close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Dewan Pembina sekaligus bekas Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, saat menyampaikan pernyataan pers menanggapi Musyawarah Nasional III Partai Hanura. Alinea.id/Fadli Mubarok
icon caption
Dewan Pembina sekaligus bekas Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, saat menyampaikan pernyataan pers menanggapi Musyawarah Nasional III Partai Hanura. Alinea.id/Fadli Mubarok
Politik
Rabu, 18 Desember 2019 21:49

OSO vs Wiranto: Berebut kuasa di Partai Hanura

Wajah Wiranto sendu. Sebagai pendiri Partai Hati Nurani Rakyat, Wiranto tampak sedih melihat kondisi terakhir.
swipe

Wajah Wiranto sendu. Sebagai pendiri Partai Hati Nurani Rakyat, Wiranto tampak sedih melihat kondisi terkahir.

Mantan Panglima TNI itu menyayangkan konflik yang terjadi dalam tubuh Partai Hanura. Menurut dia, tidak seharusnya Partai Hanura saling berseteru lantaran sudah belasan tahun berdiri melalui kerja keras bersama.

Wiranto mengisahkan susah payahnya ia membangun partai tersebut dari nol. Dikatakannya, Partai Hanura didirikan secara sehat. Wiranto sangat menginginkan anggotanya berbasis hati nurani dalam berjuang, agar terbentuk karakter pemimpin yang jujur.

"Maka saya namakan Partai Hanura dengan basis hati nurani. Setiap kader partai Hanura, saya didik untuk menjadi pemimpin yang tidak bohong kepada rakyat, korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, serta dapat menjadi teladan baik karena berlandaksan hati nurani yang vertikal kepada Allah SWT," tutur Wiranto di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Rabu (18/12).

Wiranto amat bersyukur, seiring berjalannya waktu, Partai Hanura mendapatkan perhatian positif dari masyarakat. Buktinya, pada Pemilu 2009 dan 2014, partai tersebut mendapatkan hasil yang cukup baik.

Artinya, kata Wiranto, partai yang ia dirikan memang organik. Semua terbangun baik karena didukung oleh rakyat, tidak dengan uang.

Namun demikian, Wiranto menyesali adanya masalah yang didramatisir oleh beberapa pihak. Ia juga menyayangkan berbagai macam tuduhan yang datang kepada dirinya.

"Saudara, pada saat saya serahkan jabatan kepada Pak Oesman Sapta Odang (OSO), timbul isu saya jual partai, dapat Rp200 miliar. Saudara, saya tegaskan, di sini saya tidak mendapatkan sepeser pun dari Pak OSO. Bahkan saya larang OSO memberikan uang dalam Munaslub 2018 lalu," terang Wiranto.

Menurut Wiranto, sebagai pendiri, ia tidak akan tega menjual apa yang sudah ia bangun kepada pihak mana pun. Oleh karena itu, dirinya mengaku sangat menyesali akan tuduhan itu.

Ditambah, isu kekalahan Partai Hanura di Pemilu 2019 karena dirinya. Bagi Wiranto, tidak akan tega dirinya membuat Partai Hanura kalah dalam Pemilu 2019.

"Saudara, selama ini saya tidak banyak bicara tentang Partai Hanura. Karena setiap saya bicara, kemudian disambut dengan satu sikap bermusuhan. Ini sangat saya sayangkan. Oleh karena itu saya bicara saat ini bukan untuk berkonflik," ungkap Wiranto.

Bahkan, Wiranto mengaku sempat berusaha untuk meredam konflik yang muncul di tubuh Partai Hanura sejak OSO menjabat sebagai Ketua Umum per 2018, yang ditetapkan lewat amanat Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bambu Apus, Jakarta Timur.

Awalnya, OSO mengubah beberapa materi AD/ART Partai Hanura, dan kemudian tidak disenangi oleh banyak anggota partai. Namun, banyak pula yang menuduh Wiranto telah merekayasa semuanya karena ia saat itu sebagai Dewan Pembina.

"Saya datang dengan Pak Subagio untuk damai, tapi tidak berhasil. Jadi bukan saya merekayasa, tapi saya tidak bisa berlaku tidak adil. Dalam partai, ketidakcocokan kepada ketua umum itu boleh, tapi tidak boleh diselesaikan tidak demokratis. Jadi saya tidak pernah ikut turun konflik," ucap dia.

Wiranto juga tidak terima jika dirinya sempat dituduh memakai uang partai untuk pribadi, bahkan hingga dituduh sebagai pengkhianat partai. Pasalnya, ia sendiri yang membiyai partai dari nol, sebelum mengikuti pemilu.

