logo alinea.id logo alinea.id

Pengangguran dari SMK dan perguruan tinggi paling besar

Jumlah yang menganggur dari lulusan SMA dan perguruan tinggi paling besar.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 14 Mar 2019 20:27 WIB
Pengangguran dari SMK dan perguruan tinggi paling besar

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan jumlah penganggur dengan latar belakang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi masih besar hingga 2018. Di sisi lain, jumlah penganggur dari latar belakang pendidikan lain cenderung mengalami penurunan.

“Inilah problem utamanya, yang terampil dan terdidik naik tingkat penganggurannya. Ini mungkin banyak masalahnya,” kata Peneliti Indef Eko Listiyanto di Jakarta, Kamis (14/3).

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dipaparkan Indef, angkatan kerja per Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, sebesar 94,66% atau 124,01 juta adalah pekerja. Sementara sisanya 5,34% atau 7 juta adalah penganggur.

Jumlah yang menganggur dari lulusan SMA paling besar yakni sebanyak 1,93 juta atau 27,57% dan SMK 1,73 juta penganggur atau 24,74%. Sementara itu, jumlah penganggur lulusan pendikan akademisi sebanyak 220.000 (3,16%) dan sisanya penganggur lulusan akademisi universitas sebanyak 730.000 (10,42%) penganggur.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pengangguran berlatar belakang SMK atau perguruan tinggi terus meningkat. Salah satunya, terlalu memilih pekerjaan yang hendak dijalani selepas dunia pendidikan.

Kemudian, ada kemungkinan kemampuan atau skill yang dimiliki lulusan SMK dan perguruan tinggi tidak sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. 

“Mulai dari kecocokan skill yang diperoleh dengan permintaan dunia kerja. Banyak mungkin institusi pendidikan masih gunakan kurikulum yang nanti tak lagi digunakan industri,” kata Eko. 

Belum siap untuk revolusi industri 4.0

Sponsored

Sementara, Ekonom Senior INDEF Fadhil Hasan menyatakan banyaknya pengangguran di Indonesia juga disebabkan kemampuan sejumlah angkatan kerja belum sesuai kebutuhan dunia kerja. 

Menurut dia, pendidikan keahlian tenaga kerja Indonesia masih ketinggalan zaman atau berada pada era ekonomi 1.0 atau 2.0. Sementara perkembangan masyarakat dan ekonomi sudah mengarah pada 4.0.

"Kalau dilihat, terus terang ada gap antara perkembangan perekonomian dengan kesiapan daripada tenaga kerja kita. Padahal kita tahu di era digital ekonomi hampir 60% tenaga kerja akan digantikan dengan berbagai teknologi," ujar dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angkatan kerja per Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, sebesar 94,66% atau 124,01 juta adalah pekerja. Sementara sisanya 5,34% atau 7 juta.

Dilihat dari tingkat pendidikan, pada Agustus 2018, Tingkat pengangguran terbuka (TPT)  untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 11,24%. 

TPT tertinggi berikutnya terdapat pada Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,95%. Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja yang tidak terserap, terutama pada tingkat pendidikan SMK dan SMA. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja. 

Hal itu dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan, yaitu sebesar 2,43%. Adapun TPT SMP sebesar 4,8%. TPT Diploma sebesar 6,02% dan TPT universitas 5,89%.

Dibandingkan kondisi setahun yang lalu, peningkatan TPT hanya terjadi pada tingkat pendidikan Universitas, sedangkan TPT pada tingkat pendidikan lainnya menurun.