logo alinea.id logo alinea.id

BI: Pariwisata jalan cepat atasi defisit transaksi berjalan

Bank Indonesia menyebutkan salah satu jalan tercepat untuk mengatasi persoalan defisit transaksi berjalan adalah pariwisata.

Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 08 Feb 2019 23:25 WIB
BI: Pariwisata jalan cepat atasi defisit transaksi berjalan

Bank Indonesia menyebutkan salah satu jalan tercepat untuk mengatasi persoalan defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD), adalah pariwisata. 

Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Yati Kurniati mengatakan, devisa hasil ekspor (DHE) yang berasal dari pariwisata meningkat setiap tahunnya. 

"Pemasukan devisa dari pariwisata totalnya mencapai US$14,1 miliar di 2018, meningkat dari tahun lalu," kata Yati dikantornya, Jumat (8/2). 

Dari data BI, pendapatan DHE pariwisata pada 2015 sebesar US$10,7 miliar, kemudian pada 2016 naik menjadi US$12,2 miliar. Sementara pada 2017 sebesar US$13,1 miliar. 

"Memang pariwisata quick win, segera kelihatan hasilnya. Kemudian yang signifikan lagi (menekan CAD) di manufaktur," imbuhnya. 

Seperti diketahui, CAD Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit sebesar US$31,1 miliar atau 2,98% terhadap produk domestik bruto (PDB). Secara nominal, CAD tersebut terbesar sejak 2015. 

Secara lebih rinci, CAD pada 2015, defisit sebesar US$17,5 miliar atau 2,3% terhadap PDB. Lalu pada 2016 CAD mengalami defisit sebesar US$16,3 miliar atau 1,75% terhadap PDB. Juga pada 2017, CAD mengalami defisit sebesar US$16,2 miliar atau 1,6% terhadap PDB. 

Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh impor nonmigas yang tinggi, khususnya bahan baku dan barang modal.

Sponsored

Menurut Yati, untuk mengatasi CAD ke depan terbilang cukup berat. Terutama dari kegiatan ekspor dan dari adanya perlambatan ekonomi global, serta harga komoditas yang diperkirakan masih terus turun. 

"Transaksi berjalan tetap defisit, dan kita masih melihat beberapa perkembangan terakhir lagi, apakah ada tanda-tanda rebound untuk komoditas ekspor utama," ujar dia. 

Diharapkan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, seperti Paket Kebijakan Ekonomi ke-16, penerapan B20, pariwisata, dan beberapa kebijakan untuk otomotif, bisa membantu impor barang primer melambat. 

Kebijakan itu juga diharapkan dapat membantu mendorong kinerja ekspor manufaktur dan jasa-jasa, terutama pariwisata. 

"Itu compensate (mengimbangi) neraca barang-barang primer, diimbangi oleh ekspor manufaktur dan jasa. Itu diharapkan bisa dapat segera terealisasi untuk mendorong ekspor yang lebih baik. Sehingga over all, transkasi berjalan 2019 bisa lebih baik dari kondisi sekarang," paparnya. 

Yati optimistis CAD pada 2019 bisa lebih rendah dari yang ada saat ini, yakni bisa mendekati 2,5% terhadap PDB. 

Cinta bersemi dari aplikasi

Cinta bersemi dari aplikasi

Jumat, 15 Feb 2019 12:59 WIB