sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menilik cuan produk ramah lingkungan idola para milenial

Produk-produk ramah lingkungan kian digemari terutama oleh generasi milenial dan GenZ.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Minggu, 24 Apr 2022 15:32 WIB
Menilik cuan produk ramah lingkungan idola para milenial

Konsumsi produk-produk hijau atau ramah lingkungan menjadi tren tersendiri di kalangan milenial dan generasi Z.  Berdasarkan laporan Sustainable Shoppers: Buy The Change They Wish to See in The World yang dirilis lembaga riset konsumen Nielsen, secara global terdapat sebanyak 80% Generasi Z yang tertarik untuk membeli produk-produk ramah lingkungan. Kemudian Generasi Milenial ada sebanyak 85%.  

Laporan lain, Sustainability Impact on Purchase Behavior yang diterbitkan oleh Acosta pada November 2021, mengatakan bahwa setidaknya 59% konsumen sudah berkomitmen untuk membeli produk-produk ramah lingkungan. Bahkan, empat dari 10 konsumen kini lebih memperhatikan aspek kesinambungan produk, ketimbang sebelum masa pandemi Covid-19.

Selain itu, konsumen juga rela merogoh kocek lebih dalam, untuk membeli beberapa produk berkelanjutan, seperti makanan yang mengandung protein nabati sebagai pengganti daging (81%), produk perawatan tubuh dan kecantikan (80%), produk olahan susu dan pengganti susu (78%), serta daging dan unggas (74%). 

“Dengan kondisi ini, penjual memiliki kesempatan untuk memikirkan kembali jejak lingkungan yang ditinggalkan dari produk mereka dan memberikan nilai dengan cara yang lebih ramah lingkungan untuk pelanggan mereka,” begitu kiranya kata Intelijen Bisnis dan EVP Ecosta Colin Stewart dalam rilisnya, seperti dikutip, Kamis (21/4).

Di Indonesia, minat konsumen terhadap produk hijau nyatanya telah muncul sejak sebelum pandemi. Pada 2019 lalu, sudah ada sekitar 75% orang yang memilih untuk membeli produk ramah lingkungan. Angka ini, semakin bertambah seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian lingkungan yang kian meningkat dari waktu ke waktu. 

“Ditambah juga dengan golongan masyarakat ekonomi middle class (kelas menengah-red) yang sedang meningkat,” ungkap Direktur Footprint & Market Transformation WWF Indonesia Aditya Bayunanda, kepada Alinea.id, belum lama ini. 

Ilustrasi Pixabay.com.

Dengan semakin membesarnya pasar produk ramah lingkungan, tak heran jika produsen produk hijau juga banyak bermunculan. Apalagi, peluang bisnis di sektor ini terbilang masih sangat besar, yakni mencapai US$10,1 triliun, dengan kesempatan kerja baru hingga 395 juta orang pada tahun 2030. 

Sponsored

“Ini dapat mendorong terciptanya lapangan usaha baru bagi pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM-red),” imbuh Aditya.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (MenkopUMKM) Teten Masduki mengungkapkan, selama pandemi memang terjadi perubahan pola bisnis UMKM nasional, menjadi lebih ramah lingkungan.

Dari survei yang dirilis oleh United Nations Development Programme (UNDP), Kemenkop UKM dan Indosat Ooredoo, ada sekitar 95% UMKM menyatakan minatnya pada praktik-praktik usaha ramah lingkungan, dengan usaha milik perempuan menunjukkan minat yang lebih kuat. Sedangkan sebanyak 90% lainnya, mengatakan mereka tertarik untuk menerapkan praktik usaha inklusif. 

Penerapan bisnis hijau sendiri sudah banyak dilakukan oleh para produsen seperti, mengambil, memproduksi, menghasilkan, menjalankan operasional bisnis berbasis lingkungan. Kemudian mengurangi jejak karbon dengan melakukan penghematan energi serta menggunakan energi bersih dan terbarukan (EBT). Lalu, secara aktif melakukan 3R (reduce, reuse, recycle) pada limbah yang dihasilkan, serta menghindari pencemaran air, udara, atau tanah dalam praktik bisnisnya.

Bahan alami

Lantas produk ramah lingkungan apa sajakah yang digemari karena ramah lingkungan? Alinea.id merangkum beberapa produk yang kian nge-hits dewasa ini, diantaranya:

1. Produk dari bahan bambu

Indonesia merupakan rumah bagi 162 dari total 1.450 jenis bambu di seluruh dunia. Dengan potensi permintaan bambu dan produk olahan bambu mencapai US$93 miliar atau sekitar Rp1.339,2 triliun pada 2025 nanti. 

