sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Gagal deklarasi, Koalisi Perubahan retak?

Pengunduran deklarasi diklaim karena belum menemui titik temu pendamping Anies Baswedan.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 10 Nov 2022 19:34 WIB
Gagal deklarasi, Koalisi Perubahan retak?

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menilai batalnya deklarasi Koalisi Perubahan tak lain karena belum adanya titik temu tentang siapa yang akan diusung menjadi calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Anies Baswedan. Kendati demikian, Koalisi Perubahan diyakini tidak akan retak, sebab adanya kesamaan kepentingan.

Koalisi Perubahan yang terdiri dari Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat sedianya mendeklarasikan capres-cawapres pada hari ini atau tepat di Hari Pahlawan, Kamis (10/11). Namun, hal itu diurungkan karena PKS dan Demokrat belum bersedia.

"Koalisi pendukung Anies masih mencari titik temu, terutama penentuaan kursi cawapres. Paling tidak harus ada yang mengalah. Mungkin saja dengan adanya jaminan sebagai pemimpin koalisi atau jatah menteri yang lebih besar. Ya, deal-dealnya pasti berada di ranah itu," ujar Arifki di Jakarta, Kamis (10/11).

Arifki mengatakan, bahwa ada beberapa penyebab deklarasi Koalisi Perubahan ini gagal pada momentum Hari Pahlawan.

Pertama, Nasdem sudah diuntungkan karena telah mendeklarasikan Anies lebih awal, sedangkan Demokrat dan PKS harus berebut kursi cawapres. Demokrat ingin mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebaliknya PKS ingin menduetkan Anies dengan Ahmad Heryawan atau Aher.

"Kesepakatan ini bisa terlaksana lebih cepat jika salah satu partai mengalah atau menerima tawaran lain sebagai pemimpin koalisi, serta jumlah kursi menteri yang lebih besar jika Koalisi Perubahan menang," ucapnya.

Kedua, Koalisi Perubahan sedang mencari momentum yang tepat untuk melakukan deklarasi. Dengan belum munculnya capres dari PDI Perjuangan (PDIP) dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB/Golkar, PAN, dan PPP), koalisi perubahan tentu menyimpan nama cawapres untuk dikeluarkan pada saat yang tepat, sehingga tetap menjadi bahan percakapan pada momentum punyaknya.

Ketiga, penentuaan nama cawapres tentu juga berhubungan dengan basis wilayah. Dari nama-nama yang muncul sebagai cawapres seperti Ridwan Kamil, Aher, Khofifah Indaparwansa, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, dan AHY berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur sehingga ini menyulitkan capres mencari figur cawapres yang tepat.

Sponsored

Arifki menilai, Koalisi Perubahan ini lebih sibuk ke dalam menemukan titik temu di antara ketiga partai, terutama antara Demokrat dan PKS. Jika pontensi PKS dan Demokrat pindah ke partai lain tentu ini langkah yang sulit.

"Ini tidak hanya menjauhkan pemilihnya dari harapan terhadap figur yang diusung, hal lainnya juga berdampak pada lemah daya tawar PKS dan Demokrat di partai lain karena datangnya belakangan," kata dia.

Kendati demikian, dia menilai Koalisi Perubahan ini sulit untuk retak, dilihat dari sisi kenyamanan PKS dan Demokrat tidak punya pilihan lain kecuali mendukung Anies sebagai capres. Arifki menyebut, di balik dari berbagai kepentingan kedua partai ini untuk mendapatkan efek ekor jas Pemilu 2024, kedua partai itu tentu mempertimbangkan capres yang diusung partainya.

Arifki menegaskan, dampak elektoral dan keinginan untuk memenangkan Pilpres 2024 tentu lebih besar dari berbagai tawaran lain yang cendrung berpotensi merusak koalisi.

"Demokrat dan PKS ini udah puasa kekuasan di dua pemerintahan Jokowi. Tidak mungkin, dalam situasi politik yang masih zuhur. PKS dan Demokrat sudah tergoda untuk membatalkan rencana besarnya di tahun 2024. Jika bergabung dengan koalisi lainnya, PKS dan Demokrat hanya jadi makmum masbuk dalam koalisi politik, meskipun belum punya capres dan cawapres, koalisi lain sudah membangun hubungan emosional sejak lama," kata Arifki.

Sementara, Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat, Andi Arief, memastikan Koalisi Perubahan tetap solid. Bagi dia, hanya upaya tertentu saja yang dapat memisahkan ketiga parpol.

"Hanya 'burung hantu' yang bisa memisahkan koalisi NasDem, Demokrat dan PKS," kata Andi Arief melalui cuitan di Twitternya, seperti dikutip Alinea.id, Kamis (10/11).

Namun, Arief enggan menjelaskan lebih lanjut ihwal sosok burung hantu tersebut. Ia hanya memberikan ciri-ciri dari burung hantu itu, yakni dia selalu bekerja dalam gelap sifatnya amat buas.

"Burung hantu, burung yang bekerjanya malam dan buas. Hanya itu yang bisa memisahkan koalisi perubahan dan perbaikan. Biasanya yang mengerti spesial di hutan. Yang biasa bekerja dalam gelap," katanya.

Berita Lainnya
×
tekid