sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mahfud sindir TV yang sembarangan undang ustaz

Ustaz yang diundang TV kerap salah membaca ayat Alquran.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 05 Mar 2020 14:52 WIB
Mahfud sindir TV yang sembarangan undang ustaz
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyindir pengelola rubrik keagamaan di televisi. Menurut Mahfud ada yang tidak mengerti agama, tetapi diminta berbicara soal agama.

Selain sembarangan mengundang orang, kata dia, acara keagamaan di TV acap kali juga salah memberi judul. Di sisi lain, ustaz yang diundang menurutnya kerap salah saat membaca ayat Alquran, hadis, hingga makhrajnya.

"Pengelola rubrik agama di TV banyak yang enggak ngerti agama. Sembarang orang disuruh ngomong, kasih judul ini salah lagi, baca ayat salah, baca hadis salah, makhrajnya salah. Ini siapa sih yang ngatur tema dan milih ustaznya di TV, kok bisa seperti itu," ucap Mahfud dalam acara Standarisasi Kompetensi Da'i di kantor MUI, Jakarta, Kamis (5/3).

Mahfud lantas mencontohkan ketika Ramadan tiba. Menurutnya, beberapa tahun terakhir ada seorang ulama yang tampil pada tengah malam yang hanya pandai bercerita lucu saja, tetapi tidak bisa membaca Alquran, tak ubahnya seperti menjadikan kitab suci sebagai dagelan semata-mata.

Sponsored

"Saya kira ini TV apa ini? Soalnya Alquran dijadikan dagelan dan itu bertahun-tahun di TV. Setiap tahun minimal di TV itu dia tampil kalau bulan Ramadan dia tampil 4 kali, seminggu sekali, selama bertahun-tahun. Tahun terakhir saya enggak liat lagi," ujar dia.

Berkaca dari kasus tersebut, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera mengundang pihak TV, guna mencegah orang yang tidak berkompeten berbicara agama.

"Saya kira Majelis Ulama ini dan KPI perlu mengundang televisi agar memilih dong, jangan seperti istilah pak Samani tadi, orang dikarbit hanya karna bisa ngelucu, bisa cerita horor, bisa mendramatisir masalah lalu dijadikan sebagai dai," pungkasnya. 

Berita Lainnya