sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tetap akur meski berbeda pilihan politik

Perbedaan pilihan politik terkadang membuat konflik di dalam keluarga meruncing.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 16 Apr 2019 20:34 WIB
Tetap akur meski berbeda pilihan politik

Pertarungan pendukung calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno bisa terlihat di media sosial. Terkadang tak hanya sindiran, tetapi juga serangan tajam ke kubu lawan. Pertarungan itu masuk ke wilayah paling domestik: keluarga.

Perbedaan pilihan politik tak jarang membuat konflik memanas di dalam keluarga. Orang tua dan anak tak tegur sapa, suami dan istri tak harmonis. Bahkan, ada yang sampai cerai. Berdasarkan situs Mahkamah Agung (MA), pandangan politik menjadi pemicu perceraian.

Pada 2011 terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia, sebanyak 334 dipantik perbedaan politik antarpasangan. Pada 2013, perceraian terjadi sebanyak 2.094. Sebaran perceraian itu akibat perbedaan pandangan politik, terbanyak di Jawa Timur, saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur.

Namun, ada pula yang berbeda pilihan politik, tetapi tetap harmonis. Misalnya, penyanyi Anang Hermansyah yang berbeda pilihan politik dengan istrinya Ashanty. Anang merupakan anggota DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN), yang merupakan partai koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga.

Sedangkan Ashanty menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Anak sulungnya, Aurelie Hermansyah juga memilih calon 02. Namun, mereka tetap rukun dan saling menghargai.

Selain keluarga Anang, Mitha Mutia juga merasakan keharmonisan dalam perbedaan pilihan. Perempuan asal Padang, Sumatera Barat ini, hidup di tengah keluarga pendukung Prabowo-Sandiaga. Kampung halamannya memang basis suara calon nomor urut 02 itu.

“Keluarga aku mendukung Prabowo semua, kecuali aku sama kakak,” katanya saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (16/4).

Mitha mengatakan, meski berbeda pilihan di antara anggota keluarganya, tetapi tak sampai membuat perpecahan dan konflik. “Paling saling sindir aja,” ujarnya.

Sponsored

Perempuan yang saat ini merantau di Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan e-commerce ini mengatakan, meski tergolong minoritas dalam hal politik di antara keluarganya, ia mengaku tidak segan untuk berdiskusi. Bahkan berdebat dengan anggota keluarganya soal pilihan politik.

Namun, Muthia mengatakan, diskusi dan perdebatan yang terjadi masih dalam taraf wajar. “Terkadang juga sambil ketawa-ketawa gitu, sambil nyindir. Enggak sampai ngotot-ngototan juga,” ucapnya.

Ia menuturkan, orang tuanya tak pernah memaksa anak-anaknya untuk mengikuti pilihan politik mereka. Ketika grup WhatsApp keluarga sedang ramai dengan perbincangan mendukung pasangan calon 02, Mitha memilih diam.

“Daripada nanti ribut dan jadi saling enggak enakan, aku lebih baik ngamatin aja. Enggak menanggapi apa pun,” katanya.

Warga menunjukan jari yang telah dicelupkan ke dalam tinta usai menggunakan hak suaranya saat acara Simulasi Nasional Pemungutan dan Perhitungan Suara Pemilu 2019 di area wisata Goa Selarong, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (9/3). /Antara Foto.

Medsos bisa memantik konflik

Menanggapi hal ini, psikolog Rena Masri mengatakan, perbedaan pilihan dalam sebuah hubungan, entah itu pertemanan atau keluarga, adalah hal yang lumrah. Sebenarnya, kata dia, perbedaan itu bukan hanya saat memilih pemimpin.

“Dalam hubungan dengan pasangan maupun dengan teman pasti muncul perbedaan-perbedaan kan,” katanya saat dihubungi, Selasa (16/4).

Menurut Rena, tinggal bagaimana seseorang menghadapi perbedaan-perbedaan itu dan menyikapinya dengan bijaksana. Rena mengatakan, media sosial menjadi salah satu faktor pemicu kerasnya konflik yang terjadi karena perbedaan pilihan politik, termasuk di dalam keluarga.

Melalui media sosial, kata dia, seseorang bisa menyebarkan data dan fakta soal kebaikan calon pemimpin yang ia dukung, dan menyebarkan keburukan calon lainnya.

“Kita sebenarnya juga tidak tahu kebenarannya, saling memojokan salah satu pasangan. Kita pun kadang membacanya ikut tergugah dan emosi, sehingga memunculkan rasa kesal dan emosi,” tuturnya.