"Yang ngomong itu mereka yang dulu saya pecat, mereka diaktifkan kembali. Itu pun saya diam saja. Saya serahkan kepada Allah. Tuhan tidak pernah tidur," tegas Wiranto.

Lebih jauh, ia juga kecewa lantaran dirinya tidak diundang dalam Munas yang diadakan Partai Hanura kubu OSO sejak Selasa (17/12) kemarin. Etisnya, selaku Dewan Pembina dan pendiri partai, OSO mengundang dirinya untuk hadir.

Walau ia tidak merasa sakit hati, keputusan OSO tersebut dianggap aneh oleh Wiranto. Apalagi alasan OSO tidak mengundang Wiranto, karena tidak ada struktur Dewan Pembina berdasarkan Munas di Solo pada 2015.

"Saya bertanya, alasannya ini sesuai AD/ART Munas Solo. Di sana memang sesuai AD/ART tidak ada Dewan Pembina, sehingga saya tidak perlu diundang. Tapi ingat, hasil Munas di Solo, ketua umumnya masih saya. Jadi ini bagaimana?" urai Wiranto.

Oesman Sapta Odang (OSO) kembali terpilih sebagai Ketua Umum Partai Hanura secara aklamasi. / Antara Foto

Harus berdamai

Oesman Sapta Odang (OSO) dipilih kembali menjadi Ketua Umum Partai Hanura untuk periode 2019-2024. OSO dipilih secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional (Munas) III Partai Hanura yang dilaksanakan di Jakarta pada Selasa (17/12).

Kendati demikian, keterpilihan OSO ini dinilai akan mengulang kembali keterpurukan Partai Hanura, sebagaimana Pemilu 2019. Dalam pemilu kemarin, Partai Hanura gagal lolos ambang batas parlemen lantaran hanya mendapat 2.161.507 suara atau 1,54% dalam pileg, jauh dari ambang batas lolos ke DPR RI sebesar 4%.

"Nasib Partai Hanura (era OSO) kan sudah sangat terlihat. Kan yang paling representatif menjelaskan nasib Partai Hanura itu hasil pemilu. Sekarang hasilnya begitu, artinya itulah hasilnya. Tergantung siapa saja yang memaknai itu, tapi itulah hasilnya," kata Koordinator Lingkar Masyarakat Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti, saat dihubungi Alinea.id secara terpisah.

Menurut Ray, bisa jadi kekalahan akan menimpa Partai Hanura kembali, jika OSO menjadi nakhodanya. Apalagi keterpilihan OSO diikuti konflik internal, yang berakar dari tidak sukanya beberapa anggota parpol dan elite atas keterpilihannya kembali.

Ray menyinggung masalah penolakan hasil Munas III yang ditolak oleh para loyalis Mantan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura Wiranto. Selain itu, ada juga desakan untuk OSO turun dari Wiranto karena dianggap gagal memberikan hasil positif dalam Pemilu 2019.

"Tentu kalau mereka dalam kondisi sekarang, rentan perpecahan, itu tentu bisa akan berakibat pada hasil perolehan Pilkada atau Pemilu 2024," ujar Ray.

Dikatakan Ray, adanya konflik internal dalam Partai Hanura dengan sendirinya dapat melemahkan kemapuan tawar menawar mereka dengan partai politik lain. Tentunya, tambah Ray, konflik itu dapat mengurangi kekuatan Partai Hanura.

Oleh sebab itu, Ray memberi masukan sebaiknya antara OSO dan Wiranto mau saling berkompromi, jika ingin menyelamatkan Partai Hanura. Ray mengatakan, mementingkan ego sendiri bukan menjadi jalan keluar atas permasalahan yang tengah mereka hadapi.

"Dua-duanya kalau main ego, sulit. OSO sulit untuk mundur karena nyatanya banyak yang pilih dia secara aklamasi, dan Partai Hanura dia versi Kemenkum HAM. Sedangkan OSO juga sulit tanpa Wiranto karena dia punya daya tawar sendiri untuk partai," paparnya.

Mau tidak mau, keduanya harus berdamai dan menemukan jalan tengah. Semuanya demi kelangsungan Partai Hanura.

Diterangkan Ray, Partai Hanura masih memiliki kesempatan untuk bangkit kembali, jika mereka berdua mau bersatu. Akan tetapi jika tidak demikian, pascahasil Pemilu 2024, elektabilitas partai tersebut kemungkinan tidak bisa tertolong. 

img
Fadli Mubarok
Reporter
img
Sukirno
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan