sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani minta belanja negara 2020 dioptimalkan

Belanja negara lewat bantuan sosial dan belanja kementerian akan mendongkrak konsumsi.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Selasa, 28 Jan 2020 16:23 WIB
Sri Mulyani minta belanja negara 2020 dioptimalkan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 2273
Dirawat 1911
Meninggal 198
Sembuh 164

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengimbau jajaran menteri di  Kabinet Indonesia Maju untuk mempertahankan belanja negara sesuai dengan kebijakan counter cyclical yang telah ditempuh pemerintah.

Sri menjelaskan, meski penerimaan negara dari pajak mengalami tekanan dan pertumbuhan investasi minim, belanja sebagai instrumen untuk meningkatkan konsumsi harus terus digelontorkan.

"Kita akan terus memperhatikan para menteri baru karena mereka punya ide berbeda. Sehingga kita terus memberi warning bahwa belanja ini harus dilakukan. Jangan sampai perubahan program merubah kebijakan yang ada sebelumnya," katanya di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (28/1).

Sri menuturkan belanja harus terus didorong, baik dengan mempercepat penyaluran bantuan sosial maupun belanja di kementerian dan lembaga.

"Jadi para menteri baru tetap bisa melakukan eksekusi belanja. Ini kita tekankan sehingga di 2020 belanja kementerian bisa tetap jadi support system perekonomian," ujarnya.

Untuk itu, dia memprediksi di awal 2020 akan terjadi pelebaran defisit dari target sebesar 1,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Hal yang sama telah terjadi pada 2019, saat penerimaan negara anjlok, namun pemerintah mengambil kebijakan dengan menggenjot belanja hingga defisit melebar menjadi 2,2%, dari target 1,84% di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

"Melihat penerimaan, kita akan melihat kemungkinan pelebaran, namun melihat dinamika global kita akan tetap pakai 1,76% sampai semester I. Kita lihat nanti," ucapnya.

Sponsored

Bercermin pada tahun 2019, Sri Mulyani mengatakan, dengan kondisi perekonomian global yang belum stabil di awal tahun, gejala yang sama mungkin terjadi di 2020. 

Sehingga, opsi untuk terus memperlebar defist di tengah merosotnya ekspor, impor dan, investasi yang masuk ke dalam negeri menjadi pilihan yang mungkin diambil.

"Investasi, ekspor kontraktif, impor kontraktif semua, menggambarkan perlemahan yang harus di-counter. Tahun 2019 sengaja membiarkan space K/L dan daerah untuk terus belanja meskipun kita mengalami tekanan," jelasnya.

Berita Lainnya