logo alinea.id logo alinea.id

INDEF: Pertumbuhan ekonomi 2020 hanya bisa capai 5,1%

Pertumbuhan ekonomi belum bisa melaju kencang karena berbagai faktor eksternal dan internal.

Soraya Novika
Soraya Novika Selasa, 21 Mei 2019 08:05 WIB
INDEF: Pertumbuhan ekonomi 2020 hanya bisa capai 5,1%

Institute of Development for Economics and Finance (INDEF) menyatakan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan sulit mencapai 5,3%-5,6%.

Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto menyatakan hal tersebut disebabkan perekonomian global yang kian melambat. Sehingga akan berdampak langsung terhadap perekonomian dalam negeri.

"Asumsi tersebut terlalu optimis, mengingat perang dagang kini kan kian panas, tentu ekonomi global bakal turut melambat," ujar Eko kepada Alinea.id, Senin (20/5).

Eko menyatakan pertumbuhan ekonomi 2020 yang realistis hanya sebesar 5,1% diiringi upaya memperbaiki kinerja neraca perdagangan, meningkatkan daya beli atau konsumsi rumah tangga, serta mencegah pelebaran defisit transaksi berjalan.

"Jadi perlu hati-hati sekali, pemerintah perlu melakukan upaya pembenahan ekonomi segera, karena bisa saja nanti malah jatuh ke bawah 5%," tuturnya.

Tak hanya terhambat oleh faktor eksternal, kondisi perekonomian domestik juga turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi di tahun depan. Saat ini, kata Eko, tren investasi terus menurun dan ekspor melemah.

"Transaksi berjalan berpotensi melebar karena impor semakin susah dibendung akibat negara-negara terdampak perang dagang mengalihkan pasar ke Indonesia," katanya.

Mengutip catatan Bank Indonesia, sejak Senin (13/5) hingga Kamis (16/5), investasi memang terpantau menurun dengan jumlah aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari Indonesia mencapai sekitar Rp11,3 triliun (nett jual).

Sponsored

Demikian pula dengan nilai ekspor hingga April 2019 kemarin juga tercatat menurun 13,1% atau hanya mampu meraup US$12,6 miliar. Impor juga mencatatkan penurunan sebesar 6,58%, akan tetapi nilainya masih lebih tinggi ketimbang ekspor yaitu US$15,10 miliar. 

Dengan begitu, neraca perdagangan periode tersebut tercatat defisit US$2,5 miliar. Capain ini kemudian berdampak terhadap transaksi berjalan (cureent account deficit/CAD) yang pada kuartal I-2019 saja sudah melebar sebesar US$7 miliar atau setara 2,6% produk domestik bruto (PDB).

Asumsi pertumbuhan ekonomi 2020 di kisaran 5,3%-5,6% berasal dari pidato Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait kerangka ekonomi makro (KEM) dan pokok-pokok kebijakan fiskal (PPKF) tahun 2020 untuk penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020-2024.

Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga mengansumsikan indikator ekonomi makro lainnya di antaranya inflasi dalam kisaran 2%-4%, tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) tiga bulan sebesar 5%-5,3%. 

Selanjutnya, nilai tukar rupiah antara Rp14.000-Rp15.000 per dolar Amerika Serikat. Kemudian, harga minyak mentah Indonesia senilai US$60 - US$70 per barel, lifting minyak bumi 695.000-840.000 barel per hari, dan lifting gas bumi 1.191.000-1.300.000 barel setara minyak per hari.

Untuk mencapai seluruh asumsi makro tersebut, pemerintah juga telah menyiapkan strategi kebijakan fiskal tersendiri yakni memobilisasi pendapatan untuk pelebaran ruang fiskal, kebijakan spending better untuk efisiensi belanja dan meningkatkan belanja modal pembentuk aset, serta mengembangkan pembiayaan yang kreatif serta mitigasi risiko untuk mengendalikan liabilitas.