sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menristek sebut GeNose murah, sudah banyak yang pesan

Produksi tahap awal GeNose ditarget 5.000 unit.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Kamis, 07 Jan 2021 16:24 WIB
Menristek sebut GeNose murah, sudah banyak yang pesan

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan, alat skrining Covid-19 buatan UGM, GeNose, bakal diproduksi massal.

Untuk tahap awal, produksi GeNose ditargetkan 5.000 unit pada Februari mendatang. Bahkan, akan diproduksi lebih banyak lagi seiring sejalan dengan upaya pemerintah membantu pihak GeNose mencari mitra industri.

“Saat ini yang kami ketahui, pesanan juga sangat banyak dan mudah-mudahan sudah bisa dipenuhi sesuai dengan jadwal dari industri tersebut,” ucapnya dalam keterangan pers virtual, Kamis (7/1).

Mengantongi izin edar GeNosesejak 24 Desember 2020 lalu, GeNose disebut akan menggantikan rapid test antibodi sebagai standar baru alat skrining Covid-19. Namun, GeNose bukan alat diagnosa. Jadi, ketika seseorang dua kali terkonfirmasi positif Covid-19, baru diminta segera melakukan tes swab.

Diklaim mempunyai sensitivitas sekitar 92%, GeNose dinilai lebih murah dan mudah secara operasional. Pasalnya, setiap alat GeNose bisa digunakan hingga 100.000 kali, sebelum diperbaiki. Harga per unit alat GeNose Rp62 juta. Namun, tetap harus ditambah beban biaya kantung plastik untuk menyimpan embusan nafas Rp7000. Kemudian, biaya HEPA filter untuk menyaring agar virus tidak masuk ke mesinnya.

“Kalau ini dilakukan, untuk keperluan rapid test orang per orang perkiraannya sekitar 15-20 ribu. Jadi, jauh lebih murah daripada rapid test yang ada,” tutur Bambang.

Menurutnya, GeNose cocok untuk melacak kasus Covid-19 di stasiun, pabrik, perkantoran, hingga tempat perbelanjaan.

“Untuk distribusi, siapa pun bisa pesan ke pihak GeNose. Memang idealnya, sedang kami upayakan, kami menginginkan agar GeNose ini bisa dipakai di tempat-tempat yang tingkat traffic manusianya tinggi,” ujar Bambang.

Sponsored

Sebelumnya, Anggota tim peneliti GeNose Kuwat Triyono mengatakan, alat deteksi ini telah melewati uji klinis tahap pertama atau uji profiling. Namun, masih perlu melewati berbagai tahapan uji lainnya. Ia pun membantah tudingan klaim berlebihan (overclaim) dengan memberi harapan yang berlebihan.

“Overclaim memang berbahaya. Kami diundang di sini juga untuk meluruskan berita. Jadi, tidak seperti dalam pikiran masyarakat yang terlalu over ekspektasi. Terlalu berlebihan berharap. Kemudian, mengakibatkan nanti skeptis. Dikira sama saja,” ujar Kuwat dalam diskusi virtual, Sabtu (3/10).

Menurut Kuwat, GeNose telah mematuhi protokol dan prosedur yang berlaku dalam pengembangan alat medis. Bahkan, saat uji kelayakan, tim peneliti GeNose telah dicecar bertubi-tubi oleh Komisi Etik Fakultas Kedokteran UGM.

“Harus dipahami dulu. Kami bekerja bukan mengklaim, tetapi berdasarkan standar yang sudah baku di internasional. Protokol sudah kami submit di website. Protokol kita tidak salah, yang salah itu ketika kami rilis ini karena terpapar informasi simpang siur, dalam tanda kutip, pesaing-pesaing kita di Israel sudah declare,” tutur Kuwat.

Berita Lainnya