Nilai salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ini bahkan dapat mencapai 90% dari nilai hasil hutan. Jauh lebih besar ketimbang nilai kayu, yang sebenarnya hanya menyumbang 10% dari produksi kehutanan saja. Meski begitu, pemanfanfaatan bambu di dalam negeri, terbilang masih belum optimal.

Oleh karenanya, untuk memanfaatkan potensi tersebut, Rizkyan Adi Pradana memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan digital dan fokus menggarap bisnis produk olahan bambu yang dirintasnya sejak 2018 lalu, Bambukeun.id. 

Alih-alih menggunakan bambu utuh atau baru, Rizkyan justru menggunakan limbah bambu untuk membuat produk seperti sangkil alias sedotan, andaha yang merupakan anti dahaga, atau dalam hal ini berupa termos stainless-steel (tumbler), set teko yang terdiri dari teko dan gelas, peralatan makan seperti sendok, garpu dan pisau, hingga besek.


 
Demi menjalankan bisnis yang berkelanjutan, Rizkyan berkomitmen untuk tidak menggunakan plastik atau bahan-bahan lain yang dapat mencemari lingkungan. “Produk kami sudah dipastikan tidak menggunakan plastik, baik untuk kemasan atau yang lainnya,” kata pengusaha 31 tahun itu, kepada Alinea.id, Jumat (22/4).

Sementara itu, dengan modal awal sebesar Rp10 juta, Rizkyan kini mampu meraup omzet hingga Rp20 juta per bulan. Pendapatan ini, dia peroleh dari hasil memasarkan produk-produk Bambukeun.id hampir di seluruh wilayah Indonesia, melalui marketplace dan juga toko daringnya. Peminat paling banyak adalah warga negara asing yang tinggal di Indonesia. 

“Harapannya, Bambukeun.id bisa lebih dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia, kemudian bisa masuk juga ke pasar luar negeri, New York salah satunya dan bisa dikenal oleh masyarakat dunia,” imbuhnya.

Namun demikian, sebelum mencapai kesuksesannya, Rizkyan sempat mengalami beberapa kegagalan. Pemilik Bambukeun Café ini mengaku, pada awal mendirikan usahanya, menargetkan pasar terlalu luas. Dia ingin menjual produk bambunya kepada seluruh lapisan masyarakat. 

“Akhirnya, saya lebih memilih fokus memasarkan Bambukeun.id ke milenial, karena lebih jelas sasarannya,” ujar dia.

Keterpurukan selanjutnya, dialami pada awal pandemi Covid-19. Rizkyan bilang, pada masa awal masuknya pagebluk ke Indonesia, dia sempat mengalami penurunan pendapatan, bahkan pernah tidak ada pesanan sama sekali. Kini, pascapandemi Rizkyan kemudian memfokuskan pemasaran melalui media daring. 

2. Lilin aroma terapi minyak jelantah

Sebagai konsumen minyak goreng sawit terbesar di dunia (15,4 juta ton/tahun), tak heran jika kemudian produksi jelantah juga melimpah. Pada 2019, saat konsumsi minyak goreng nasional sebesar 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter per tahun, produksi minyak jelantah baru sebesar 3 juta kilo liter per tahun. 

Dari jumlah tersebut, hanya kurang dari 570 ribu kilo liter dimanfaatkan untuk biodiesel dan kebutuhan lainnya, sekitar 2,4 juta kilo liter digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. Sedangkan sisanya, kemungkinan besar dibuang oleh masyarakat ke saluran air, atau langsung ke tanah. 

Selain dapat menyumbat saluran air atau dreinase yang berpotensi menjadi tempat tumbuh kembang bakteri, minyak jelantah yang dibuang sembarangan nantinya akan mengalir ke sungai dan berakhir di laut.
 
“Pernah waktu itu saluran air saya mampet. Setelah dibersihkan, isinya lemak semua, yang mana ini asalnya dari minyak jelantah yang saya buang di wastafel,” kata Founder @cuanjelantah Irna Diana, saat dihubungi Alinea.id, Kamis (21/4).

