sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tingginya persaingan makanan siap saji saat pandemi, UMKM ini berhasil bertahan via etalase daring

Pemanfaatan platform digital jadi kunci untuk tetap bersaing di tengah menjamurnya penjual sambal siap saji kala pandemi.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Selasa, 24 Agst 2021 07:10 WIB
Tingginya persaingan makanan siap saji saat pandemi, UMKM ini berhasil bertahan via etalase daring

Bagi Saut Situmorang (62), sulit bertahan hidup tanpa sambal. Hidangan pedas pelengkap menu ini harus selalu ada di tiap sesi makan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) era 2015-2019 itu. Bahkan, saat masih bekerja di lembaga antirasuah, sang istri selalu membawakannya bekal makan siang dengan sambal.

“Sambal dari yang sederhana, tiga bahan kecap, cabai, bawang, sampai yang lebih kompleks pakai asam atau bunga Kincung (Honje/Kecombrang),” ujarnya kepada Alinea.id saat ditemui, belum lama ini.

Pria asal Sumatera Utara ini mengaku jika tidak ada sambal, paling tidak ada cabai rawit yang disantap bersama lauk-pauk. Bahkan, ia mengaku sang istri tidak pernah kehabisan cabai di rumah demi memenuhi seleranya makan pedas.

Meski pedas menggigit, namun sambal menurutnya harus dinikmati. Ia pun anti minum air ketika pedas cabai memenuhi mulutnya. “Nikmatin saja nanti juga hilang sendiri pedasnya,” selorohnya.

Ilustrasi Pixabay.com.

Lain lagi bagi Nur Utami (54). Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini mengonsumsi sambal sesuai menu masakan. “Kalau makan sayur asem, harus pakai sambal. Kalau sayur sop, enggak perlu,” ujarnya ketika berbincang dengan Alinea.id, Kamis (19/8).

Beberapa kali ia juga memesan sambal siap saji secara daring. Tergiur karena melihat iklan di media sosial, Tami, begitu ia akrab disapa, memesan sambal kemasan itu. “Hanya sesekali saja, lebih enak bikin sendiri sih,” cetusnya.

Cuan bisnis sambal

Sponsored

Di Indonesia sendiri, sambal kini bisa dengan mudah ditemui di pasaran. Beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengolah makanan pedas ini dan dikemas dalam botol plastik, kaca, maupun kaleng. Sebut saja sambal terasi, sambal matah, sambal ijo, sambal bajak, dan lain-lain.

Pandemi memicu kian banyaknya masyarakat yang mencoba peruntungan di sektor ini. Akibatnya, persaingan semakin meningkat. Dibutuhkan strategi jitu agar sanggup bertahan dan meningkatkan penjualan.

Salah satu pelaku bisnis sambal adalah Imam Masyhuda. Sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan pelat merah, awalnya ia harus menerima konsekuensi dimutasi tiap dua tahun sekali. Padahal, pria yang berdomisili di Balikpapan, Kalimantan Timur ini sudah memiliki bisnis sampingan yakni berjualan sambal Roa.

Karenanya, ia merasa tak sanggup harus terus-menerus berpindah kota hingga ke pelosok sembari membesarkan bisnis. Akhirnya, pada Januari 2019, Imam memberanikan diri untuk undur diri dari posisinya di BUMN.

“Teman-teman tanya, memang mau ngapain resign? Saya bilang, mau jualan sambal,” ujarnya, ketika berbincang dengan Alinea.id, Rabu (18/8).

Nyatanya, meski sempat diremehkan, keputusan Imam ini benar-benar mengubah jalan hidup keluarga kecilnya. Lelaki 29 tahun ini meyakini bisnis sambal Roa yang kala itu masih jarang dijual akan sangat prospektif.

Ayah dua anak ini pun menceritakan perkenalannya dengan sambal Roa beberapa tahun lalu saat masih kuliah tingkat akhir. Ia mencicipi hidangan khas Manado, Sulawesi Utara itu dari sang mertua yang asli daerah tersebut. 

“Saya belum pernah makan, waktu itu pertama mencoba, ternyata enak sekali,” tuturnya.

Ia dan sang istri pun belajar meracik sambal yang terbuat dari ikan yang bernama latin Hemiramphus Brasiliensis itu. Tak disangka, saat membagikan sambal racikannya, Imam mendapat testimoni positif dari teman dan kerabatnya. Akhirnya, ia memutuskan menjual sambal Roa dibantu sang istri.

Ilustrasi Pixabay.com.

Dengan modal seadanya selama tiga bulan pertama, bisnis ini tak ada pemasukan sama sekali. Ia juga harus mengerjakan semua proses dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran hanya berdua bersama istrinya. Lambat laun, ketekunannya membuahkan hasil. Penjualan pun terus meningkat hingga ia bisa merekrut empat karyawan.

Lulusan Sistem Informasi ini pun mengaku tak lagi kelimpungan memenuhi pesanan dengan bantuan karyawan. Saat itu, omzet per bulan produknya dengan jenama Sambal Raja Roa bisa mencapai Rp50 juta. Sayangnya, beberapa bulan setelah resign, ujian justru datang berupa pandemi Covid-19.

Penjualan langsung anjlok bahkan omzet susut hingga 80%. “Setelah Mei 2020 atau setelah Lebaran, penjualan benar-benar turun,” kisahnya.

