sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

India bailout US$22 miliar untuk orang miskin

Itu ditujukan untuk membantu orang miskin melawan dampak ekonomi dari pandemik Covid-19.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 27 Mar 2020 07:02 WIB
India bailout US$22 miliar untuk orang miskin
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

India mengumumkan bailout sebesar US$22 miliar bagi orang miskin dalam upaya membantu mereka melawan dampak ekonomi dari pandemik Covid-19.

"Kami tidak ingin ada orang yang kelaparan, dan kami tidak ingin siapa pun tidak punya uang," ujar Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman seraya menambahkan bahwa paket yang termasuk makanan gratis dan bantuan langsung tunai itu diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan bantuan segera.

Selain itu, Nirmala juga mengumumkan bahwa petugas kesehatan akan mendapat asuransi kesehatan hingga US$66.500.

Hingga berita ini diturunkan, India mencatat 719 kasus infeksi Covid-19, di mana 16 di antara meninggal dan 45 lainnya sembuh.

Bagaimana pun jumlah bailout tersebut hanya 1% dari PDB India, sangat kontras dengan AS dan Singapura yang menghabiskan sekitar 10% dari PDB mereka untuk paket serupa. Meski demikian, bisa jadi ini baru tahap pertama dan paket serupa akan diumumkan kemudian.

Perekonomian India tengah dalam perlambatan parah sebelum akhirnya negara itu memutuskan menerapkan lockdown skala nasional, yang berarti penutupan tempat kerja, pabrik, dan memengaruhi jutaan pekerja harian dan pekerja informal. Mereka membentuk sektor informal India yang luas, yang merupakan bagian besar dari tenaga kerjanya.

Lockdown dan social distancing telah membuat banyak dari mereka tanpa sarana yang layak untuk mendapat penghasilan. Banyak yang mengungkap kekhawatiran bahwa mereka bisa kelaparan.

Pertumbuhan India telah merosot ke 4,7% bulan lalu, laju paling lambat dalam beberapa tahun terakhir, karena penurunan tajam dalam manufaktur memengaruhi kesehatan ekonomi secara keseluruhan.

Sponsored

Barclays memprediksi bahwa India akan menanggung biaya lockdown sekitar US$120 miliar atau 4% dari PDB negara itu.

Nirmala, yang juga kepala satuan tugas ekonomi, mengatakan bahwa pekerja di bawah skema jaminan kerja akan mendapatkan kenaikan upah, dan bahwa penerima skema kesejahteraan lainnya juga akan mendapatkan manfaat, seperti tabung gas gratis. (BBC)

Berita Lainnya