sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

'Surat sakti' jadi petunjuk Kejagung kejar Djoko Tjandra

Kejagung mengaku miliki strategi khusus kejar Djoko Tjandra.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 14 Jul 2020 18:47 WIB
'Surat sakti' jadi petunjuk Kejagung kejar Djoko Tjandra
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengaku akan menelusuri pemberi surat jalan terhadap buron Djoko Soegiarto Tjandra. Pasalnya, 'surat sakti' yang disebut menjadi pengantar Djoko bepergian di Indonesia diberikan oleh salah satu instansi kredibel.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setyono menyebutkan, surat jalan itu juga akan diselidiki apakah benar merupakan dibuat asli secara sah oleh instansi yang memberikan.

Selain itu, surat jalan tersebut akan menjadi petunjuk penelusuran keberadaan Djoko Tjandra. "Kami belum mengetahui asli atau tidaknya surat itu, tapi menjadi petunjuk karena adanya surat jalan untuk menelusuri yang bersangkutan," ujar Hari di Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Selasa (14/7).

Menurut Hari, pihaknya juga masih menelusuri segala informasi yang ada mengenai keberadaan Djoko Tjandra. "Kami mempunyai strategi pencarian, akan menelusuri jejak kemarin, menelusuri pembuatan KTP kalau memang benar, siapa yang mendaftarkan ke PN Jaksel pengajuan PK, apa memang benar ke Malaysia?" tutur Hari.

Untuk diketahui, Joko merupakan terdakwa kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp904 miliar yang ditangani Kejaksaan Agung. Pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000, Kejaksaan pernah menahan Joko. 

Namun, Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan ia bebas dari tuntutan karena perbuatan itu dinilai bukan perbuatan pidana, melainkan perdata.

Pada Oktober 2008, Kejaksaan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) terhadap kasus Joko ke Mahkamah Agung. Pada 11 Juni 2009, Majelis Peninjauan Kembali MA menerima PK yang diajukan jaksa. 

Majelis hakim memvonis Joko 2 tahun penjara dan harus membayar Rp 15 juta. Uang milik Joko di Bank Bali sebesar Rp 546,166 miliar dirampas untuk negara. Imigrasi pun mencekal Joko.

Sponsored

Joko Tjandra kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini pada 10 Juni 2009, sehari sebelum MA mengeluarkan putusan perkaranya.

Kejaksaan selanjutnya menetapkan Joko sebagai buronan. Belakangan, Joko diketahui kembali masuk ke Indonesia untuk mendaftarkan PK ke PN Jakarta Selatan.

Serba salah vaksin Nusantara

Serba salah vaksin Nusantara

Senin, 01 Mar 2021 06:17 WIB
Menghindari 'Jebakan Batman' DP rumah 0%

Menghindari 'Jebakan Batman' DP rumah 0%

Jumat, 26 Feb 2021 15:24 WIB
Berita Lainnya

Jokowi Presiden, wajar disambut massa

Minggu, 28 Feb 2021 09:17 WIB

DC garap film reboot Superman berkulit hitam

Senin, 01 Mar 2021 15:53 WIB

Catatan Setahun Penanganan Pandemi Covid-19

Senin, 01 Mar 2021 15:41 WIB