sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pasang surut Rupiah di tahun anjing

Sepanjang 2018 nilai tukar rupiah melemah 7,36%. Sementara suku bunga acuan Bank Indonesia naik sebesar 170 basis poin.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Senin, 24 Des 2018 12:05 WIB
Pasang surut Rupiah di tahun anjing

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pasang-surut akibat adanya faktor eskternal mupun internal sepanjang 2018. Upaya menstabilkan nilai tukar rupiah terus dilakukan oleh Bank Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, akhir pekan kemarin rupiah kembali melemah 80 poin atau 0,55% menjadi Rp14.552 dari penutupan pada Sabtu (22/12) sebesar Rp14.464 per dollar AS. 

Namun, jika dikalkulasi secara tahunan atau sepanjang 2018, nilai tukar rupiah melemah sekitar 7,36%. Sementara itu, Bank Indonesia juga telah menaikkan suku bunga acuannya dalam setahun terakhir sebesar 170 basis poin.

Berikut merupakan kilas balik perjalanan naik-turun rupiah di tahun anjing tanah atau selama 2018.   

1. Rupiah dibuka Rp13.000-an

Pada 2 Januari 2018, data Bloomberg menunjukkan pasar spot rupiah tercatat berada di level Rp13.514. Laju rupiah kian menguat sampai pada level Rp13.289 per dollar AS. Penguatan rupiah ketika itu diiringi dengan melemahnya mata uang dollar AS. Faktor lainnya karena adanya pemberitaan terkait pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Steven Mnuchin merespon hal tersebut.

Di saat bersamaan, ada dukungan positif dari dalam negeri. OJK memprediksi target mengenai pertumbuhan ekonomi nasional minimal sebesar 5.4%. Ini kemudian turut mengangkat rupiah saat itu. Nilai tukar rupiah kemudian terpantau cenderung bergerak stabil pada kisaran Rp13.000 per dollar AS. Nilai tukar ini bertahan sampai pertengahan April 2018.

2. Melonjak di kisaran Rp14.000

Sponsored

Kondisi rupiah perlahan tak menunjukkan tren positif. Meski Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya BI-7-Day Reserve Repo Rate (DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%,  nilai tukar rupiah terhadap dollar AS malah tergerus menjadi Rp14.000 pada awal Mei 2018.

Ini menjadi level terendah sejak Desember 2015. Pelemahan rupiah, kata Agus Martowardojo, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indoneia disebabkan faktor eksternal seperti harga minyak acuan yang menembus US$70 per barel.  Juga internal  lantaran Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,63 miliar, sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS). 

Di tengah nilai tukar rupiah yang tergerus dollar AS, jabatan Gubernur Bank Indonesia berganti. Perry Warjiyo ditunjuk menggantikan Agus Martowardojo sejak 24 Mei 2018. Seminggu menjabat, Perry langsung melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 30 Mei 2018. Hasilnya, BI menaikkan BI-7DRRR sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%. 

3. Upaya BI jaga stabilitas Rupiah

Pada Juni hingga September 2018, rupiah terus mengalami pelemahan. Ia berada di level Rp14.394-Rp14.938 per dollar AS. Bank sentral AS, Federal Reserve, kembali menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 1,75%-2,00% pada 13 Juni 2018. Ini merupakan kenaikan kedua pada 2018. 

Merespon hal itu, BI secara berturut-turut melakukan hal yang sama. Suku bunga acuan BI dinaikkan sebesar 50 bps menjadi 5,25% demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kemudian pada 14-15 Agustus 2018, suku bunga acuan BI kembali naik sebesar 25 bps menajdi 5,5%. Lalu pada 26-27 September sebesar 25 bps menjadi 5,75%. 

4. Rupiah ambrol ke level Rp15.000

Sepanjang Oktober 2018, krisis Turki dan melebarnya current account defisit (CAD) mengerek rupiah hingga menyentuh Rp15.043-Rp15.235 per dollar AS.  Meski demikian, Bank Indonesia memilih menahan suku bunga acuan BI-7DRRR pada level 5,75% untuk menurunkan CAD dan sebagai daya tarik di pasar keuangan. 

Seperti diketahui, ketika rupiah berada di level  Rp15.000-an, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III 2018 meningkat hingga 3,37% terhadap Produk Domestik Bruto atau senilai US$8,8 miliar. Defisit ini melebar dari defisit kuartal II 2018 sebesar US$8 miliar atau 3,02% terhadap PDB. 

5. Rupiah menguat di akhir tahun

Pada 1 November 2018, dollar AS mulai jinak. Pengetatan suku bunga oleh bank sentral AS The Federal Reserve, membuat nilai tukar rupiah mampu bergerak stabil terhadap dollar AS, sehingga meninggalkan level Rp15.000 atau menguat hingga 6,3%. Saat yang sama, BI meluncurkan instrumen baru Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). 

DNDF dinilai dapat mempercepat pasar valas dan memberikan alternatif instrumen lindung nilai dan dapat memenuhi kebutuhan valas bagi bank dan korporasi, sehingga BI tidak perlu lagi menggunakan cadangan devisa untuk mengintervensi rupiah.

Di tengah penguatan rupiah, BI memutuskan untuk lagi-lagi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6%. Langkah ini, kata Perry, dilakukan untuk memperkuat upaya menurunkan CAD dalam batas aman. 

Di penghujung 2018, bank sentral AS The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps. Alih-alih melakukan hal serupa, BI ternyata tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 6%. Alasannya, untuk menurunkan CAD dalam batas aman dalam kisaran 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.