-kali lipat lebih banyak daripada yang bukan perokok.

Ketiga, perokok cenderung memiliki komorbiditas (penyakit penyerta), seperti hipertensi, diabetes, dan paru kronik. Penyakit komorbid tersebut meningkatkan risiko infeksi Covid-19.

Keempat, merokok melahirkan kebiasaan memegang mulut secara berulang.

Berita Lainnya