Ibu dua anak ini lantas berpikir, bagaimana cara yang tepat untuk mengolah limbah minyak goreng ini, agar tidak mencemari lingkungan dan bisa memberikan sedikit cuan. Pada pertengahan tahun lalu, Irna pun berpikir untuk mengumpulkan minyak jelantah miliknya dan masyarakat, utamanya dari kampung-kampung di Cikarang, untuk kemudian disetornya kepada pabrik pengolahan minyak jelantah besar. 

“Masyarakat bisa menukar minyak jelantah yang mereka punya dengan uang, sembako, atau ditabung dulu. Harganya juga ngikutin pabrik yang suka ekspor minyak jelantah,” jelasnya. 

Irna kemudian memutuskan untuk mengolah limbah tersebut menjadi lilin aroma terapi. Alasannya, karena modal yang dibutuhkan untuk membuat lilin tidak terlalu besar, selain juga hanya membutuhkan waktu singkat. 

“Untuk modal awal lilin aroma terapi ini sekitar Rp5 juta. Itu juga sebenarnya lebih banyak untuk beli aroma terapinya, karena ini yang mahal. Kalau untuk bahan-bahan lain enggak,” kata Irna, yang kedua orang tuanya telah berbisnis bank sampah sejak 40 tahun lalu tersebut.

Dirinya juga merasa tidak perlu khawatir soal pasar, lantaran saat ini sudah semakin banyak orang yang peduli pada lingkungan. Apalagi, belum banyak produsen lilin aroma terapi minyak jelantah yang menggunakan 100% bahan organik, termasuk campuran lilin yang menggunakan minyak kedelai alih-alih paraffin. 

“Kalau dibandingkan lilin aroma terapi biasa yang hanya pakai fragrance atau bibit minyak wangi dan juga paraffin, lilin aroma terapi berbahan alami memang agak pricey (mahal-re). Tapi, kalau diliat lebih jauh lagi, lilin yang dari minyak kedelai jauh lebih awet,” jelas Irna.

Sementara itu, waktu untuk membuat lilin minyak jelantah pun terbilang singkat. Irna bilang, biasanya dia baru mulai membuat lilin sekitar pukul 16.00 dan lilin sudah siap pada pukul 18.00. Namun, sebelum dikemas, lilin aroma terapi sebaiknya dibiarkan terbuka selama kurang lebih 24 jam.

“Ini utuk mengikat lilin dengan aroma terapi yang ada di dalamnya. Karena pakai aroma terapi dari bahan asli, memang lebih lama wanginya keluar,”  tutur pemilik jenama lilin aroma terapi Sthira Candle ini. 

Sebagai media pemasaran, perempuan yang berdomisili di Cikarang ini memasarkan lilin-lilin aroma terapinya melalui beberapa platform e-commerce dan juga media sosial Cuan Jelantah. Meski baru massif menjual lilin aroma terapi minyak jelantah pada Maret lalu, Irna telah berhasil menjual kurang lebih 40 buah lilin tiap bulannya. Dengan harga jual Rp30.000 per buah, dan paket hampers Rp85.000 per paket.

3. Sabun cuci pakaian minyak jelantah

Berbeda dari Irna yang mengolah minyak jelantah menjadi lilin aroma terapi, Yomi Widriasni justru menyulap limbah minyak goreng ini menjadi sabun cuci pakaian yang wangi dan ramah lingkungan. Sebab, selain menggunakan minyak jelantah sebagai bahan dasarnya, Sabun Langis juga tidak menggunakan campuran pemutih dan desinfektan.
 
Perempuan 41 tahun ini menjelaskan, inovasi mengubah minyak jelantah menjadi sabun cuci kali pertama ia lakukan pada April 2019. Hal itu dilatarbelakangi oleh banyaknya jelantah yang ada di bank sampah kelolaannya, Bank Sampah Berdikari Sejahtera. 

“Di bank sampah saya, (jelantah-red) ada sekitar 30-50 liter,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, Senin (18/4).

Yomi menjelaskan, proses pembuatan sabun dilakukan dengan menetralkan jelantah. Penetralan itu dilakukan dengan merendam arang ke dalam minyak selama 24 jam. Kemudian minyak tersebut disaring dan dituang ke wadah lalu mencampurkan bubuk soda api. Takarannya, untuk setiap 450 mili liter jelantah, soda api yang dibutuhkan adalah sekitar 200 mili liter. 

“Setelah itu aduk sampai merata hingga kental dan bisa ditambah parfum sesuai selera. Campuran itu harus langsung dicetak karena jika lama dibiarkan akan membeku,” kata dia.

