sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AP II prediksi jumlah penumpang pesawat turun 18% pada 2019

Kondisi perekonomian yang mengalami perlambatan berdampak kepada penurunan jumlah penumpang.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Minggu, 22 Des 2019 15:35 WIB
AP II prediksi jumlah penumpang pesawat turun 18% pada 2019

PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II memperkirakan hingga akhir 2019 terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat sebesar 18% di 16 bandara yang dikelola dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin memaparkan pada 2019 jumlah penumpang diperkirakan hanya mencapai 90,5 juta orang, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai 112 juta penumpang.

"Sampai akhir 2019 kita perkirakan ada penurunan penumpang 18% atau sebesar 90,5 juta orang," katanya di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Minggu (22/12).

Penurunan jumlah penumpang tersebut terlihat di Bandara Soetta yang hanya mencapai 54,2 juta orang hingga awal Desember 2019. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 65,6 juta orang.

Padahal, kata Awaluddin, Bandara Soetta merupakan salah satu bandara terpadat yang biasanya menyumbang jumlah penumpang terbanyak dibandingkan dengan bandara lainnya.

Awaluddin menjelaskan, penurunan tersebut juga didorong oleh kondisi perekonomian yang mengalami perlambatan sehingga berdampak kepada penurunan jumlah penumpang dari domestik dan mancanegara.

Dari kondisi domestik, ujarnya, penurunan didorong oleh semakin beragamnya transportasi alternatif yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Selain itu, berjalannya proyek infrastruktur seperti tol dan kereta cepat menjadi faktor yang mempengaruhi.

"Masyarakat sekarang sudah punya banyak pilihan alternatif transportasi. Kita sedang mengamati itu," ujarnya.

Sponsored

Dia juga menjelaskan, saat ini sudah tercipta keseimbangan baru, di mana semua transportasi publik baik darat, laut, dan udara mulai membaik. Namun, dia masih optimistis transportasi udara akan tetap jadi primadona ke depan.

"Ini yang kita sebut new normal, atau normal yang baru. Semua transportasi publik akan saling tumbuh dan masyarakat punya banyak pilihan," ucapnya.

Berita Lainnya