logo alinea.id logo alinea.id

Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo mengklaim kemenangan berdasarkan real count internal.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
 Prabowo dan halusinasi kuasa

“Saya tegas-tegas di sini menghimbau jangan terpancing, tidak akan kita gunakan cara-cara di luar hukum karena kita sudah menang. Rakyat bersama kita. Ini kemenangan bagi rakyat Indonesia. Saya katakan di sini, saya akan jadi presiden seluruh rakyat Indonesia,” kata calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat konferensi pers deklarasi kemenangannya di kediamannya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4) malam.

Malam itu, tak terlihat calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno. Sandi baru terlibat mendampingi Prabowo ketika deklarasi kemenangan di tempat yang sama pada Kamis (18/4) sore.

Di dalam dua pidato kemenangan tersebut, Prabowo mengklaim meraih 62% suara, mengungguli pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, berdasarkan real count internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Prabowo sendiri tak menyebut nama lembaga survei dan metodologi yang dipakai.

Deklarasi kemenangan ini mengingatkan publik terhadap peristiwa serupa pada Pemilu 2014 lalu. Saat itu, 9 April 2014 sore, bersama tokoh-tokoh yang menjadi koalisinya, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa mengklaim kemenangan atas pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Ia menyatakan menang berdasarkan hasil quick count. Padahal, lembaga survei banyak yang menunjukkan keunggulan bagi pasangan Jokowi-JK, yang akhirnya memang menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019.

Berbanding terbalik

Klaim kemenangan Prabowo itu berbanding terbalik dengan hasil quick count atau hitung cepat sebagian besar lembaga survei. Hingga Kamis (18/4), Charta Politika menunjuk keunggulan pasangan Jokowi-Ma’ruf dengan perolehan 54,32%, sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga sebesar 45,68%.

Indo Barometer juga menunjukkan keunggulan Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,35%, sementara Prabowo-Sandi 45,65%. Indikator Politik Indonesia pun mencatat Jokowi-Ma’ruf unggul, dengan 53,91%. Tiga lembaga survei itu sudah mencapai total suara hampir 100%.

Sedangkan hitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) di dalam situs resminya mencatat Jokowi-Ma’ruf juga unggul terhadap Prabowo-Sandi. Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 memperoleh 57,50%, sementara capres-cawapres nomor urut 02 mendapat 43,50%.

Pendukung pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meluapkan kegembiraannya seusai deklarasi kemenangan Pilpres 2019 di kediaman Prabowo, di Kertanegara, Jakarta, Kamis (18/4). /Antara Foto.

Menanggapi hal ini, juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Arya Mahendra Sinulingga mengatakan, hasil hitungan cepat harus dapat diterima semua pihak dengan lapang dada. Ia mengatakan, meski kubu 01 masih menunggu hasil resmi yang dikeluarkan oleh KPU, tetapi hasil hitung cepat sudah dapat dijadikan acuan.

“Hampir semua lembaga survei yang terdaftar di KPU memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf,” katanya saat dihubungi reporter Alinea.id, Kamis (18/4).

Arya menyindir kubu 02 dengan mengemukakan contoh apa yang terjadi saat Pilkada DKI Jakarta 2017, yang menggunakan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei yang sama dengan pemilihan presiden kali ini.

“Saat itu Agus Yudhoyono langsung mengakui, enggak komplain-komplain. Tahap kedua Anies menang, Ahok langsung terima. Lembaga survei yang sama itu,” katanya.

Apalagi, kata dia, lembaga survei yang dijadikan acuan Prabowo saat pidato kemenangannya, tak jelas apa nama lembaganya. Namun, ketika reporter Alinea.id ingin mengonfirmasi juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, tidak ada jawaban hingga laporan ini diturunkan.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB