logo alinea.id logo alinea.id

Demi keadaban demokrasi, Gerindra disarankan tetap oposisi

'Lebih beradab kalau Prabowo berada di luar pemerintahan.'

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Minggu, 04 Agst 2019 23:51 WIB
Demi keadaban demokrasi, Gerindra disarankan tetap oposisi

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani berharap partai politik pengusung pasangan Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 tidak perlu bergabung ke dalam struktur pemerintahan. Menurut dia, demokrasi di Indonesia membutuhkan oposisi yang kuat. 

"Oposisi sebuah keniscayaan di sebuah negara demokrasi dan jika dua kubu ini bergabung maka demokrasi kita tercederai. Lebih beradab kalau Prabowo berada di luar," kata Saiful kantornya di Jalan Cak Ditiro II, Jakarta Pusat, Minggu (4/8).

Sejumlah parpol pengusung Prabowo-Sandi sebelumnya memang santer dikabarkan bakal segera merapat ke koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf. Selain Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat juga diisukan bakal pindah gerbong. 

Di antara partai-partai lain yang diwacanakan bakal pindah gerbong, Saiful mengatakan, Gerindra paling tepat mengomandoi kubu oposisi. 
"Yang strategis untuk demokrasi ke depan yang jadi oposisi itu Gerindra. Kita butuh oposisi," imbuhnya. 

Sponsored

Saiful mengaku heran elite-elite politik Gerindra turut meramaikan wacana pindah gerbong. Padahal, partai yang dinakhodai Prabowo Subianto itu telah jor-joran saat bertarung di Pilpres 2019. Panasnya pertarungan politik bahkan mengakibatkan unjuk rasa yang berujung kerusuhan pada 21-22 Mei.

"Tetapi yang pasti damai itu memang baik, tapi damai bukan dalam satu kubu. Enggak relevan bicara perdamaian kalau dalam satu kubu. Damai hanya relevan kalau berada dua kubu berbeda. Itu ujian keadaban kita," katanya.