sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IMF proyeksi defisit neraca berjalan RI melonjak jadi 2,4%

Lembaga moneter internasional (IMF) memproyeksi defisit neraca berjalan Indonesia pada 2018 melonjak menjadi 2,4% dari tahun sebelumnya.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Jumat, 12 Okt 2018 17:54 WIB
IMF proyeksi defisit neraca berjalan RI melonjak jadi 2,4%

Lembaga moneter internasional (IMF) memproyeksi defisit neraca berjalan Indonesia pada 2018 bakal melonjak menjadi 2,4% dari tahun sebelumnya 1,7% terhadap PDB.

International Monetary Fund (IMF) dalam laporannya bertajuk Regional Economic Outlook: Asia dan Pasific, menyebut, pertumbuhan di Indonesia diproyeksikan sebesar 5,1% pada 2018-2019. 

Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan pemerintah yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% pada tahun 2018. 

Lebih lanjut dalam laporan itu disebutkan, Indonesia menghadapi tekanan pasar lantaran tingginya suku bunga Amerika Serikat dan harga minyak dunia, serta dollar AS yang lebih kuat.

"Indonesia telah berdampak signifikan jika dibandingkan pasar negara berkembang lainnya di Asia," jelas IMF, seperti dikutip dalam laporan yang diterima Alinea.id, Jumat (12/10). 

Sementara itu, konsumsi diperkirakan akan sedikit meningkat seiring dengan pertumbuhan kredit. Sementara inflasi akan berada dikisaran 2,5%-4,5%. Hal itu tercermin dari depresiasi rupiah dan harga komoditas yang lebih tinggi. 

Defisit neraca berjalan, diperkirakan akan meningkat menjadi 2,4% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2018, dari 1,7% pada 2017. Selama jangka menengah, pertumbuhan PDB riil diproyeksikan sebesar 5,5%. 

"Secara keseluruhan, kinerja ekonomi kuat di sebagian besar negara Asean lainnya," tulis IMF tersebut. 

Sponsored

Secara garis besar, perkembangan di kawasan Asean, pertumbuhan PDB pada semester pertama tahun 2018 lebih rendah, jika dibandingkan tahun 2017. Terutama di negara yang lebih maju. 

Sebaliknya, pertumbuhan tetap kuat di negara berkembang dan secara luas sejalan dengan harapan. Kemudian, inflasi meningkat di beberapa negara, karena harga minyak yang lebih tinggi dan depresiasi mata uang. 

"Pertumbuhan ekspor umumnya melambat pada awal 2018, karena pertumbuhan impor terhenti di negara maju, terutama Jepang dan kawasan Eropa," jelas IMF. 

Surplus neraca berjalan, sambung IMF, di wilayah ini menyempit dan banyak ekonomi menurunkan kepemilikan cadangan devisa mereka selama 2018. 

Sementara itu, kondisi keuangan diperketat di beberapa negara Asia yang besar, sebagai respons terhadap normalisasi kebijakan AS dan meningkatnya ketegangan perdagangan global. 

Arus masuk portofolio secara kumulatif pada tahun 2018, berada jauh di bawah tingkat yang dicapai pada tahun 2016-2017. Sebab, arus keluar yang besar selama kuartal kedua. 

"Dengan kenaikan dalam penjualan surat-surat berharga portofolio nonresiden, karena dollar AS mulai menguat," papar IMF. 

Volatilitas baru-baru ini dari aset Asia telah sebanding dalam beberapa hal dengan yang terlihat selama taper tantrum. Namun, Asia telah terpengaruh jauh lebih sedikit daripada wilayah lain, dan lebih terikat pada perkembangan di China. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kontribusi perempuan dalam bekerja memberi manfaat baik untuk keluarga, untuk ekonomi dan untuk masyarakat. Di Indonesia, tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja, tetapi masih ada pandangan patrialisme di masyarakat. Wanita masih dinilai sebagai sumber kedua pencari sumber penghasilan bagi keluarga. Banyak perempuan muda yang sangat semangat saat mulai bekerja. Tetapi kemudian harus berhenti bekerja saat mulai menikah, hamil dan melahirkan. Mengurus rumah tangga dipandang sebagai tugas utama perempuan. Mereka harus membawa peran sebagai seorang Ibu, dan pekerjaan domestik rumah tangga dibebankan kepada perempuan. Di institusi kami, Kementerian Keuangan, kami telah menjadi best practice dan mendapatkan penghargaan, karena kami telah menyediakan berbagai fasilitas untuk pekerja perempuan, misalnya ruang menyusui dan tempat penitipan anak. Dengan demikian kita membantu mengurangi perasaan beban pada pekerja perempuan. Alangkah baiknya jika suatu institusi menjadikan lingkungan kantornya ramah bagi wanita. Agar para wanita dapat bekerja dengan nyaman dan dapat menunjukan seluruh potensi yang ia miliki. Tanpa adanya bantuan dari kebijakan yang dapat meringankan beban para wanita, maka menggaungkan kesetaraan gender dalam angkatan kerja akan menjadi sangat sulit. Hal ini  saya sampaikan dalam diskusi panel Empowering Women in the Workplace yang diselenggarakan IMF dalam rangkaian acara IMF-WBG Annual Meetings 2018 pada Selasa (09/10) di Bali International Convention Centre Westin Nusa Dua Bali. Pembicara lain dalam panel ini adalah, Managing Director IMF Christine Lagarde, Executive Secretary UN Economic Commission for Africa, Vera Songwe, Executive Director of International Women’s Rights Action Watch Pacific, Pryanthi Fernando dan Gubernur Bank of Canada, Steve Poloz. Diskusi panel ini dimoderatori oleh Rosiana Silalahi. Nusa Dua-Bali, 9 Oktober 2018

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati) on

Berita Lainnya