sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemuda Muhammadiyah bantah Din Syamsuddin ikut lengserkan Gus Dur

Muhammadiyah menilai data-data yang tersaji dalam buku 'Menjerat Gus Dur' mengada-ada.

Fadli Mubarok Akbar Ridwan
Fadli Mubarok | Akbar Ridwan Kamis, 02 Jan 2020 16:50 WIB
Pemuda Muhammadiyah bantah Din Syamsuddin ikut lengserkan Gus Dur
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 60695
Dirawat 30091
Meninggal 3036
Sembuh 27568

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto, membantah keterlibatan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau dikenal Din Syamsuddin dalam upaya penggulingan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. 

Pria yang akrab disaapa Cak Nanto itu merasa perlu memberikan pernyataan demikian lantaran nama Din Syamsuddin turut disebut dalam buku berjudul ‘Menjerat Gus Dur’.

Buku yang ditulis oleh Virdika Rizky Utama itu mengungkap skenario besar ihwal proses kudeta terhadap Gus Dur oleh sejumlah elite politik. Buku terbitan Numedia Digital ini memuat sebuah dokumen rahasia yang ditulis oleh bekas Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII di era Soeharto, Fuad Bawazier, yang tujuannya ingin menggulingkan Gus Dur secara sistematis sebagai Presiden RI ketika itu.

Selain Fuad Bawazier, beberapa tokoh lainnya yang diduga terlibat dalam upaya penggulingan Gus Dur antara lain politikus senior Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, politikus senior PAN Amien Rais, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

Kemudian ada pula nama-nama lain yang disebut dalam buku tersebut yakni mantan hakim MK Patrialis Akbar, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Japto Soelistyo Soerjosoemarno, dan putra mendiang Presiden ke-2 RI Soeharto, Bambang Trihatmodjo. Tokoh-tokoh tersebut memiliki peran berbeda-beda dalam upaya menggulingkan Gus Dur. 

Adapun Din Syamsuddin dalam buku itu disebut berperan mengendalikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat kasus Ajinomoto. Namun demikian, menurut Cak Nanto data yang tercantum dalam buku 'Menjerat Gus Dur' itu tidak valid. 

"Di sana ada keterangan Pak Din ikut menjerat. Padahal, yang kami ketahui, Pak Din mau proses menjadi guru besar kalau tidak salah. Pak Din bahkan tidak banyak melakukan pertemuan pada waktu itu," kata Cak Nanto kepada Alinea.id di Jakarta pada Rabu (1/12).

Menurut Cak Nanto, data yang tersaji pada buku ‘Menjerat Gus Dur’ itu terlalu mengada-ada. Penulisnya, kata dia, harus berhati-hati dalam mencatut sebuah nama seseorang.

Sponsored

Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, enggan mengomentari lebih jauh mengenai upaya pelengseran Gus Dur dari jabatannya sebagai Presiden RI yang diduga dilakukan oleh sejumlah elite politik dalam operasi senyap bernama 'Semut Merah'.

Menurut Said, peristiwa yang sudah terjadi dan berlalu sebaiknya biarlah menjadi sejarah yang berharga. “Yang sudah lalu kita jadikan sejarah yang berharga,” kata Said.

Berita Lainnya