sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Desak pemerintah siapkan anggaran vaksin, PKS singgung dana untuk suntik Jiwasraya

Pemerintah didesak segera menyusun dan mengesahkan Perpres vaksinasi.

Fathor Rasi
Fathor Rasi Jumat, 02 Okt 2020 20:13 WIB
Desak pemerintah siapkan anggaran vaksin, PKS singgung dana untuk suntik Jiwasraya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 404.048
Dirawat 60.569
Meninggal 13.701
Sembuh 329.778

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendesak PT Bio Farma segera membayar Rp24 triliun kepada perusahaan Sinovac asal Cina sebagai bentuk kelanjutan kerja sama pengadaan vaksin di Indonesia.

Politisi PKS ini meminta pemerintah segera menyiapkan anggaran tersebut mengingat mendesaknya kebutuhan vaksin Covid-19 di Indonesia.

"Pemerintah harus  menyelesaikan pembayaran agar proses vaksinasi dapat segera dilakukan. Ini untuk jaminan keselamatan rakyat, jadi harus diprioritaskan. Jangan sampai pemerintah bisa menyuntik PT BPUI (Bahana Pembinaan Usaha Indonesia) untuk Jiwasraya sebesar Rp20 triliun, tapi untuk kepentingan kesehatan justru belum disiapkan," Kata Netty dalam keterangan media, Jumat (02/10/2020).

Netty juga mendesak pemerintah agar segera menyusun dan mengesahkan Perpres vaksinasi agar dapat segera diimplementasikan. 

"Lahirnya perpres vaksin sangat mendesak, agar proses vaksinasi dapat segera dilakukan terhadap 170 juta rakyat Indonesia. Apalagi Presiden sudah memberikan instruksi bahwa perpres harus sudah selesai dalam waktu dua minggu, terhitung sejak Senin yang lalu." ujarnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS ini mengingatkan, jangan sampai yang terjadi adalah proses yang berlarut-larut dan tidak pasti.

"Karena rakyat sedang menanti langkah konkret pemerintah dalam menangani Covid-19. Pemerintah dalam hal ini Kemenkes yang seharusnya menjadi leading sector harus bisa bergerak cepat dan jangan 'lola', karena sampai saat ini setiap harinya kasus positif baru terus memecahkan rekor," tambahnya.

Netty juga meminta Bio Farma bekerjasama dengan perusahaan lain guna memenuhi kebutuhan vaksin. Menurut standar WHO, setidaknya 70% penduduk atau sekitar 170 juta orang Indonesia harus divaksin sebanyak dua kali penyuntikan.

Sponsored

"Kapasitas Bio Farma hanya sanggup produksi 250 juta per tahun, jadi harus berkolaborasi dengan perusahaan lain guna memenuhi kebutuhan vaksin di tanah air," ujarnya.

Untuk menguatkan ketahanan kesehatan nasional, legislator asal Jawa Barat ini meminta pemerintah memiliki kemandirian dalam tata kelola obat dan vaksin agar tidak selamanya bergantung pada negara lain.

"Apa kabar Vaksin Merah Putih, apa kabar obat Covid yang sedang diteliti UNAIR dan TNI AD? Bagaimana perkembangannya sampai sekarang? Publik menanti  kabar gembira suksesnya karya anak bangsa. Jangan sampai ini sekadar gimick untuk menambal ketidakmampuan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 di tanah air," pungkasnya.

Berita Lainnya