sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menimbang duet Anies-Puan di Pilpres 2024

Dari selera, Puan sepertinya lebih nyaman dan menguntungkan berpasangan dengan Anies Baswedan dibandingkan Prabowo Subianto

Marselinus Gual
Marselinus Gual Kamis, 21 Apr 2022 10:43 WIB
Menimbang duet Anies-Puan di Pilpres 2024

Ketua DPR Puan Maharani menyatakan, siap maju menjadi calon presiden saat ditanya Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertanyaan yang sama diutarakan Jokowi kepada empat menteri di kabinet pemerintahan.

Hal itu diungkap politikus senior PDI Perjuangan Panda Nababan, dalam sebuah wawancara di akun YouTube salah satu media beberapa waktu lalu. 

Keempat menteri itu ialah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. 

Dari keempat menteri yang dipanggil, tiga menteri menyatakan siap maju. Hanya Prabowo Subianto yang menjawab atas izin Jokowi.

Direktur Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menyebut, posisi Puan untuk pencalonan sangat potensial dan tidak ada saingan sama sekali dari internal partainya, PDI Perjuangan.

Menurutnya, meskipun terdapat nama Ganjar Pranowo muncul sebagai saingan kuat Puan untuk calon Presiden, namun nasib Gubernur Jawa Tengah itu tidak seberuntung seperti Presiden Jokowi. Kata dia, apabila Ganjar masih ngotot bersaing dengan Puan, bukan tidak mungkin ia didepak dari partai berlambang banteng bermoncong putih itu.

"Nasib Ganjar Pranowo bakalan dicuekin PDIP walaupun elektabilitas Ganjar Pranowo sangat tinggi dibandingkan Puan. Sebentar lagi Ganjar akan ditampar partai sendiri, disuruh pergi jauh meninggalkan PDIP jika ingin tetap bersaing dengan Puan," ujar Uchok dalam keterangannya.

Jika Ganjar didepak, lanjut Uchok, dengan demikian hanya tinggal Puan sendirian yang dipersiapkan PDIP. Puan tentunya menimbang-nimbang, mencari atau memilih calon pasangan yang cocok untuk disandingkan denganya. Uchok berpendapat, calon itu bisa saja Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Sponsored

"Kedua calon pasangan ini, salah satunya layak disandingkan dengan Puan. Apalagi kedua calon pasangan Puan ini mempunyai elektabilitas yang tinggi untuk memenangkan Puan sebagai presiden atau wakil presiden," ujar Uchok.

Menurut Uchok, dari selera, Puan sepertinya lebih nyaman dan menguntungkan berpasangan dengan Anies Baswedan dibandingkan Prabowo Subianto. Kata dia, ketika Puan berpasangan dengan Anies, Puan bisa memilih sebagai nomor satu atau menjadi calon presiden. Namun, ketika berpasangan dengan Prabowo, Puan harus puas hanya sebagai wakil presiden.

Selain itu, lanjut Uchok, ketika Puan sudah berpasangan dengan Anies, maka Anies diharapkan bisa sebagai magnet yang menarik kaum oposisi dan massa Islam politik atau Islam radikal untuk masuk ke dalam barisan koalisi Puan-Anies tersebut. 

"Dengan modal massa Islam ini, dan akan ditambah dengan massa PDIP, diprediksi mereka bisa menang dalam Pilpres 2024," tegas Uchok.

Uchok mengatakan, Puan memilih Anies Bawesdan sebagai pasangannya di Pilpres 2024 punya alasan yang kuat. Anies dianggap sebagai ikon oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Selain itu, kaum oposisi dan Islam politik menganggap Anies satu-satunya gubernur yang berani melawan pemerintahan Jokowi. 

"Dengan alasan inilah, mereka sangat mengidola Anies dibandingkan Prabowo sebagai presiden selanjutnya untuk mengantikan Presiden Jokowi," katanya.

Adapun Prabowo, kata Uchok, dianggap oleh kaum oposisi dan Islam politik sudah bunuh diri politik setelah menjadi menteri Jokowi. Dia menilai Prabowo lebih mengejar jabatan menteri daripada menjadi pemimpin untuk mengontrol jalannya kekuasaan Pemerintahan Jokowi. 

"Makanya banyak dari mereka lari atau meninggalkan Prabowo, dan lalu mendekati dan mengangkat Anies sebagai pemimpin mereka," ucap dia.

Dia mengatakan, dengan pertimbangan Anies lebih dekat dengan kaum oposisi dan Islam politik, Puan sepertinya lebih memilih Anies dibandingkan Prabowo. Prabowo dianggap sudah ditinggalin massa Islam politik sebagai pendukung utama. Dan massa Islam politik tersebut sudah menjadi pendukung fanatik Anies Bawesdan.

"Dan ketika persekutuan Puan-Anies Sudah terbentuk,  maka hal ini menjadi fenomena luar biasa dalam politik. Sekali lagi, betul betul luar biasa bisa menyatuhkan massa pendukung Puan dan Anies dalam bingkai kepentingan bersama. Padahal sebelumnya kedua massa pendukung ini adalah musuh bebuyutan dalam politik pratisi yang tidak bisa didamaikan," ujar Uchok.

Uchok menambahkan, musuh Islam politik ialah PDIP itu sendiri, bukan pribadi Presiden Jokowi. Ketika Jokowi salah dalam kebijakannya, yang diolok-olok atau disalahkan oleh kaum Islam politik bukan Jokowi. "Tetapi kalau tidak Ibu Megawati Soekarnoputri, ya bisa partai PDI Perjuangan sendiri," kata Uchok.

Dengan demikian, tegas Uchok, menyatuhkan massa Puan dengan Anies seperti mempertemukan air dan minyak yang tidak akan bersatu selamanya dalam dunia politik persilatan. Namun demikian, kata Uchok, jika duet Puan-Anies ini terwujud, yang bisa terjadi adalah massa Islam politik akan meninggalkan Anies dan kembali mendukung Prabowo. 

"Tetapi, kalau ingin ngotot mempersatukan Puan-Anies di KPU, maka prediksi yang terjadi adalah massa Islam politik akan kabur meninggalkan Anies Bawesdan dan Puan Maharani, dan akan kembali lagi mendukung Prabowo lagi," pungkasnya. 

Berita Lainnya