Magister Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia ini melanjutkan, mengonsumsi informasi yang saling memojokan kubu lawan secara terus menerus ikut memengaruhi emosi seseorang. Emosi inilah yang lantas terbawa hingga ke ranah personal, seperti keluarga.

Sementara itu, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito menjelaskan, pola relasi keluarga di Indonesia saat ini tidak lagi seperti dahulu, yang ikatannya sangat kuat dan kaku. Ia mengatakan, relasi dalam keluarga dan hubungan sosial lainnya, termasuk soal politik, telah mengalami pergeseran.

“Apalagi itu diperkuat dengan instrumen media sosial, di mana kapitalisasi informasi begitu cepat,” katanya saat dihubungi, Selasa (16/4).

Arie menuturkan, saat ini preferensi keluarga dalam pilihan politik tak lagi semata-mata didapatkan dari orang tuanya, tetapi juga dari sekolah dan kampus. “Dari lingkungan sosial dia yang lebih luas,” ujarnya.

Agar tak terjadi konflik

Duta Besar Indonesia untuk Cina Djauhari Oratmangun (kiri) beserta istri Sih Elsiwii Oratmangun (tengah) disaksikan Wakil Dubes Listyowati (kanan) mengacungkan jari kelingking kiri yang sudah dicelupkan tinta usai menggunakan hak suaranya di TPS 001 KBRI Beijing, Cina, Minggu (14/4). /Antara Foto.

Sama halnya dengan Rena, Arie pun menilai wajar bila sebuah keluarga tak punya pilihan politik yang sama. Akan tetapi, ia mengatakan, jangan sampai benturan politik yang terjadi di luar lingkungan keluarga malah masuk dan mengintervensi keharmonisan.

“Yang penting keluarga itu harus mengembangkan sistem demokrasi aja, saling menghormati. Dalam pilihan politik itu ada argumentasi, tidak saling menjelek-jelekkan,” kata Arie.

Arie melanjutkan, setiap anggota keluarga mesti bisa membedakan dirinya sebagai warga negara dengan segala preferensi politiknya, dan dirinya sebagai anggota keluarga. Ia tak mempermasalahkan diskusi politik antaranggota keluarga.

“Itu bagian dari pendidikan politik kok, yang penting tidak membakar emosi, yang akhirnya saling merusak,” katanya.

Untuk menjaga hubungan baik antaranggota keluarga yang berbeda pilihan politik, menurutnya, bisa dilakukan dengan mengedepankan pendekatan yang lembut dan kekeluargaan. Hal ini bisa dilakukan dari orang tua, yang membuat pendekatan lebih kultural dan ringan.

“Jadi, tidak usah membawa ketegangan-ketegangan yang ada di media sosial ke ranah keluarga,” ucapnya.

Arie menambahkan, pendekatan yang baik juga bisa dilakukan dengan saling berbagi informasi dan meluruskan hoaks atau berita bohong yang menyebar di dalam keluarga. Ia menyarankan, jangan mudah percaya informasi yang diragukan kebenarannya, dan memulai diskusi dengan kepala dingin.

“Itu cara resolusi konflik, untuk mencegah disintegrasi keluarga,” ujarnya.

Sedangkan menurut Rena Masri, menghindari konflik antaranggota keluarga harus dilakukan dengan kesadaran dari masing-masing anggota keluarga itu. Caranya, kata dia, tetap ada diskusi dengan intonasi rendah dan mengendalikan emosi.

Sama seperti Arie, Rena pun menyarankan tak begitu saja percaya dengan berita yang didapatkan. “Kita kroscek dulu kebenarannya,” ujar Rena.

Terhindar dari konflik keluarga karena berbeda pilihan politik.

Setiap orang, lanjut Rena, harus menghindari perilaku yang negatif, seperti menghasut, merendahkan, dan menyerang pilihan politik anggota keluarga lainnya. Jika berdiskusi, Rena menyarankan, diangkat kelebihan calon pemimpin pilihan anggota keluarga lainnya, ketimbang membahas kekurangannya.

Namun, menurut Rena, hal ini berbeda bila salah satu anggota keluarga punya sifat tak mau mendengar pendapat orang lain, hanya mau didengar. Semestinya anggota keluarga memahami kondisi masing-masing anggota keluarga.

“Kalau ada yang agak fanatik begitu, ia harus mengetahui cara masuknya (komunikasinya) seperti apa,” ujarnya.