sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mardani PKS sedih Prabowo-Sandi gabung Kabinet Jokowi

Mardani menilai wajar bila saat ini publik semakin apatis terhadap parpol.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Selasa, 29 Des 2020 17:05 WIB
Mardani PKS sedih Prabowo-Sandi gabung Kabinet Jokowi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS), Mardani Ali Sera merasa sedih terhadap keputusan Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto menerima pinangan Presiden Joko Widodo untuk menjadi menteri.

Menurut Mardani, masuknya kedua elite Gerindra yang menjadi rival Jokowi di ajang Pilpres 2019 ke dalam lingkaran pemerintah, semakin merapuhkan nilai-nilai demokrasi.

"Saya lebih sedih lagi, ketika Pak Prabowo dan Bang Sandi masuk ke dalam pemerintahan. Ini no hard feelling. Ini tidak ada baper (bawa perasaan). Tidak ada. Tetapi saya berfikir, demokrasi perlu diperkuat dengan ada kelompok penyeimbang yang kokoh," kata Mardani, dalam acara rilis survei bertajuk "Sentimen Publik Nasionam Terhadap Kondisi Ekonomi-Politik 2020 dan 2021," secara virtual, Selasa (29/12).

Demokrasi, jelas dia, merupakan kompetisi dan meniscayakan perbedaan yang harus difasilitasi, bukan kesatuan yang dipaksakan.

"Boleh saja Pak Prabowo dan Bang Sandi gabung misal. Tetapi ini dampaknya terhadap (rakyat), saya sebutnya fireback gitu ya, ngapain kompetisi politik lagi, hasilnya begini kok," tutur dia.

Padahal, Mardani mengaku sudah tegas menyatakan pada para pendukung Prabowo-Sandi saat Pilpres 2019 untuk menjadi oposisi sejak awal. Menurutnya, semakin minoritas oposisi di iklim politik Indonesia, maka akan menyulitkan penyeimbang dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Dia khawatir, produk kebijakan pemerintah ke depan akan semakin berjarak pada rakyat. "Kalau voting 8:1 atau 7:2 gitu loh. Ya kalah terus," katanya.

Dengan demikian, Mardani menilai wajar bila saat ini publik semakin apatis terhadap capres dan partai politik, seperti tergambar dalam hasil survei Saiful Mujani Researvh & Consulting (SMRC).

Sponsored

Diketahui, hasil survei SMRC mencatat bahwa wabah Covid-19 membuat masyarakat apatis terhadap pemilihan presiden. Dalam salinan data yang diterima Alinea, terdapat kenaikan tingkat apatisme warga pascaDesember 2020 sebanyak 31,5%. Sebelumnya pada Maret 2020 hanya 23,8%.

Pandemi Covid-19 juga membuat warga apatis terhadap partai politik sebanyak 30,7%. Persentase ini meningkat dari sebelumnya Maret 2020 yaitu 21,9%.

"Dari temuan ini, buat saya ini alarm," tegas Mardani.

"Kalau saya kaitkan dengan pertemuan Burhanudin Muhtadi, korban terbesar Covid-19 demokrasi kita. Ketika sudahlah ekonomi membuat masyarakat tidak terlalu tertarik, ternyata kami aktor politik juga tidak memberikan contoh, etika, logika mesti dikedepankan dalam politik gitu," pungkasnya.

Survei SMRC itu dilakukan via telepon. Pengambilan data melalui wawancara melalui telepon dilakukan sejak April 2020. Hasil survei, diupdate terakhir pada 23-26 Desember 2020. Jumlah responden survei 1.202, margin of error sekitar 2,9%, dan tingkat kepercayaan mencapai 95%.

Berita Lainnya