sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pandemi Covid-19 bisa picu kekerasan dalam berpacaran

Kekerasan yang akan terjadi dilampiaskan melalui perangkat komunikasi secara daring (online).

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 17 Apr 2020 22:18 WIB
Pandemi Covid-19 bisa picu kekerasan dalam berpacaran
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 502.110
Dirawat 63.722
Meninggal 16.002
Sembuh 422.386

Pandemi coronavirus baru (Covid-19) berpotensi meningkatkan kekerasan ranah personal, seperti kekerasan dalam berpacaran, selain di rumah tangga. Praktik pun bergeser ke ranah digital (online).

"Iya (kekerasan dalam berpacaran saat pandemi bergeser ke daring)," ucap Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Siti Aminah Tardi, saat dihubungi, Jumat (17/4).

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan 2020, kekerasan seksual ranah personal dengan pelaku pacar mencapai 1.320 kasus. Dua kali lebih banyak daripada ayah kandung (618 kasus).

Hingga saat ini, kekerasan gender berbasis siber menjadi kasus terbanyak. Terjadi 199 kasus pada Februari dan 207 kasus pada bulan lalu.

Pemicunya, relasi laki-laki dan perempuan timpang. Dalam sistem sosial di Indonesia, laki-laki dididik mengekspresikan perasaannya secara maskulin. Misalnya, mengontrol pasangannya atau memaksa melakukan aktivitas seksual.

Sedangkan perempuan, terbebani standar moralitas terkait kesucian atau keperawanan. Kondisi tersebut dimanfaatkan laki-laki untuk memaksa kekasihnya bersedia melakukan seks.

"Misalkan, dengan ancaman akan diberitahukan ke orang tua, ke sekolah, atau di unggah di media sosial," kata Siti mencontohkan.

"Teknologi informasi digunakan untuk melakukan kekerasan. Maka, kemudian muncul pelecehan seksual online, revenge porn," imbuh dia.

Sponsored

Pernyataan tersebut diamini psikolog klinis sekaligus Direktur Yayasan Pulih, Nirmala Ika. Dirinya berpendapat, pandemi Covid-19 turut menyebabkan kekerasan terhadap perempuan.

Secara umum, terangnya, dorongan seksual laki-laki muncul setelah akil balig. Namun, pendidikan Indonesia cenderung untuk menyalahkan dan menahannya, dibandingkan mengelola dengan baik.

Laki-laki yang terbiasa melakukan aktivitas seksual dengan pacarnya akan sukar mengendalikan hasratnya saat pandemi Covid-19. Pangkalnya, krisis kesehatan mendorong masyarakat beraktivitas di rumah.

Kala dorongan seksual yang muncul tak bisa dikelola dengan baik, bakal memacu adrenalin. Pun berujung kekerasan siber. "Dengan video call, telepon. Semua bisa tetap terjadi. Akhirnya bisa bablas," ujarnya pada kesempatan terpisah.

Nirmala mengingatkan, situasi kacau dan serba tidak pasti karena pandemi Covid-19 juga membuat orang semakin cemas. Sehingga, pengelolaan emosinya buruk dan akan kian mudah menyalahkan pasangannya.

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Menjinakkan La Nina demi ketahanan pangan

Senin, 23 Nov 2020 16:42 WIB
Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Efek domino kekerasan perempuan berbasis online

Minggu, 22 Nov 2020 14:48 WIB
Berita Lainnya