logo alinea.id logo alinea.id

Capres jenaka Nurhadi-Aldo bentuk kejenuhan politik

Calon presiden dan wakil presiden fiktif Nurhadi-Aldo belakangan ini meramaikan dunia maya dengan kemunculannya.

Annisa Saumi Sabtu, 05 Jan 2019 19:53 WIB
Capres jenaka Nurhadi-Aldo bentuk kejenuhan politik

Calon presiden dan wakil presiden fiktif Nurhadi-Aldo belakangan ini meramaikan dunia maya dengan kemunculannya. 

Pasangan ini, pada beberapa postingannya di akun instagram @nurhadi_aldo mengaku berasal dari "Koalisi Indonesia Tronjal-tronjol Maha Asyik" dengan nomor urut 10.

Sigit Pamungkas dari Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) mengatakan kemunculan pasangan satir seperti Nurhadi-Aldo merupakan bentuk kejenuhan dalam politik Indonesia.

"Biasanya satir muncul pada saat sebuah proses itu mencapai titik jenuh. Saluran-saluran untuk mengungkapkan kegelisahan sudah tidak didengar atau sudah mampet, maka satir itu yang dipakai," ujar Sigit saat ditemui di Jakarta Pusat, Sabtu (4/1).

Sigit melihat kemunculan Nurhadi-Aldo tersebut sebagai proses menormalkan akal pikir dari masyarakat, kontestan, dan para pendukung calon presiden dan wakil presiden untuk melihat secara lebih rileks fenomena-fenomena politik yang semakin menjadi-jadi.

"Justru dengan cara ini mungkin pesannya akan lebih sampai kepada semua pihak, kepada kontestan, kepada pendukung ataupun publik yang masih terjaga nalar logisnya," ujar Sigit.

Menurut Sigit, kemunculan Nurhadi-Aldo tidak akan berpengaruh terhadap penyelenggaraan Pemilu. "Satir ini justru membuka jembatan agar pihak yang bertarung di Pemilu bisa berkomunikasi lebih rileks," kata Sigit.

Dia melanjutkan, satir politik tersebut bisa dikembangkan lebih jauh dengan menghadirkan aktor-aktor satir yang lain.

Sponsored

"Satir membuka wawasan publik tentang makna dari kontestasi pemilu ini," ujar Sigit. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#McQueenYaQueen #NurhadiAldo2019 #AKMJ #2019dildokontolmahaasyik #tronjaltronjol

A post shared by Nurhadi Aldo (@nurhadi_aldo) on