logo alinea.id logo alinea.id

Dukung Jokowi-Ma'ruf, Bima Arya emoh hengkang dari PAN

Bima menyebut arah perjuangan PAN sebagai partai tengah sudah melenceng.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Kamis, 18 Apr 2019 16:45 WIB
Dukung Jokowi-Ma'ruf, Bima Arya emoh hengkang dari PAN

Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto secara tegas menolak hengkang dari partainya karena telah terang-terangan mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Kalau saya dipecat akan saya perjuangkan. Di partai kan ada mahkamah partai. Saya akan perjuangkan di situ. Saya ikut dirikan PAN, jadi saya tidak akan meninggalkan PAN. Saya akan tetap berjuang di PAN," ujarnya kepada wartawan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/4).

Dua hari sebelum pemungutan suara, Bima mengaku dipanggil oleh Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PAN Eddy Soeparno untuk klarifikasi. Keduanya mempertanyakan dukungan Bima untuk Jokowi-Ma'ruf pada acara yang ia selenggarakan di Puri Begawan Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (12/4) lalu.

Bima mengaku, motif utamanya melawan arus koalisi di internal partai yaitu untuk mempertahankan cita-cita reformasi di tubuh PAN. Menurutnya, PAN yang lahir dari rahim reformasi sudah melenceng arah perjuangannya.

"Saya akan memperjuangkan partai ke arah yang benar. Menurut saya partai ini sudah bergeser dari platform yang merupakan partai tengah, sebagai partai tengah yang menghargai keberagaman, pluralisme. Saya tidak akan keluar dari partai," ujar Wali Kota Bogor itu. 

Meskipun sudah mendengarkan penjelasannya, menurut Bima, partai belum mau mengambil langkah atas sikap politiknya. PAN, kata Bima, tengah sibuk-sibuknya menyiapkan saksi untuk ditempatkan di masing-masing tempat pemungutan suara (TPS).

"Saya sampaikan bahwa pendirian saya seperti apa. Ketum mendengarkan semua penjelasan saya dan menyampaikan masih fokus kepada penghitungan saksi. Jadi, mungkin nanti setelah pilpres," bebernya.

Sebelumnya, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno mengatakan, secara aturan partai, Bima sudah melawan keputusan yang ditentukan PAN melalui rapat kerja nasional (Rakernas). 

Sponsored

"Kalau tidak mau dukung keputusan tersebut mungkin cara menyampaikannya harus berbeda, bukan dengan cara mendukung pihak yang bertentangan dengan keputusan yang sudah kita buat," ujarnya.

Menurut Eddy, alasan yang diungkapkan Bima saat membelot ke kubu Jokowi-Ma'ruf tidak valid. "Apakah itu berbeda dengan reformasi atau tidak, tetapi keputusan ini dari rakernas, pengambilan keputusan tertinggi," tutur Eddy. 

Di Pilpres 2019, PAN bergabung bersama Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan Demokrat mengusung pasangan Prabowo-Sandi. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga sementara ini menunjukkan keunggulan pasangan petahana Jokowi-Ma'ruf.  (Ant)