sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengejar ekspektasi mi instan sehat 

Mi instan berlabel sehat semakin marak seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat bergaya hidup sehat.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Kamis, 24 Jun 2021 06:10 WIB
Mengejar ekspektasi mi instan sehat 

Harum nikmat sajian mi instan rebus atau goreng di warung kopi, tak lagi menggoda Dini (26). Meskipun aroma sedap itu melintasi indera penciumannya kala nongkrong bersama kawan-kawannya. Sudah empat tahun ini, karyawan swasta itu mengurangi konsumsi mi instan. 

Sesekali, ia mencicip beberapa merek mi instan lokal kala keinginannya tak terbendung. Itupun setelah sekian bulan lamanya. 

Dini sudah berbaiat pada diri sendiri: menjaga kesehatan dengan meminimalisasi asupan bahan-bahan kimia dari pengawet, pewarna hingga penambah rasa. Ini tak hanya berlaku pada mi instan, tapi juga makanan pokoknya sehari-hari. 

"Emang mengurangi yang banyak micin-micinnya ya. Kalau masak juga gitu," ujar Dini saat berbincang dengan Alinea.id, Selasa (22/6). 

Perempuan yang berdomisili di Bandung itu, sudah lebih dari setahun ini mengalihkan konsumsi mi instan dengan cara yang lebih sehat. Misalnya, mengonsumsi mi olahan hingga memilih merek mi instan sehat atau mi organik rasa sayur-mayur yang kini semakin banyak beredar di pasaran. 

"Ada Lemonilo. Di marketplace juga ada mi kering dari bayam, wortel gitu, home Industry," kata dia. 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Lemonilo (@lemonilo)

Sponsored

 

Berawal dari penasaran, kini Dini pun menggantungkan konsumsi mi instan pada berbagai produk tersebut. Meskipun, mi instan yang mengklaim sehat itu harganya berkali-kali lipat lebih mahal.

Baginya, itu tidak jadi soal asalkan produknya semakin mudah didapatkan. Pasalnya, ada beberapa produk mi instan sehat yang masih terbatas promosi dan distribusinya. 

"Kalau Lemonilo udah semakin gampang sih dicari. Awal-awal saja yang susah, sekarang di minimarket ada. Kalau produknya yang tadi kubilang dari saripati (organik), adanya hanya di marketplace," jelas perempuan yang hobi naik gunung ini.

Seperti halnya Dini, Judith (27) juga setahun belakangan ini mulai beralih ke jenama mi instan yang lebih sehat seperti Lemonilo dan Ladang Lima. Alasannya utamanya adalah soal faktor kesehatan. 

Sebagai orang yang memiliki masalah asam lambung (maag), tubuh Judith lebih sensitif saat mengonsumsi mi instan biasa berbahan gandum dan kimia tambahan. Namun sejak beralih ke mi sehat, menurutnya, keluhan asam lambungnya sudah jauh berkurang.  

Mi instan sehat yang ia dikonsumsi itu berasal dari kandungan bahan alami singkong bebas gluten (gluten free). Menurut Alodokter, kandungan gluten ini memang bisa menimbulkan efek samping bagi penderita celiac (intoleransi gluten). Gejalanya berupa perut kembung, diare, sakit perut, hingga tubuh merasa lemas. 

"Ternyata yang dirasakan lambung beda, kalau dari gandum yang ada pengawetnya itu memang gampang begah karena banyak gasnya," ujar Judith kepada Alinea.id, Selasa (22/6). 

Tak hanya soal kesehatan, Judith juga mengaku alasannya mengonsumsi mi instan sehat berbahan singkong ini adalah untuk mendukung kesejahteraan para petani lokal.

"Kalau beli (mi instan) yang berbahan gandum, aku men-support-nya petani yang bukan petani Indonesia (impor). Mending aku mengalirkan rejekinya ke petani singkong di Indonesia," ujar perempuan lulusan universitas negeri di Bandung ini.

Karyawan swasta ini pun mempunyai harapan tersendiri agar produk yang mengangkat petani lokal bisa mendapat lebih banyak tempat di masyarakat. Termasuk dari perkembangan mi instan sehat. 

"Biar konsumen lain juga mempromosikan, oh ada loh makanan mi yang sehat dan membantu petani lokal," ujarnya.

