sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bayangan timnas Indonesia muncul ke Asia lagi

Jujur atau tidak undian itu dilakukan? Ada lobi-lobi khusus Kuwait kepada pengurus AFC-kah sebelum undian?

Arpan Rachman
Arpan Rachman Kamis, 26 Mei 2022 22:09 WIB
 Bayangan timnas Indonesia muncul ke Asia lagi

Kualifikasi putaran ketiga Piala Asia 2023 dibayangi rasa sangsi di depan mata. Tim nasional Indonesia senior menghadapi tuan rumah Kuwait, Yordania, dan Nepal di Grup A. Laga dimulai 8 Juni sampai 14 Juni 2022.

Dari hasil undian sudah seperti terlihat keanehan. Semua peserta segrup, ketiganya sisa dari Grup B di putaran kedua kualifikasi sebelumnya, yang telah dimenangkan Australia. Hanya minus China Taipei, yang kemudian malah ganjil juga secara kebetulan, justru berjumpa Indonesia di playoff lalu.

Putaran kedua kualifikasi Grup B diketahui terdiri Australia, Kuwait, Yordania, Nepal, dan China Taipei. Australia yang memuncaki klasemen akhir, berhasil maju ke putaran final Piala Asia mendatang. Juru kuncinya, China Taipei, lantas bertemu Indonesia di playoff dan kalah dua laga. Sementara trio Kuwait, Yordania, dan Nepal tetap di dalam grup yang sama. Bukankah rasanya aneh juga?

Wajar jika tampak mencurigakan. Jujur atau tidak undian itu dilakukan? Ada lobi-lobi khusus Kuwait kepada pengurus AFC-kah sebelum undian? Bagaimana bisa mereka terkumpul di satu grup lagi? Apa nanti wasit yang ditunjuk memimpin pertandingan Indonesia ternyata berasal dari Asia Barat, sesama dari gurun Arab?

Atau seperti wasit Australia yang patut dicurigai "makan suap" dari Uni Emirat Arab untuk menghukum tujuh kali tendangan penalti ke skuad Luis Milla di Asian Games 2018? Sebagian negeri gurun terkenal banyak uangnya, tidakkah mereka suka mengucurkan dana ke saku wasit-wasit AFC yang bisa diajak kompromi?

Barangkali hanya tim-tim Eropa dan Amerika, yang para pemain dan wasitnya hidup sejahtera, kebal terhadap sogok sepak bola antarnegara. Faktanya, di turnamen yang jelas bukan beroperasi di Asia tetapi di tingkat dunia, biasanya negara-negara Timur Tengah menjadi lumbung gol dan sulit bersaing untuk menang.

Agenda setting Grup A yang paling mengkhawatirkan berupa rencana curang sebelum pertandingan. Misalnya, bertujuan menghasilkan poin akhir di klasemen 7-7-3-0 bagi keempat peserta. Proyeksi Yordania dan Kuwait memuncaki grup dengan tujuh angka (setelah keduanya akan bermain mata dengan skor imbang di laga terakhir), Indonesia 3, dan Nepal 0. Angka 7 itu sangat berarti di perhitungan akhir ketika lima runners-up terbaik diakumulasi. Yordania dan Kuwait akan sama-sama menggasak Indonesia. Timnas diprediksi cuma unggul dari Nepal.

Perkiraan lain yang agak berbeda, konfigurasi nilai 9-6-3-0. Salah satu di antara Yordania atau Kuwait menang terus, Indonesia tetap berpoin 3, dan Nepal juru kunci.

Sponsored

Atau 7-5-4-0 yang sedikit ajaib. Di mana Indonesia menahan seri Yordania dan Kuwait, lalu keduanya harus bertarung saling mengalahkan. Kalau akhirnya begitu, PSSI bisa lolos ke Piala Asia 2023 sebagai lima besar dari peringkat kedua terbaik. Suatu hal yang sesungguhnya mustahil, belum pernah tercapai sejak PSSI berdiri.

Di atas kertas, empat ialah poin tertinggi yang kemungkinan bisa diraih. Artinya, di peringkat ketiga klasemen akhir. Itu hasil menang atas Nepal, imbang versus Kuwait, dan kalah dari Yordania. Tapi, konon katanya, sepak bola bukan matematika.

Catatan dari putaran kedua Grup B sebelumnya, Yordania-Kuwait bermain kaca mata. Kaca mata itu mungkin akan mereka pakai lagi sambil saling bermain mata. Artinya, untuk mengalahkan duo Arab, level timnas setidaknya harus sejajar menyamai Australia.

Skuad timnas, kalau memang jadi, mengandalkan duet Jordi Amat-Elkan Baggot di jantung pertahanan. Sandy Walsh bek kanan dan Marc Klok sebagai gelandang bertahan. Deret itu cukup menggambarkan pertahanan yang kokoh. Tapi, mereka harus ikut proses latihan bersama dulu. Kuartet bule itu bukan pemain super, tetap saja perlu beradaptasi satu sama lain.

PSSI sudah sering memberi harapan palsu kepada fans Garuda. Amat dan Walsh belum pasti muncul dua pekan lagi. Mungkin hanya Baggot dan Klok yang tersedia untuk bertarung kali ini.

Petar Segrt mengatakan butuh waktu 10 hari latihan idealnya persiapan satu tim menjelang bertanding. Mantan juru taktik timnas Afganistan itu pernah membesut PSM Makassar. Rekam jejaknya sebagai pelatih internasional asal Kroasia berlisensi A-Pro UEFA yang banyak pengalaman di pelbagai klub Jerman. Kata-katanya tak perlu diragukan.  

Pemain asing yang baru dinaturalisasi kelihatan cukup diistimewakan PSSI. Belum sempat berlatih bersama, tapi sudah disambut bak bintang di langit. Tanpa latihan bersama, mereka tak ubahnya pemain cabutan untuk kesebelasan sebuah desa yang siap berlaga tarkam. Tagar "Percaya Proses" milik PSSI niscaya terbukti hanya bualan kalau melihat situasi seperti ini. Bayangan pun tetap sama-samar untuk kalian kembali ke atas panggung Asia lagi.

Berita Lainnya
×
tekid