logo alinea.id logo alinea.id

Tak peduli AS, JK: Asia dan Eropa jalan terus hadapi perubahan iklim

Mengantisipasi perubahan iklim, Indonesia telah mengambil langkah salah satunya dengan mendorong penggunaan energi terbarukan.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Sabtu, 20 Okt 2018 20:34 WIB
Tak peduli AS, JK: Asia dan Eropa jalan terus hadapi perubahan iklim

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Europe Meeting (KTT ASEM) ke-12 yang berlangsung di Brussels, Belgia, Presiden Jusuf Kalla menyoroti isu perubahan iklim global. Salah satunya mengenai Persetujuan Paris atau Paris Agreement yang disepakati pada tahun 2015.

Menurut Jusuf Kalla, kesepakatan yang terjadi di Paris, Perancis, merupakan sebagai upaya untuk mengendalikan perubahan iklim dunia. Dalam kesepakatan tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyayangkan Amerika Serikat yang menarik diri dari perjanjian tersebut. Meski begitu, JK tak peduli. Menurutnya, terpenting Asia dan Eropa tetap pada pendirian.  

“Sayang Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan tersebut, maka untuk menyelamatkannya, Asia dan Eropa harus jalan terus,” kata Jusuf Kalla.

Menurut JK, dalam mengantisipasi perubahan iklim, Indonesia telah mengambil langkah yang tepat. Salah satunya dengan mendorong penggunaan energi terbarukan. Selain itu, juga perbaikan pada tata kelola hutan dengan menjalankan memberlakukan penundaan izin baru dan hutan primer dan lahan gambut.

“Indonesia juga baru saja memberlakukan penundaan izin baru dan akan melakukan evaluasi kebun sawit. Ini untuk menekan pelepasan emisi gas rumah kaca dari sektor penggunaan, perubahan lahan, dan kehutanan (land use, land use change, and forestry/LULUCF)," paparnya.

Sementara dari sektor penggunaan energi terbarukan, Indonesia perlahan telah mengimplementasikan kebijakan pencampuran biodisel B20 untuk menekan penggunaan energi berbasis fosil. Langkah lainnya melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan panas bumi (PLTPB).

Adapun salah satu PLTA yang saat ini sedang dikembangkan yakni PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan. Dimana bisa mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 1,6 juta metrik ton setara CO2 per tahun.

"Juga bisa menghemat hingga Rp5 triliun per tahun jika dibandingkan penggunaan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil," tuturnya.

Sponsored

Meski sejumlah langkah pengendalian perubahan iklim sedang dilakukan Indonesia, namun masih ada kalangan LSM yang kerap melakukan kampanye negatif. Terkait hal tersebut, JK mengingatkan agar kalangan LSM tidak melancarakan kritik yang berlebihan.

“Kita terima kritik, tapi jangan berlebihan. Jangan semuanya tidak boleh,” katanya.

Lebih lanjut, Jusuf Kalla menjabarkan, terhadap sawit misalnya, harus juga diimbangi dengan pemahaman bahwa komoditas tersebut berkontribusi besar pada pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Sawit itu bukan soal pengusaha besar. Justru 70% kepentingan rakyat yang bekerja di sana,” ujarnya.