sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Perjuangan Manis dari lereng Gunung Argopuro

Keterbatasan akses sinyal dan fasilitas publik yang dirasakan tidak membuat semangat juangnya surut.

Achmad Rizki Muazam
Achmad Rizki Muazam Senin, 31 Agst 2020 22:21 WIB
Perjuangan Manis dari lereng Gunung Argopuro
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 406.945
Dirawat 58.868
Meninggal 13.782
Sembuh 334.295

Di usia 25 tahun, Manis memilih menjual kopi. Tinggal di lereng Gunung Argopuro, Jawa Timur (Jatim), yang susah sinyal tidak menyurutkan semangatnya membangun usaha. 

Pemuda asal Probolinggo, Jatim itu, fokus mengembangkan toko online-nya Jualan Masboy. Memilih mendirikan usaha sendiri saat pandemi, bukan perkara mudah. Dibutuhkan, ketekunan, keuletan, keterampilan, dan semangat.

Sebelumnya Manis, selama 10 tahun terakhir bekerja sebagai penjual kosmetik di Balikpapan, Kalimantan Timur. Akibat pandemi, lelaki kelahiran Probolinggo memilih pulang kampung. "Saya pulang ke kampung halaman dan memulai usaha sendiri lewat jalur online," kata Manis, sambil tersenyum, kepada Alinea.id, Senin (31/8).

Kini, lelaki berkulit sawo matang itu, fokus mengembangkan toko online-nya dengan nama Jualan MasBoy. Manis menjual aneka kopi mentah hasil panen petani setempat. 

Manis, tidak sekedar mencari keuntungan. Melalui usahanya, dia mempunyai cita-cita mulia untuk menyejahterakan para petani kopi di desanya. Beruntung, Manis dapat memanfaatkan akses internet untuk meluaskan pemasaran dari produknya.

"Kanal online membuat akses pemasaran produk para petani kopi di lereng Gunung Argopuro menjadi jauh lebih luas," ucap dia.

Demi memajukan perekonomian desanya, dan mengembangkan produk lokal. Manis memiliki cita-cita menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Dia juga mendirikan, Komunitas Anak Muda yang putus atau selesai sekolah.

Namun, usahanya untuk memajukan desa lewat penjualan produk lokal dengan toko online, tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus rela sering keluar rumah, bahkan tidur bergelantung di sela-sela gardu pemancar sinyal dengan menggunakan hammock demi mendapatkan sinyal. 

Sponsored

Maklum rumah dan desanya yang berada di lereng gunung membuat sinyal enggan mendekat. 

"Rumah saya di lembah dan antena tidak kuat menarik sinyal. Jadi, saya jarang sekali di rumah. Lebih betah di tempat yang ada sinyalnya," ujar si Manis.

Manis menuturkan, bila menjalankan ritual mencari sinyal, dia harus membawa kompor portable dan mie instan sebagai bekal selama perjalanan.

Tak hanya berjuang mencari sinyal, dia juga harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter demi menjangkau kurir terdekat. Dia bahkan pernah berjalan kaki memanggul paket kopi seberat 10 kilogram dengan menempuh jarak 7 kilometer untuk mengantarkan pesanan ke kurir.

Dia lebih memilih berjalan kaki karena jalan di sana masih sangat berbatu dan terjal. "Terlebih kalau hujan, jalanan menjadi sangat licin. Jadi, lebih aman jalan kaki. Kalau tidak hujan, saya biasanya pinjam motor saudara untuk mengantar pesanan ke ekspedisi," tutur Manis.

Namun, keterbatasan akses sinyal dan fasilitas publik yang dirasakannya tidak membuat semangat juangnya surut. "Agar konsumen tidak kecewa, meskipun jauh, saya tetap semangat," tegasnya.

Setali tiga uang, nasib Manis cukup berat. Dia juga kerap dicibir tetangga karena berjualan online, terlihat seperti pengangguran. Meski begitu, tidak menghiraukan cibiran tetangga, Manis justru melakukan sosialisasi tentang pemanfaatan platform digital dalam berbisnis demi kemajuan desa. 

Selain itu, dia juga selalu memberikan sosialisasi kepada petani setempat mengenai cara merawat kopi dengan tepat, agar bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Perjuangan Manis, perlahan berbuah manis. Kini produk kopi petani lereng Gunung Argopuro yang dipasarkannya bisa dinikmati oleh masyarakat luas, bahkan hingga ke Kalimantan. Ia juga berencana menambah varian produk lain olahan masyarakat desa, seperti kain dan sebagainya.

Berita Lainnya