sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Survei SMRC: Ekonomi nasional memburuk saat pandemi

Mayoritas responden juga beranggapan, kondisi ekonomi belum membaik pada 2021.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Selasa, 12 Mei 2020 20:08 WIB
Survei SMRC: Ekonomi nasional memburuk saat pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 80094
Dirawat 37247
Meninggal 3797
Sembuh 39050

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan, sebesar 84% publik menilai kondisi ekonomi nasional lebih buruk dibandingkan sebelum pandemi coronavirus anyar (Covid-19). Hanya 8% yang menyatakan tidak ada perubahan dan 2% beranggap lebih baik.

"Mayoritas warga atau 79% menilai, kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk dibandingkan sebelum adanya wabah Covid-19. Sementara yang menyatakan tidak ada perubahan, hanya 19% dan yang menyatakan lebih baik jauh lebih sedikit lagi, yaitu 1%," ucap Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas, via keterangan tertulis, Selasa (12/5).

Dirinya melanjutkan, masyarakat juga cenderung pesimistis dengan kondisi ekonomi setahun ke depan. Yang merasa ekonomi rumah tangga membaik pada 2021 hanya 29% dan 53% lainnya berpandangan memburuk.

Untuk kondisi ekonomi nasional setahun ke depan, responden yang optimistis hanya 27%. Pesimistis lebih besar, sebanyak 49%.

Bantuan sosial
Menyangkut bantuan sosial (bansos), imbuh dia, publik menganggap perlu disalurkan hingga pandemi berakhir. Keberlanjutannya diyakini menambah jumlah warga yang dibantu dan mekanisme distribusi mendesak untuk diperbaiki.

Abbas mendorong demikian, lantaran 49% responden menilai bansos belum tepat sasaran. Hanya 37% yang beranggapan sudah tepat sasaran.

"Ini mengkhawatirkan, mengingat besarnya dana yang dikucurkan pemerintah hanya akan berarti bila bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan," ujarnya.

Apalagi, sambungnya, 60% responden melihat warga yang berhak belum menerima bansos. Sedangkan 29% dinilai salah sasaran karena diberikan kepada yang tak berhak. Hanya 21% yang merasa berhak menyatakan sudah menerima bansos.

Sponsored

"Berarti, masih ada 13% yang belum menerima atau sekitar 35 juta orang dari populasi nasional 2020 yang diproyeksikan 271 juta jiwa," jelasnya.

Ini, menurut Abbas, persoalan serius karena yang tak menerima bantuan bisa kelaparan dan mengalami kesulitan lain. "Tak mampu berobat, tak mampu bayar kontrakan, dan persoalan-persoalan mendesak lainnya."

Sementara, yang menerima bansos berupa sembako mencapai 55% dan 16,6% responden menerima Program Keluarga Harapan (PKH). Adapun yang mendapatkan kedua bantuan itu sebesar 11,8%, penerima sembako dan bantuan langsung tunai (BLT) 10,3%, serta mendapat BLT saja 5,2%.

Sebanyak 87% responden pun menyatakan, bantuan hanya cukup untuk dua minggu atau kurang.

Di sisi lain, sebesar 74% responden belum tahu bagaimana mendaftar agar dapat bantuan. Sebanyak 62% responden berharap, petugas mendatangi warga yang berhak untuk mendaftarkan mereka sebagaimana penerima bansos.

Survei ini dilakukan melalui telepon, 5-6 Mei 2020. Sebanyak 1.235 responden terlibat. Sedangkan rerata simpangan (margin of error) 2,9%.

Berita Lainnya