sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IPO: Menaker Ida Fauziyah dan Menkumham Yasonna Laoly paling layak direshuffle

Survei ini menggunakan metode pengukuran uji kesalahan (sampling error) 2,50%.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Sabtu, 10 Apr 2021 14:03 WIB
IPO: Menaker Ida Fauziyah dan Menkumham Yasonna Laoly paling layak direshuffle

Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menyebutkan, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, dianggap paling layak di reshuffle (dirombak) dalam Kabinet Indonesia Maju.

Penilaian responden tersebut berdasarkan urgensi pergantian menteri jilid II di bidang ekonomi. Di mana sebesar 46% responden menyatakan, Ida Fauziyah paling diharapkan direshuffle. Disusul Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki 28,5%, serta Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo 27%.

Di bidang politik, hukum, dan keamanan, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly paling diharapkan di reshuffle atau 54%. Disusul, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo 34%, serta Menteri Komunikasi dan Informatik Johny G Plate.

Di bidang maritim dan investasi, Menteri Perikanan dan Kelautan Sakti Wahyu Trenggono paling diharapkan di reshuffle atau 30,5%. Disusul, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya 23,8%, serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif 19%.

Di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainuddin Amali paling diharapkan di reshuffle atau 41,2%. Disusul kemudian, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati 15%, serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar 12,4%.

“Ini kalau diasumsikan atau dikaji lebih dalam adalah nama-nama yang berkaitan dengan program-program selama pandemi. Misalnya, ibu Ida Fauziyah yang mengurusi tenaga kerja,” ujar Direktur IPO Dedi Kurnia Syah dalam diskusi virtual, Sabtu (10/4).

Ia pun mengungkapkan, banyak responden menilai program Kartu Prakerja tidak tepat sasaran dan tidak efektif. Hanya 23% responden yang menganggap program Kartu Prakerja tepat sasaran. Kemudian, 32% responden menyatakan efektif. Sisanya, 44% responden menyatakan tidak efektif.

Survei IPO ini dilakukan dalam periode 10 hingga 22 Maret 2021. Survei ini menggunakan metode pengukuran uji kesalahan (sampling error) 2,50%, dengan tingkat akurasi data 97%. Seting pengambilan sample menggunakan teknik multistage random sampling (pengambilan sampel bertingkat. Survei ini mengambil representasi sampel sejumlah 1.200 sampel yang tersebar secara proporsional pada seluruh provinsi di Indonesia

Sponsored
Berita Lainnya