sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Coronavirus: Korea Utara akhiri karantina bagi warga asing

Karantina bagi warga asing di Korea Utara berlangsung selama satu bulan.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 05 Mar 2020 11:17 WIB
Coronavirus: Korea Utara akhiri karantina bagi warga asing

Korea Utara mengakhiri masa karantina yang telah berlangsung selama sebulan bagi lebih dari 300 warga asing, sebagian besar adalah diplomat yang bertugas di Ibu Kota Pyongyang. Karantina yang diberlakukan sejak akhir Januari itu bertujuan untuk mencegah penyebaran coronavirus jenis baru.

"Saya tidak pernah sebahagia ini berdiri di Kim Il Sung Square," twit Duta Besar Swedia untuk Korea Utara Joachim Bergstrom pada Selasa (3/3).

Kedutaan Besar Rusia di Korea Utara pada Rabu (4/3) menyatakan bahwa sejak Senin (2/3), para diplomat beserta keluarga masing-masing telah diizinkan ke luar untuk mengunjungi sejumlah lokasi yang diperbolehkan untuk diakses.

"Dalam pengumuman baru dari Kementerian Luar Negeri Korea Utara, kami diberitahu bahwa sejak 2 Maret setelah masa karantina berakhir, sejumlah tempat di Pyongyang termasuk Taedonggang Diplomatic Club, serta toserba Rakwon dan Taeseong akan tetap dibuka bagi para diplomat," jelas Kedubes Rusia melalui unggahan di Facebook.

Kedubes Rusia menjelaskan bahwa seluruh diplomat dan anggota keluarga mereka telah diperiksa oleh dokter dan menerima sertifikat kesehatan sebelum diperbolehkan keluar dari kediaman masing-masing.

Korea Utara sejauh ini belum mengonfirmasi kasus penularan wabah coronavirus, yang berasal dari negara tetangga China. Pemerintah telah mengambil langkah pencegahan dengan memberlakukan karantina selama sebulan bagi siapa pun yang menunjukkan gejala coronavirus serta secara khusus bagi warga asing di negara itu.

Media lokal mengatakan bahwa pemerintah Korea Utara telah mengambil langkah-langkah dengan intensitas tinggi demi mencegah penyebaran coronavirus, termasuk memperkuat pemeriksaan di perbatasan, serta menangguhkan perjalanan udara dan kereta dari dan ke luar negara tersebut.

Sponsored

Pada awal pekan, televisi pemerintah China melaporkan bahwa Korea Utara akan menyediakan penerbangan dari Pyongyang ke Vladivostok, Rusia, bagi warga negara asing yang ingin meninggalkan negara itu.

Ahli Korea Utara di Korea University, Nam Sung-wook, meyakini bahwa Pyongyang sebenarnya sudah mencatat kasus penularan coronavirus.

"Saya 100% yakin bahwa Korea Utara telah memiliki pasien yang terinfeksi," kata dia.

Dia menambahkan, jika Korea Utara mengalami krisis epidemi seperti yang terjadi di Korea Selatan, maka itu akan menyebabkan kekacauan serius karena kurangnya pasokan tenaga medis dan obat-obatan. 

Korea Selatan merupakan negara yang mencatat kasus infeksi tertinggi di luar China. Sejauh ini, negara itu mendeteksi 5.766 kasus penularan dan 35 kematian.

"Jika kasusnya seperti Korea Selatan, Korea Utara akan menjadi tidak berdaya," jelas Nam Sung-wook.

Utusan Khusus PBB untuk Urusan Hak Asasi Manusia di Korea Utara Tomas Ojea Quintana mendesak Korea Utara untuk mengizinkan akses penuh dan tanpa hambatan bagi para ahli medis dan lembaga kemanusiaan. Dia juga meminta Pyongyang mengangkat pembatasan atas akses informasi.

"Isolasi diri bukanlah jawaban," ujar dia.

Quintana mengatakan bahwa sebagian besar warga Korea Utara, terutama yang berada di wilayah pedesaan, tidak memiliki akses yang layak bagi layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi. Dia menambahkan, 43% dari penduduk negara itu kekurangan gizi.

Amerika Serikat juga menyatakan kekhawatiran terkait kerentanan Korea Utara dalam menghadapi wabah coronavirus. Washington mengatakan pihaknya siap mendukung upaya untuk mencegah penyebaran virus di negara tersebut. (Reuters, Yonhap, dan Japan Times)

Berita Lainnya