sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Komnas HAM minta ponsel Brigadir J dikembalikan ke keluarga

Komnas HAM menyebut, hingga kini, ponsel Brigadir J belum ditemukan.

Gempita Surya
Gempita Surya Jumat, 02 Sep 2022 09:13 WIB
Komnas HAM minta ponsel Brigadir J dikembalikan ke keluarga

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam mengungkapkan, pihaknya menemukan Brigadir Yosua atau Brigadir J menerima ancaman pembunuhan pertama kali pada 7 Juli 2022 di malam hari. Artinya, tidak sampai 24 jam usai menerima ancaman tersebut, Brigadir J tewas dieksekusi di rumah dinas eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.

"Pertama kali memang tanggal 7 (Juli) malam dia diancam dibunuh, terus pulang tanggal 8 (Juli), lalu meninggal," kata Anam kepada wartawan di Kantor Komnas HAM, dikutip Jumat (2/9).

Anam mengatakan, pihaknya juga mendalami informasi terkait ancaman tersebut kepada keluarga Brigadir J di Jambi. Diungkapkan Anam, keluarga Brigadir J di Jambi juga sempat mengalami peretasan.

Informasi terkait peretasan yang dialami keluarga Brigadir J di Jambi itu juga dicantumkan Komnas HAM dalam laporan hasil pemantauan dan penyelidikan pada kasus pembunuhan ini. Beberapa hari setelah kematian Brigadir J, keluarga mengalami serangan digital berupa upaya untuk hijacking akun media sosial, seperti Whatsapp, Facebook, Email, dan Yahoo.

Lebih lanjut, kata Anam, pihak keluarga Brigadir J sempat menyampaikan kepada Komnas HAM soal tewasnya putra mereka. Keluhan pihak keluarga tersebut jadi catatan penting bagi Komnas HAM dalam perkara ini.

"Kami juga mendengarkan keluhan keluarga. Misalnya gini, kalau memang dituduh melakukan kejahatan, kenapa kok dia harus dieksekusi? Kenapa kok nggak dibuka pengadilan? Kenapa kok nggak dilakukan penyidikan dan lain sebagainya, sehingga punya hak untuk melakukan pembelaan. Itu juga catatan penting bagi kami," ucap Anam.

Selain itu, Anam juga menyinggung barang-barang yang belum ditemukan dalam proses pengusutan kasus ini, termasuk ponsel milik Brigadir J yang sampai saat ini belum ditemukan. Anam meminta tim penyidik untuk menemukan dan mengembalikan barang tersebut kepada keluarga.

"Barang-barang yang belum ditemukan, terutama punya Yosua, tolong dikembalikan atau dicari. Barang itu bisa jadi tidak hanya soal barang, tetapi memori, ikatan, dan kenangan. Itu penting dijawab teman-teman kepolisian," ucapnya.

Sponsored

Menurutnya, peristiwa ini perlu dibuka terang agar para pihak, termasuk keluarga Brigadir J, memiliki kepastian hukum dan memperoleh keadilan. Anam menilai, adanya tindakan merintangi penyidikan atau obstruction of justice membuat pengusutan kasus ini tidak berjalan maksimal.

Terlebih, imbuh Anam, salah satu tersangka di kasus ini yakni Irjen Ferdy Sambo, memiliki kuasa dan menggunakan pengaruh jabatannya untuk merekayasa peristiwa pembunuhan yang terjadi.

"Obstruction of justice kayak begini harus serius kita lawan. Tidak boleh orang yang punya kewenangan, kekuasaan, orang yang saat itu punya kekuasaan besar, merusak semuanya, menghalangi orang untuk mencari keadilan, menghalangi orang untuk mendapatkan kepastian hukum," ucap Anam.

Berita Lainnya
×
tekid