Dari seliter jelantah dia bisa menghasilkan 14 sabun batang dengan berat 20 gram, sedangkan untuk mengubahnya jadi sabun padat, cairan tadi dibiarkan dalam suhu ruangan selama lebih kurang tiga hari. Ia menjual dua jenis sabun cuci, yakni sabun cair untuk mencuci pakaian agar tidak luntur dan sabun batang yang efektif membersihkan noda membandel.

Sementara itu, pada 2019, warga Desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Bantul ini mengaku, setiap bulan pihaknya dapat menjual 150-300 sabun batang dan lebih dari 30 botol sabun cair per bulan. Namun, laiknya UMKM lain, Yomi pun tak terhindar dari dampak pagebluk. Bahkan, pada saat itu, pendapatannya anjok hampir 60%.

“Habis itu langsung fokus pemasaran lewat online. Lewat marketplace dan media sosial. Alhamdulillah sekarang sudah mending,” urai Yomi.

Sementara itu, ibu tiga putri ini membanderol Sabun Langis batang dengan harga Rp15.000 per buah, sabun cair seharga Rp25.000 per 250 mililiter, dan produk baru berupa sabun cuci tangan senilai Rp10.000 per 500 mililiter. 

4. Cloth diappers/Clodi dan pembalut pakai ulang

Pengalaman memiliki anak yang terkena iritasi kulit karena menggunakan popok bayi sekali pakai, telah membawa Indah Nur Aini menjadi salah satu pengusaha popok kain alias cloth diapers (clodi) terbesar di Indonesia. 

Ibu tiga anak ini bercerita, karena iritasi kulit yang dialami anak pertamanya, Indah mendapat saran dari seorang teman yang sedang menjalani studi di Kanada untuk mengganti popok sekali pakai dengan popok kain. Teman tersebut juga mengirimkan beberapa popok kain untuknya. 

Popok tersebut sekilas mirip dengan popok sekali pakai, namun bahan yang dipakai berbeda, yakni kain membrane yang halus dan tidak menyebabkan iritasi. “Setelah itu, saya cari dari produk lokal, tapi enggak ada yang bahannya sama. Kalaupun ada, harganya selangit,” kisahnya, kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu. 

Pada akhirnya, pemilik jenama clodi Gee Gallery (GG) ini memutuskan untuk membuat sendiri popok kain untuk anaknya. Di mana saat itu, yaitu pada 2010, Indah membeli kain membrane dari pengimpor kain dengan harga Rp10 juta untuk 100 meter kain. Dari 100 meter kain, dihasilkanlah 900 buah popok kain. 

Karena terlalu banyak, perempuan yang lebih dikenal sebagai Indah Sajidin ini lantas menjual kepada ibu-ibu lain yang memiliki nasib serupa dengan dirinya. Tak disangka, dalam waktu dua minggu, Indah telah mampu menjual stok clodinya. Seiring waktu berlalu, GG pun menambah variasi produknya dengan meluncurkan pembalut atau sanitary pad kain.

“Jadi kami memang menyediakan kebutuhan untuk bayi sekaligus ibunya,” ujar dia.

Tingginya minat masyarakat untuk membeli clodi, kata dia, karena popok pakai ulang ini dinilai lebih nyaman dan murah, selain juga dapat sekaligus menjaga bumi. Karena tidak ada sampah yang dihasilkan dari clodi maupun pembalut kain.

“Keduanya mau dicuci 500 kali juga tidak masalah. Meskipun kelihatannya mahal, tapi ini sebenarnya mahal di awal saja. Setelah itu ibu tidak perlu membeli stok (popok) lagi tiap bulan,” tutur perempuan yang memulai bisnisnya pada 2010 ini.

Cloth diapers (clodi) dapat digunakan berulang-ulang sehingga tidak menimbulkan sampah. Foto Pixabay.com.

Sebelas tahun berselang, kini GG dapat menjual ribuan popok kain tiap bulannya. Selain memasarkannya sendiri melalui laman resmi, media sosial, hingga marketplace, Indah juga telah memiliki 15 distributor yang ada di Indonesia dan Malaysia, serta 125 agen yang tersebar di seluruh tanah air. Dengan kondisi ini, Indah pun mampu membukukan omzet setidaknya Rp150-Rp200 juta per bulan. 


 

Berita Lainnya