sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

PUPR siapkan rantai pasok material konstruksi ibu kota baru

Material dan alat konstruksi di Kalimantan saat ini masih harus didatangkan dari luar pulau.

Ardiansyah Fadli
Ardiansyah Fadli Selasa, 03 Sep 2019 16:07 WIB
PUPR siapkan rantai pasok material konstruksi ibu kota baru

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan rantai pasok industri konstruksi untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Hal ini dilakukan karena suplai material dan konstruksi pembangunan infrastruktur di Kalimantan masih berasal dari luar pulau. 

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin mengatakan perlu adanya efisiensi dan efektifitas dalam menyediakan pasokan material dan peralatan konstruksi untuk mempercepat pembangunan ibu kota baru.

"Ini sangat penting karena kalau antara supply dan demand-nya terjadi gap yang sangat tinggi, ini juga akan berpengaruh terhadap anggaran," kata Syarif dalam jumpa pers di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa (3/9). 

Syarif mengungkapkan material yang penting dalam pembangunan infrastruktur yakni aspal, semen, baja, dan alat berat. 

Berdasarakn data dari ahli pracetak dan prategang Indonesia (IAPPI), untuk membangun rumah aparatur sipil negara (ASN) di ibu kota baru diperkirakan membutuhkan material beton pracetak sebesar 20 juta ton. 

"Ini di luar estimasi untuk kota baru, jadi kalau diakumulasi secara keseluruhan, memang akan kembali pada apakah kita siap, jangan-jangan lebih banyak impornya," lanjutnya. 

Rantai pasok konstruksi nasional

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Anita Firmanti rantai pasok industri konstruksi juga akan disiapkan untuk tingkat nasional.

Sponsored

Anita menjelaskan rantai pasok atau supply chain merupakan sistem yang terkoordinasi dari berbagai pihak yaitu owner, arsitek atau konsultan, kontraktor, subkontraktor, pemasok berbagai jenis material, penyedia jasa dan alat.

Anita menjelaskan untuk meningkatkan kinerja rantai pasok industri konstruksi tersebut, pihaknya masih menemui beberapa kendala di antaranya belum adanya informasi kebutuhan (demand) material dan peralatan konstruksi yang akurat dan komprehensif, masih terjadi kelangkaan dan kemahalan material dan peralatan konstruksi, dan tingginya ketergantungan impor.

"Sistem pendukung logistik kita juga belum merata, dan belum adanya regulasi yang khsusu mengatur rantai pasok material dan peralatan konstruksi," ujarnya. 

Menurut Anita, pihaknya akan melakukan konsep Agile Supply Chain Management atau manajemen rantai pasokan yang gesit sebagai kemampuan organisasi untuk merespons secara cepat dan dinamis perubahan kebutuhan pasar. 

"Agile (gesit) dalam konteks rantai pasok yang berfokus pada responsivitas dan menunjukkan kerja sama untuk meningkatkan daya saing dalam industri konstruksi, sehingga terjadi perbaikan terus menerus dalam penyelenggaraan rantai pasok material dan peralatan konstruksi," jelasnya. 

Anita menekankan pentingnya sinergisitas antar pemangku kebijakan untuk meningkatkan kinerja rantai pasok industri konstruksi tersebut.