sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jusuf Kalla terima penghargaan atas kontribusinya dalam diplomasi

Wamenlu Mahendra Siregar menggambarkan sosok JK sebagai negosiator ulung dan kebanggaan Indonesia.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 23 Jan 2020 18:18 WIB
Jusuf Kalla terima penghargaan atas kontribusinya dalam diplomasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Kementerian Luar Negeri RI dan Yayasan Sekar Manggis memberikan penghargaan "Anugerah untuk Keunggulan dalam Diplomasi" kepada mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada Kamis (23/1).

"Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Kemlu RI dan para dewan juri atas penghargaan ini," tutur pria yang akrab disapa JK dalam sambutannya di Gedung Nusantara, Kemlu RI, Jakarta.

Dia menekankan bahwa diplomasi merupakan alat untuk meningkatkan kerja sama internasional.

Berdiplomasi, lanjut JK, sejalan dengan pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar menyebut bahwa penganugerahan kepada JK merupakan pengakuan atas kontribusinya di bidang diplomasi.

"Bapak Jusuf Kalla merupakan negosiator ulung dan simbol kebanggaan bagi kita semua. Kiprah beliau telah teruji dan terbukti dalam berbagai misi perdamaian," ungkap Wamenlu Mahendra.

Di dalam negeri, kata Mahendra, JK berperan besar dalam penyelesaian konflik di Poso, Aceh, dan Ambon. Sementara itu, di kancah regional, dia dianggap sebagai juru runding yang disegani.

"Kemudian di tataran internasional, beliau berperan menyebarkan benih-benih perdamaian di Afghanistan," sambung dia.

Sponsored

Menurut Mahendra, JK menggunakan diplomasi untuk mengedepankan kemanusiaan dan mendorong upaya dialog. Dia menuturkan bahwa JK juga mencetuskan terobosan baru yakni "diplomasi tangan di atas" sebagai suatu paradigma yang memperkuat instrumen diplomasi Indonesia.

"Paradigma baru ini menyatakan bahwa keberhasilan dalam diplomasi bukan dari apa yang kita peroleh, tetapi apa yang bisa Indonesia berikan kepada dunia," kata dia.

"Anugerah untuk Keunggulan dalam Diplomasi" terinspirasi dari pendirian Ide Anak Agung Gde Agung yang pernah menjabat sebagai menteri luar negeri pada era pemerintahan Presiden Soekarno bahwa semua konflik harus dapat diselesaikan secara damai melalui sarana diplomasi dibanding kekerasan.

Selain JK, sejumlah tokoh pernah menerima anugerah ini, antara lain Mohammad Hatta, Adam Malik, Mochtar Kusumaatmadja, dan Ali Alatas.

Berita Lainnya