Singkong hasil panen yang dikeringkan. Pixabay.com.

Untuk membeli produk mi instan sehat, Judith biasanya memesan lewat marketplace. Sekali pesan, dia biasanya membeli dalam jumlah relatif banyak untuk stok beberapa bulan. 

"Challengenya, kayak Ladang Lima kan pesannya online, jadi stok. Kalau Lemonilo kan di swalayan emang udah ada banyak," katanya. 

Peluang jenama mi instan sehat

Konsumsi mi instan seolah memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di sekitar kita misalnya, tentu tak asing dengan warung makan Indomie.
 
Warung kopi itu nyaris selalu menyajikan mi instan Indomie dengan berbagai varian rasa. Sebut saja rasa ayam bawang, kari, hingga mi goreng yang semakin lengkap dengan telur ceplok dan sayuran hijau. 

 

 

Sosial media juga menjadikan kegemaran masyarakat makan mi instan ini semakin semarak. Salah satu akun resmi instagram Warmindo misalnya, mengunggah aneka sajian rasa hingga informasi jaringan Warmindo di seluruh tanah air. 

Perkenalan masyarakat Indonesia dengan mi instan telah terjadi pada akhir dekade 1960-an. Trade-off.id menyebut produksi mi instan Tanah Air dipelopori PT Lima Satu Sankyu (kini PT Supermi Indonesia) dan PT Sanmaru Foods Manufacturing Indonesia pada tahun 1968 dengan merek Supermi.

Kini, tingginya konsumsi mi instan terekam dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2020. Angkanya sebanyak 92% atau sekitar 248,7 juta penduduk Indonesia pernah mengonsumsi mi instan (satuan bungkus sekitar 80 gram).  
  
Pada survei yang dilakukan di Maret 2020 tersebut, Kalimantan termasuk wilayah yang keseluruhan (100%) penduduknya pernah mengonsumsi mi instan dalam sebulan terakhir (Februari 2020). Sedangkan, Maluku menjadi yang terendah dengan 66% penduduknya mengonsumsi mi instan. 

Mi instan juga tidak mengenal kelas ekonomi sosial. Data SUSENAS mencatat, persentase Rumah Tangga (RT) menengah atas dengan pengeluaran >Rp5-10 juta per bulan adalah yang terbesar mengkonsumsi mi instan. 

Sementara itu, Credit Suisse Indonesia Consumer Survey tahun 2017 menyebut setiap tahun, sekitar 13 miliar paket mi instan terjual di Indonesia.

Pengamat bisnis dari Peka Consult, Kafi Kurnia tidak memungkiri pasar mi instan di Indonesia sangat besar. Namun di sisi lain, persaingan industri mi instan juga cukup ketat karena setiap produsen ingin menarik hati konsumen. 

Mereka bersaing tak hanya dari inovasi selera rasa yang dihadirkan. Jenama-jenama mi cepat saji juga jor-joran membanderol produk dengan harga yang paling ekonomis.

"Marginnya dipepetin supaya kompetitor sulit masuk (ke pasar). Memerlukan dana yang luar biasa besar, promosi dan investasi juga besar," ujar Kafi kepada Alinea.id, Selasa (22/6).  

Meski demikian, Kafi menilai, pasar mi instan belakangan juga semakin berkembang dengan hadirnya mi sehat. Salah satunya, iming-iming merek dengan slogan gluten free atau perbaikan nutrisi lebih sehat. 

Menurutnya, para pelaku bisnis mi instan sehat ini bisa memangkas biaya produksi. Pasalnya, permintaan konsumen terhadap mi instan yang sehat juga semakin banyak.

"Banyak orang-orang yang tertarik ke vegan," kata dia. 

Business Development (BD) jenama mi Ashitaki Christy, tak menyangkal adanya potensi sangat besar dalam bisnis mi instan. Produsen mi instan sehat itu melihat ada peningkatan kesadaran publik untuk bergaya hidup sehat.

"Biasanya generasi milenial sampai gen Z yang udah sadar untuk healthy lifestyle dan ada keperluan program diet yang tertarik membeli produk Ashitaki," ujar Christy kepada Alinea.id, Selasa (22/6). 

Mi Ashitaki sendiri terbuat dari Ashitaba (seledri Jepang) dan shirataki (konyaku). Dua bahan itu menjadikan mi Ashitaki rendah karbohidrat, kolesterol, dan gula namun tetap kaya akan serat. Ashitaba juga memiliki senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. 

