sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Politikus PKS: Investasi ESDM pada 2010 terburuk sejak 10 tahun terakhir

Minimnya realisasi investasi ESDM akan berpengaruh pada target lifting migas dan penerimaan negara dari bidang ESDM.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 12 Jan 2021 17:02 WIB
Politikus PKS: Investasi ESDM pada 2010 terburuk sejak 10 tahun terakhir
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Anggota Komisi VII DPR Mulyanto menyoroti minimnya realisasi investasi ESDM pada 2020. Realisasi investasi senilai US$24,4 miliar dinilai sebagai capaian investasi ESDM terburuk dalam 10 tahun terakhir. 

Mulyanto memperkirakan minimnya realisasi investasi ESDM akan berpengaruh pada target lifting migas dan penerimaan negara dari bidang ESDM yang sudah ditetapkan dalam APBN. 

"Kami cukup prihatin membaca laporan realisasi investasi ESDM pada 2020 yang dirilis secara resmi oleh Kementerian ESDM. Bagi kami minimnya realisasi investasi ESDM pada 2020 mengonfirmasikan adanya kinerja yang kurang optimal dalam mengelola bidang ESDM di tengah pandemi Covid-19," katanya dalam kepada wartawan, Selasa (12/1).

Padahal investasi di bidang ini diharapkan mampu mendongkrak penerimaan negara yang ujungnya dapat meminimalisasi defisit anggaran.

Mulyanto menyebut, realisasi investasi ESDM selama 10 tahun belakangan ini relatif minim. Untuk itu Mulyanto minta pemerintah lebih serius menyusun rencana kerja pengelolaan bidang ESDM. 

Jika hal tersebut tidak diperhatikan dari sekarang, lanjutnya dikhawatirkan pendapatan negara dari sektor migas dan minerba akan terus merosot. 

"Tentu ini sangat berbahaya bagi stabilitas makro ekonomi kita," ujar politikus PKS ini.

Sebelumnya, dalam konferensi pers virtual tanggal 7 Januari 2021, Menteri ESDM Arifin Tasrif melaporkan realisasi investasi sektor ESDM sepanjang 2020 sebesar US$ 24,4 miliar. 

Sponsored

Dari jumlah US$24,4 miliar tersebut, sektor migas masih mendominasi sebesar US$12,1 miliar, disusul kelistrikan sebesar US$7 miliar, dan sektor minerba sebesar US$3,9 miliar serta sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) sebesar US$1,4 miliar.

Tasrif mengakui angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi investasi tahun sebelumnya. Ia mengatakan minimnya realisasi investasi ESDM akibat dampak pandemi Covid-19. 

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM RI diketahui jumlah investasi ESDM pada 2011 sebesar US$27,2 miliar. Lalu pada 2012 meningkat menjadi US$29,8 miliar, sedangkan 2013 turun menjadi US$27,8 miliar. 

Investasi kembali meningkat menjadi US$33,1 miliar di 2014. Pada pada 2015 investasi ESDM mencapai US$33,5 miliar, pada 2016 sebesar US$29,7 miliar, kemudian pada 2017 sebesar US$28,3 miliar dan 2018 meningkat menjadi US$32,9 miliar dan di 2019 sebesar US$ 33,2 miliar.

Berita Lainnya