sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

40% pemimpin bisnis di dunia kekurangan pekerja terampil

Kesenjangan keterampilan secara global yang diperkirakan akan semakin memburuk ini, sudah berdampak pada bisnis

Hermansah
Hermansah Minggu, 03 Feb 2019 10:11 WIB
40% pemimpin bisnis di dunia kekurangan pekerja terampil

Bisnis di Asia Pasifik dan global mengalami kesenjangan tenaga terampil yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang perusahaan. Menurut Laporan International Business Report Grant Thornton, 40% pemimpin bisnis di seluruh dunia kekurangan pekerja terampil hingga menjadi kendala bagi pertumbuhan perusahaan. 

Beberapa industri menunjukkan peningkatan intensitas kegiatan yang diiringi kebutuhan pekerja terampil yang membeludak. Grant Thornton melihat kesenjangan keterampilan khususnya di antara para pekerja baru.

Kesenjangan keterampilan secara global yang diperkirakan akan semakin memburuk ini, sudah berdampak pada bisnis. Beberapa perusahaan tidak dapat tumbuh karena mereka tidak dapat meningkatkan keterampilan karyawan mereka yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi untuk menghasilkan lebih banyak barang atau jasa.

Beberapa faktor yang mendorong tren ini, di antaranya adalah populasi yang kian menua dan jumlah angkatan kerja yang menurun di berbagai negara. Pemerintah Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai target RKP (Rencana Kerja Pemerintah) tahun 2019 dengan target menyediakan lahan pekerjaan untuk 2 juta orang atau 5,2-5,6% lebih besar dari tahun sebelumnya.

Dengan semakin banyaknya para pekerja baru sedangkan teknologi berkembang semakin pesat, membuat bisnis berada di bawah tekanan yang lebih tinggi untuk memperoleh pekerja terampil untuk mendukung perkembangan seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), otomasi, dan teknologi blockchain.

Dapatkah teknologi memperkecil kesenjangan keterampilan?

Ironisnya, teknologi adalah penyebab dan—dan setidaknya menjadi bagian dari —solusi untuk kesenjangan keterampilan. Seiring meningkatnya kebutuhan akan tenaga terampil, investasi dalam inovasi dan solusi bisnis baru juga meningkat.

Adanya teknologi dapat mengatasi dampak kekurangan tenaga terampil di sebagian besar sektor bisnis termasuk keuangan, akuntansi, pemasaran, dan di sektor manufaktur dan logistik. Manfaat lainnya adalah karyawan yang ada jadi memiliki lebih banyak kesempatan untuk menambah nilai mereka di area yang tidak dapat dilakukan mesin, otomatisasi dan teknologi. 

Sponsored

Dengan integrasi teknologi dan artificial intelligence, pebisnis dapat memprediksi inventaris yang optimal untuk masing-masing produk mereka. Mereka mengotomatiskan pengambilan keputusan pemasok yang akan dipakai, untuk produk apa saja, dan berapa banyak yang perlu dibeli.

Otomatisasi ini mengurangi beban kerja tim, sehingga mereka dapat fokus pada tugas-tugas lain yang lebih rumit seperti mencari produk baru. Artificial intelligence membantu dunia usaha mengatasi kesenjangan keterampilan melalui otomatisasi pengambilan keputusan dan membantu interaksi manusia dengan mesin dalam operasi sehari-hari.

Namun meskipun solusi baru dapat dicari untuk memenuhi kebutuhan bisnis, Grant Thornton tetap menekankan pentingnya program pembelajaran dan pengembangan keterampilan karyawan. 

Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, mengatakan pendekatan konvensional untuk mengembangkan kompetensi pekerja masih mutlak dibutuhkan di dunia kerja. Baik bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja maupun mereka yang sudah berpengalaman, "hal ini kami yakini akan membantu kesenjangan keterampilan di berbagai level pekerja,” tutur dia dalam keterangan tertulisnya 

Karyawan perlu menyadari perlunya belajar sepanjang perjalanan karir mereka dan menjaga keterampilan untuk tetap relevan dengan dunia bisnis saat ini. 

"Pekerja, proses dan teknologi adalah tiga faktor yang saling terintegrasi dan menggerakkan perusahaan, jika pelaku bisnis mampu menyeleraskan pengembangan ketiganya, kesenjangan keterampilan akan mampu diatasi.” pungkas Johanna. 
 

Berita Lainnya