Kalori yang terkandung pada Ashitaki juga relatif sangat rendah dibanding mi instan lainnya. Untuk varian Ashitaki rasa soto misalnya, kalori yang terkandung 40 kkal, Ashitaki goreng original 90 kkal, dan Ashitaki goreng ala Jepang hanya 80 kkal. Sementara mi instan lainnya dalam satu porsi biasanya mengandung 300-350 kkal.

Namun, tekstur Ashitaki lebih kenyal sehingga memerlukan waktu memasak sedikit lebih lama dibanding mi biasa. Kurang lebih dibutuhkan waktu 4 menit untuk mendapatkan mi dengan tekstur tepat. Jika pun direbus lebih lama, mi ini tidak akan menjadi lembek atau mekar.

Hingga saat ini, Christy mengaku, segmen pasar Ashitaki memang masih didominasi oleh kalangan perempuan. Namun segmen laki-laki juga tidak sedikit yang tertarik. 

"Perlu banyak media lagi dan artikel yang membahas tentang mi berbahan shirataki ini yang sehat untuk dikonsumsi dan melakukan kolaborasi-kolaborasi dengan brand yang memiliki kesamaan tujuan," ujarnya.  

Merek mainstream ikut bermain

Maraknya bisnis mi instan yang lebih segmented, mendorong pelaku usaha mi instan mainstream tak mau ketinggalan. Misalnya saja, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang turut meluncurkan produk mi sehat teranyarnya yakni, Supermi Nutrimi Rasa Steak Ayam. 

"Muncul ekspektasi akan produk mi instan yang enak, lebih sehat, dan harganya terjangkau. Kami memahami keinginan konsumen tersebut," ungkap General Marketing Divisi Mie Instan ICBP, Julia Atman dalam keterangan resminya, April 2021 lalu. 

Menurutnya, Supermi Nutrimi Rasa Steak Ayam telah memenuhi setiap kriteria yang ditetapkan oleh BPOM berkenaan dengan kategori makanan "Pilihan Lebih Sehat". Misalnya, warna hijau mi yang didapat dari brokoli. Plus, topping wortel dan jagung sebagai sayuran pelengkap.

"Rasa steak ayam yang nikmat dibuat tanpa pengawet dan penguat rasa. Kami menggunakan bubuk jamur sebagai gantinya," sebut Julia.

Dikatakan Julia, mi lebih sehat ini bisa dibeli di toko, minimarket, hypermarket, dan supermarket di seluruh Indonesia. Tak ketinggalan, kanal digital via marketplace juga digunakan. Adapun harga per bungkus mi dibanderol Rp 3.500. 

Pengamat Bisnis Kafi Kurnia menekankan, para pelaku bisnis mie instan yang mengusung aspek kesehatan, memang mesti jeli menangkap potensi pasar yang besar. Di samping komposisi dan rasa, harga yang ekonomis mesti jadi pertimbangan. 

"Ini matriks cost and value," kata Kafi. 

Kafi membeberkan, ongkos promosi (cost of promotion) mi instan memang tidak murah di Indonesia. Banyak perusahaan mi instan yang 'bakar duit' untuk bisa menjadi yang paling populer dan banyak dikenal oleh masyarakat. 

Namun seiring dengan berkembangnya sosial media, platform inilah yang menurutnya perlu dimaksimalkan. Terlebih, bagi pelaku usaha mi instan sehat yang membidik segmennya lebih terbatas dibandingkan mi instan mainstream

"Para pemain baru tidak usah menciptakan pasar, tapi mengambil pasar yang sudah ada," ujarnya. 

Pelaku mi instan sehat juga bisa mengoptimalkan nilai lebih terhadap produknya. Semisal, kualitas produk sehat hingga promosi 'mulut ke mulut' yang efektif. Upaya ini juga mesti dilancarkan demi bisa bertahan di tengah gempuran produk mi impor. 

"Mi sehat ini memang tidak diproduksi masal, tapi peminatnya akan selalu ada, tinggal bagaimana nge-drive tren (sehat) saja dioptimalkan," pungkasnya.  

Ilustrasi Alinea.id/Oky Diaz.

Berita Lainnya