logo alinea.id logo alinea.id

Korea Utara alami kekeringan parah, kelaparan menghantui

PBB memperkirakan 10 juta orang atau 40% dari populasi di Korea Utara sangat membutuhkan makanan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 16 Mei 2019 15:02 WIB
Korea Utara alami kekeringan parah, kelaparan menghantui

Korea Utara mengalami kekeringan terburuk dalam 37 tahun terakhir. Rakyat diminta untuk berperang melawan kerusakan tanaman yang disebabkan oleh kekeringan.

Pernyataan itu datang setelah PBB mengatakan sekitar 10 juta warga Korea Utara sangat membutuhkan bantuan makanan. Laporan PBB menyebutkan sepanjang tahun ini warga Korea Utara telah bertahan hidup hanya dengan 300 gram makanan per hari. 

Pada 1990-an, kelaparan yang menghancurkan diyakini telah menewaskan ratusan ribu warga Korea Utara. Belum ada indikasi bahwa kekeringan ini akan sama parahnya, tetapi peringatan datang soal panen yang buruk dan kerusakan tanaman di seluruh negeri.

"Belum jelas seberapa buruk keadaannya, mengingat segala sesuatu yang berkaitan dengan Korea Utara, datanya hampir tidak transparan," kata Oliver Hotham dari NK News, laman berita khusus Korea Utara.

Tetapi, dia mengatakan bahwa jika data resmi akurat, penelitian mereka menunjukkan Korea Utara perlu mengimpor sebanyak 1,5 juta ton makanan untuk menebus kekurangan produksi.

Seberapa buruk kekeringan di Korea Utara?

Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, melaporkan curah hujan dalam lima bulan terakhir hanya 54,4mm. Ini adalah level terendah yang tercatat sejak 1982.

Surat kabar terkemuka negara Korea Utara, Rodong Sinmun, menambahkan air sangat dibutuhkan sekarang lebih dari sebelumnya. Mereka menyebutkan negara pimpinan Kim Jong-un itu tengah dalam pertempuran sengit untuk mencegah kerusakan akibat kekeringan.

Sponsored

"Pekerja di sektor pertanian harus ... sekuat tenaga melindungi ladang pertanian dari kerusakan kekeringan," katanya.

Bulan lalu, Program Pangan Dunia PBB (WFP) serta Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dalam laporan bersama menulis bahwa hasil panen Korea Utara pada 2018 mencapai level terendah sejak 2008. Diperkirakan 10 juta orang atau 40% dari populasi negara itu sangat membutuhkan makanan.

Laporan itu menambahkan bahwa jika tindakan tidak diambil, situasinya dapat semakin memburuk selama musim paceklik dari Mei hingga September.

Peranan sanksi

Sanksi terhadap Pyongyang telah ditingkatkan sejak 2006, sebagai upaya menghentikan pendanaan untuk program nuklir Korea Utara. Sanksi telah mengempiskan ekspor negara itu dan tidak jelas berapa banyak mata uang asing yang dimiliki Korea Utara saat ini untuk membeli impor makanan.

Sanksi tidak melarang bantuan kemanusiaan dan bahkan mencegah Korea Utara mengekspor makanan yang dapat digunakan untuk memberi makan penduduknya.

Tetapi hanya segelintir kelompok yang disetujui yang dapat memberikan bantuan ke Korea Utara. Laporan mengatakan kelompok-kelompok yang bekerja di dalam negara itu menghadapi lingkungan yang semakin sulit karena jaring sanksi yang kompleks.

Pada 2017, LSM Save the Children meninggalkan Korea Utara setelah menyatakan bahwa sanksi membuatnya terlalu sulit untuk beroperasi.

Bukan kali pertama

Pada 2017, Korea Utara menderita kekeringan yang serius, yang menghancurkan produksi tanaman pokok seperti beras, jagung, kentang, dan kedelai. Tidak diketahui persis apa dampaknya, tetapi laporan kemudian mengatakan banyak yang menghadapi kekurangan gizi dan kematian.

"Korea Utara sangat rentan terhadap bencana alam semacam ini karena keterbelakangan banyak teknologi pertaniannya serta masalah kesehatan masyarakat dan pangan yang sudah ada sebelumnya di negara itu," kata Hotham.

Pada 1990-an, ratusan ribu warga Korea Utara disebut tewas akibat kelaparan yang serius. Kelaparan pada masa itu memaksa Korea Utara mencari bantuan dari badan-badan internasional untuk pertama kalinya.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB