logo alinea.id logo alinea.id

CAD bengkak, BI yakin akhir tahun 2,5%-3%

Bank Indonesia (BI) optimistis defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akhir tahun berada pada 2,5%-3% dari PDB.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Minggu, 11 Agst 2019 18:18 WIB
CAD bengkak, BI yakin akhir tahun 2,5%-3%

Bank Indonesia (BI) optimistis defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akhir tahun berada pada 2,5%-3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meskipun memang pada kuartal II-2019, CAD membengkak hingga 3,04% dari PDB senilai US$8,44 miliar.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, untuk meredam CAD, BI sebagai otoritas moneter akan menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga likuiditas. 

"Likuiditas dari dolar Amerika Serikat ada di market, karena tentunya kalau kita mau mendorong ekspor dan meredam impor, hal yang sangat menentukan adalah stabilitas dari nilai tukar," ujar Destry di kompleks kantor BI Pusat, Jakarta, Minggu (11/8). 

Defisit yang melebar pada kuartal II-2019, terjadi karena penurunan kinerja ekspor ditambah faktor musiman repatriasi dividen atau pembagian keuntungan perusahaan ke luar negeri. 

Statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode kuartal II-2019 mencatat, kenaikan defisit transaksi berjalan dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan harga komoditas yang turun.

Oleh sebab itu, Destry pun mengimbau kepada para eksportir untuk mau menaruh devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri. Devisa itu nantinya bisa digunakan untuk melakukan kegiatan ekonomi di dalam negeri, termasuk membantu para pengusaha yang melakukan impor bahan baku. 

"Karena kita tahu eksportir kita itu memang kebanyakan juga importir. Jadi, itu yang kami harapkan dan tentunya sekali lagi, likuiditas dari dolar kita harapkan akan membaik ke depannya," tuturnya. 

Kendanti demikian, Destry enggan merinci, berapa persentase importir yang menaruh DHEnya di dalam negeri. "Tapi intinya, karena adanya kewajiban pelaporan, kami dari BI sudah tahu, berapa banyak hasil DHE itu sendiri," ungkapnya. 

Sponsored

Untuk meredam CAD yang semakin melebar ini, kata Destry, BI tidak bisa berkerja sendirian, perlu dibarengi dengan kebijakan fiskal dari pemerintah. 

"CAD 2,5% sampai 3% terhadap PDB sampai akhir tahun. Kita akan terus berupaya, BI enggak bisa sendri karena banyak terkait dengan sektor riil, tapi bahwa apa yang menjadi tugas dan fungsi BI bahwa kita tetap harus menjaga stabilitas dari nilai tukar itu sendiri," kata dia. 

Strategi

Sementara itu, Destry mengatakan, sejumlah langkah akan dilakukan oleh BI untuk menekan CAD yang melebar. 

Salah satunya kata dia, dengaan menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam batas aman. BI juga akan memastikan bahwa likuiditas dolar AS di pasar keuangan terjaga. 

Pada Jumat (9/8), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terhadap rupiah berada pada level Rp14.195 per dolar AS atau menguat 19 basis poin (bps) sebesar 0,13% dari hari sebelumnya Rp14.231 per dolar AS. 

"Fungsi dan tugas dari BI itu harus menjaga stabilitas dari nilai tukar kita. Kemudian kita juga harus menjaga supply, (termasuk) likuditas dari dolar AS ada di market. Satu hal yang sangat menentukan adalah stabilitas dari nilai tukar," tuturnya. 

Dalam melakukan kebijakannya, Destry akan melihat dari perekonomian secara global dan domestik. Oleh sebab itu, BI akan melakukan kebijakan moneter yang sifatnya longgar. 

"Untuk domestik, nampaknya akan membuka ruang juga, bahwa kita ada ruang untuk lebih melonggarkan kebijakan kita," tuturnya. 

Kebijakan yang akan dilakukan BI juga bermacam-macam, salah satunya kebijakan makroprudensial. "Sekarang yang kita butuhkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, tentunya salah satu kebijakan moneter, apakah penurunan suku bunga, itu menjadi satu bagian dari satu rangkaian kebijakan yang secara keseluruhan mendorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri," katanya.