Menurutnya, ini disebabkan masyarakat ragu membeli makan dari luar rumah. Apalagi, kata dia, sambal sendiri bukanlah kebutuhan pokok yang harus dikonsumsi setiap hari. Karenanya, ia pun maklum jika masyarakat hanya berbelanja barang prioritas.

Untungnya, Imam sudah bergabung dengan ekosistem digital untuk memasarkan produknya. Salah satunya adalah Tokopedia yang dirasa sangat membantu penjualannya yang turun karena pandemi.

“Sebelum pandemi, penjualan terbesar berasal dari aplikasi chatting,” ujarnya.

Namun setelah pandemi, lanjutnya, penjualan tertinggi justru dari marketplace. Bahkan, Tokopedia sendiri berkontribusi 50% terhadap penjualan beberapa bulan terakhir ini. Menurutnya, hal ini tak lepas dari upaya Tokopedia yang selalu memfasilitasi seller-nya.

“Ada tim dari Tokopedia yang selalu menghubungi kalau ada kampanye, promo, seperti kemarin 17 Agustus, pasti diinfokan. Jadi saya justru merasa seperti pelanggan,” ungkapnya.

Karenanya, Imam bersyukur meski omzet belum balik seperti masa sebelum pandemi, namun secara perlahan marketplace bisa meningkatkan penjualan dalam beberapa bulan terakhir. 

"Omzet saya melonjak hingga 3x lipat setelah mengikuti kampanye Kumpulan Toko Pilihan (KTP) di Tokopedia," cetusnya.

Ia mencontohkan, sejak memakai fitur TopAds di Tokopedia, ada satu order yang mencapai Rp2 juta sekali transaksi. Produk sambal pesanan pembeli tersebut bahkan terbang hingga Kamboja. Pasalnya, si pembeli lalu mengirimkankan kembali pesanannya untuk kerabatnya di negara yang dijuluki Land of the Khmer tersebut.

“Pembeli menginfokan melalui kolom chat di aplikasi bahwa orderan itu sudah terbang ke Kamboja,” ujarnya.

Menurut Imam, fitur seperti Top Ads, inisiatif Hyperlocal, dan kampanye-kampanye lainnya sangat membantu terutama dalam mendongkrak penjualan.

Untuk bertahan di bisnis ini, Imam menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa. Dengan begitu, repeat order pun akan tinggi. Imam selalu menimbang setiap bahan baku agar komposisi rasa konsisten serta menggunakan bahan-bahan alami. Ikan Roa ia datangkan langsung dari Manado, sementara bahan lain sudah tersedia di Balikpapan.

Ia juga menggunakan minyak goreng sebagai pengawet alami. Selain proses yang higienis, penggunaan bahan alami ini juga terbukti membuat produknya lebih tahan lama. 

Selain itu, ia juga kerap berinovasi agar pelanggan tak bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Saat ini, Sambal Raja Roa sudah memiliki empat varian, yakni Raja Roa, Cakalang, Baby Cumi, dan Eby. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan meluncurkan sambal Matah yang berasal dari Bali.

“Yang paling laris sambal Roa dan sambal Cakalang,” sebutnya.

Kini, Sambal Raja Roa sudah melanglang buana ke seluruh nusantara. Aceh, Kalimantan, Papua, Jakarta, bahkan Manado tempat asal sambal Roa itu sendiri. “Paling banyak tetap dari Jakarta, kemudian Kalimantan,” jelasnya.

Ke depan, Imam mengaku akan terus berinovasi untuk menjangkau pelanggan-pelanggan baru yang tidak menyukai sambal Roa. Selain itu tentunya dengan tetap memasang iklan sebagai sarana promosi di marketplace.

Kategori lauk

Pakar Kuliner William Wongso menilai prospek pemasaran sambal nusantara dalam kemasan botol cukup baik. Namun, dia menekankan pada aspek higienitas dan lama olahan sambal itu bisa bertahan.

“Umumnya ada yang pakai pengawet, menurut saya itu enggak masalah asal jumlahnya masih dalam toleransi,” ujarnya kepada Alinea.id, Rabu (18/8).

Namun, harus diakui sambal kemasan botol tidak akan bertahan lama di suhu ruang jika sudah dalam keadaan dibuka. Untuk itu, William menyarankan agar konsumen memperhatikan faktor ini.

“Konsumen harus tahu kalau sudah dibuka, maka harus masuk kulkas,” tambahnya.

Lebih lanjut, Chef yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia ini menilai sudah banyak jenis sambal yang menambahkan protein ke dalam olahan sambal. Sebut saja, ikan, udang, hingga cumi-cumi.

“Nah ini sudah masuk kategori lauk, jadi bisa disantap dengan nasi saja,” sebutnya.

Untuk varian sambal Roa, misalnya, William menyebut bahan baku utama yaitu ikan Roa atau juga sering disebut ikan Gepe harus diperhatikan betul kualitasnya. Jika kualitas ikannya baik, ditambah dengan proses pembuatan yang higienis, maka olahan ini bisa bersaing di pasaran.

Dia menyarankan agar pelaku kuliner yang memproduksi sambal, juga memperhatikan faktor kemasan yang menarik dan bisa menjaga kualitas sambal. Sementara soal rasa, ia meyakini, setiap jenama sambal memiliki ciri khasnya masing-masing.
Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo. 
 

Berita Lainnya