logo alinea.id logo alinea.id

Jajaran orang kaya terbaru versi Forbes Indonesia 2018

Pundi-pundi kekayaan orang kaya dalam daftar konglomerat terkaya Indonesia versi majalah Forbes 2018 justru melonjak saat kurs rupiah anjlok

Sukirno
Sukirno Minggu, 16 Des 2018 21:18 WIB
Jajaran orang kaya terbaru versi Forbes Indonesia 2018

Pundi-pundi kekayaan orang kaya dalam daftar konglomerat terkaya Indonesia versi majalah Forbes 2018 justru melonjak saat kurs rupiah anjlok.

Dalam laporan Forbes yang dirilis Rabu (12/12), kondisi ekonomi Indonesia tercatat beragam. Negara dengan populasi terbesar ke-4 dunia itu tengah bersenandung.

Di tengah berlanjutnya pertumbuhan ekonomi, indeks pasar saham tumbuh tipis 4,4% dalam 12 bulan terakhir. Namun, dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia, ada yang menjadi pemenang, ada pula yang menjadi pecundang.

Pada laporan kali ini, tercatat enam dari sepuluh kekayaan orang terkaya di Nusantara, melonjak dibandingkan dengan tahun lalu. Termasuk dua bersaudara Robert Budi dan Michael Bambang Hartono.

Keluarga Hartono masih bercokol di kursi tertinggi orang paling kaya di Indonesia. Keduanya telah menduduki kursi jawara selama sepuluh tahun terakhir.

Kekayaan Hartono bersaudara didukung oleh kekuatan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Bayangkan, BCA menyumbang 70% dari total kekayaan Keluarga Hartono yang mencapai US$35 miliar setara Rp507 triliun (kurs Rp14.500 per dollar Amerika Serikat).

Selanjutnya, Susilo Wonowidjojo melonjak satu peringkat ke urutan kedua terkaya di Tanah Air. Lonjakan kekayaan Susilo ini terjadi seiring meroketnya harga saham emiten rokok miliknya, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). 

Memang, perbedaan kekayaan taipan nomor 1 dan 2 ini cukup jauh mencapai 280%. Kesenjangan ini menjadi gap terjauh dalam daftar kekayaan yang dirilis Forbes saban tahun.

Sponsored

Setali tiga uang, peringkat Sri Prakash Lohia juga melonjak ke posisi orang terkaya ke-4 di Indonesia pada 2018. Penyumbang lonjakan kekayaan Lohia ditopang oleh harga saham produsen petrokimia yang melejit dan listing di Bangkok, Indorama Ventures. 

Grup Indorama milik Lohia juga memiliki perusahaan yang listing di PT Bursa Efek Indonesia, yakni PT Indorama Syntetics Tbk. Emiten bersandi saham INDR itu merupakan produsen tekstil dan benang.

Kekayaan Bachtiar Karim dan keluarga yang tercatat pada urutan 21, melejit hingga 61% sejak tahun lalu. Pundi-pundi kekayaan Karim melesat lantaran pendapatan perusahaan kelapa sawit Musim Mas miliknya juga melambung.

Bila dihitung secara keseluruhan, kekayaan taipan Indonesia melejit jika dibandingkan dengan tahun lalu. Total kekayaan bersih 50 konglomerat itu mencapai US$129 miliar, setara Rp1.870 triliun.

Harta para konglomerat itu mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah daftar Forbes. Harta para taipan bertambah US$3 miliar atau Rp43,5 triliun dibandingkan dengan tahun lalu US$126 miliar.

Paling mengesankan, kenaikan biasanya hanya mencapai US$600 juta, lompatan signifikan senilai US$150 juta sejak 2017, serta ambrol terdalam sejak 2013.

Arifin Panigoro kembali masuk ke dalam jajaran 50 konglomerat Tanah Air dengan berada pada urutan 46. Pemilik PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ini sempat absen setahun dan kini kembali setelah akuisisi tambang emas PT Newmont Nusa Tenggara. (Forbes).

Pendatang baru

Empat pendatang baru masuk dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia pada 2018. Sebagian besar lantaran seiring dengan lonjakan harga saham emiten yang dimilikinya.

Danny Nugroho yang berada pada urutan 38 misalnya. Debut perdananya masuk dalam daftar konglomerat RI setelah saham perusahaan keuangan dan asuransi miliknya melejit, PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA). 

Saham CASA nyaris melonjak hingga dua kali lipat dalam setahun terakhir. Lonjakan itu menyumbang lambungan kekayaan Danny Nugroho sehingga masuk ke dalam daftar orang terkaya baru.

Kemudian, Sabana Prawirawidjaja yang kini masuk orang terkaya pada urutan 47 di Tanah Air. Sabana adalah pendiri Ultrajaya Milk Industry, produsen susu terbesar di Indonesia.

Selanjutnya, nama Benny Tjokrosaputro untuk pertama kalinya juga masuk ke dalam 50 daftar orang terkaya Indonesia. Penawaran saham perdana PT Sinergi Megah Internusa Tbk. (NUSA) pada Juli 2018 telah mengantarkan Bentjok menjadi konglomerat.

Benny Tjokro berada pada urutan 43 setelah perusahaan pariwisata dan pengembang properti miliknya melantai di Bursa Efek.

Nama Arifin Panigoro kembali masuk ke dalam jajaran 50 konglomerat Tanah Air dengan berada pada urutan 46. Pemilik PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ini sempat absen setahun dan kini kembali setelah akuisisi tambang emas PT Newmont Nusa Tenggara.

Sebaliknya, setengah dari taipan dalam daftar konglomerat terkaya 2018 justru semakin miskin dibandingkan dengan tahun lalu. Pelemahan rupiah hingga 5% terhadap dollar AS memicu harga saham juga terperosok.

Pecundang terbesar dalam penurunan prosentase kekayaan adalah Soegiarto Adikoesoemo pada urutan 39. Kekayaan Soegiarto ambrol 42% lantaran saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) miliknya juga terjungkal.

Dari lima kekayaan konglomerat yang anjlok dari tahun lalu, ada nama Purnomo Prawiro. Saham perusahaan taksi keluarganya, PT Blue Bird Tbk. (BIRD) amblas 25% seiring persaingan taksi online.

Sebagai informasi, Forbes memiliki metodologi penghitungan kekayaan masing-masing konglomerat di Indonesia. Di antaranya menggunakan informasi kepemilikan saham dan keuangan yang diperoleh dari keluarga, individu, pasar modal, laporan tahunan, serta analis.

Kekayaan individu dan keluarga, termasuk pendiri perusahaan dan kerabat, juga dihitung. Saham publik yang ada di dalam perusahaan konglomerat dihitung berdasarkan harga saham dan nilai tukar per 30 November 2018.