sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Langgam diplomasi Putin di atas 'rumput'

Bukan kali pertama Vladimir Putin memanfaatkan ajang kontestasi olahraga sebagai alat diplomasinya.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 09 Jul 2018 11:41 WIB
Langgam diplomasi Putin di atas 'rumput'
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Tak hanya pada gelaran akbar Piala Dunia kali ini Vladimir Putin melakukan diplomasi lewat olahraga. Sebelumnya, ia pernah menggunakan cara serupa lewat ajang olimpiade musim dingin yang digelar di Sochi, Rusia pada 2014.

Bagi pemerintah mana pun, menjadi tuan rumah di acara olahraga akbar adalah kesempatan untuk menunjukkan pada dunia, imaji positif dari negara mereka. Rusia sendiri bukanlah negara pertama yang melakukan diplomasi lewat olahraga. Baru-baru ini misalnya, negara super tertutup Korea Utara juga melakukan hal yang sama.

Tetangga Korea Utara, Korea Selatan menjadi tuan rumah untuk olimpiade musim dingin 2018 di Pyeongchang. Tensi politik yang tinggi antara dua negara bertetangga tersebut memang tak pernah menurun sejak 1950-an. Namun, pada gelaran olimpiade musim dingin di Pyeongchang, Kim Jong-Un akhirnya menurunkan egonya dan berjanji tak membuat manuver politik agar olimpiade berjalan lancar. Kim Jong-Un akhirnya memenuhi janjinya.

Sudah sejak lama olahraga memiliki sangkut paut dengan politik, begitu pula sebaliknya. Pada 1970, ada diplomasi ping-pong yang dilakukan China dan Amerika Serikat. Diplomasi ini mampu membuka jalan bagi dialog antara China dan AS, yang tak pernah berkomunikasi selama 22 tahun. Setahun setelah diplomasi tersebut, Presiden Amerika Richard Nixon, melawat ke Beijing sebagai Presiden pertama AS yang melakukan hal tersebut.

Jontahan Grix dan Paul Michael Brannagan dalam tulisannya yang berjudul "Of Mechanism and Myths: Conceptualising States 'Soft Power' Strategies Thorugh Sport Mega Event' mengatakan, jika olahraga sering digunakan sebagai alat diplomasi untuk meningkatkan prestise sebuah negara di mata dunia internasional. Selain itu, pesta olahraga akbar akan meningkatkan citra dan rasa suka untuk negara penyelenggara di panggung dunia.

“Rusia ingin menunjukkan soft power diplomacy, untuk menunjukkan kekeliruan tuduhan masyarakat internasional pada Rusia. Mereka juga bisa mendapatkan teman-teman dari negara lain untuk datang ke Rusia,” kata Marten Hanura, pengamat politik luar negeri kawasan Eropa dari Universitas Diponegoro saat dihubungi Alinea pekan lalu.

Hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat memang sedang dalam fase terburuk. Dua peristiwa yang menjadi kunci jeleknya citra Rusia di mata Uni Eropa dan AS adalah tuduhan AS yang mengatakan peretas Rusia meretas pemilu mereka dan peracunan mata-mata Rusia yang membelot, Sergei Skripal dan anaknya Yulia, di Inggris.

Buntut dari serangan racun tersebut, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa menarik duta besarnya dari Moskow sebagai bentuk dukungan pada Inggris. Sebelumnya, Inggris dan Rusia saling usir 23 diplomat dari negara masing-masing akibat perselisihan ini.

Sponsored

Jelang gelaran Piala Dunia, Inggris juga sempat mengancam akan memboikot Piala Dunia dan menghimbau suporter Inggris untuk tak datang ke Rusia. “Pasalnya, Inggris khawatir akan tindakan hooligan Rusia yang terkenal keras dan rasis,” kata Marten.

Kekhawatiran Inggris memang tak berlebihan. Pemain-pemain kulit hitam seperti Yaya Toure, Samuel Eto’o, Roberto Carlos, pernah mendapatkan tindakan rasis dari hooligan Rusia saat bertandang ke sana dengan klub mereka, maupun saat bermain dengan klub Rusia. Tindakan tersebut biasanya berupa yel-yel berbau rasis yang kadang menirukan suara monyet dan lemparan kulit pisang. Para hooligan menganggap para pemain kulit hitam tak ubahnya seperti monyet.

Namun, kekhawatiran Inggris tersebut tak terbukti. Hingga babak perdelapan final, Piala Dunia berjalan lancar. Belum ada laporan soal tindakan rasis atau onar yang dilakukan para hooligan Rusia ke suporter dari negara lain. “Putin cukup berhasil memasukkan golnya lewat soft power diplomacy dalam gelaran Piala Dunia ini,” kata Marten.

Apalagi, dalam pertandingan perdana Piala Dunia ketika Rusia membantai Arab Saudi 5-0, Putin dan Pangeran Salman dari Arab Saudi terlihat tertawa akrab dan berjabat tangan di ruang VIP. Marten melihat kejadian itu sebagai normalisasi hubungan Rusia dan Arab Saudi.

Sepakbola sebagai alat politik

Sebelum Putin, Benito Mussolini juga pernah menggunakan sepakbola sebagai alat diplomasi dan politik. Ide untuk memisahkan olahraga dan politik merupakan ide yang patut ditertawakan di Italia.

Presiden Rusia Vladimir Putin (tengah) dan Presiden FIFA Gianni Infantino (ka) mengunjungi World Cup Football Park untuk berpartisipasi dalam pembukaan sebuah pameran kompetisi sepakbola di Red Square di pusat Moskow, Rusia, Kamis (28/6)./ Antarafoto

Menurut Bill Murray dalam bukunya "The World’s Game: A History of Soccer", rezim fasis Mussolini adalah rezim yang pertama kali menggunakan olahraga sebagai bagian penting dari pemerintahannya. “Teknik ini nantinya ditiru juga oleh Hitler bersama Nazi,” ungkap Murray. Mussolini melihat kompetisi internasional sebagai alat propaganda yang kuat.

Murray juga mengatakan tim nasional tak ubahnya sebuah simbol dan berperan sebagai sesosok duta besar tak hanya bagi para politisi dan elit politik, tetapi juga bagi semua orang yang mengikuti sepkabola di seluruh dunia. Hubungan yang cair antara budaya, politik, dan sepakbola membuat tim dan pemainnya bisa dieksploitasi secara politis oleh para elit, dan bisa dibuat untuk merefleksikan semangat rezim.

Belum ada negara lain seperti Italia era Mussolini yang benar-benar memanfaatkan peran penting sepak bola untuk membawa semangat risorgimento, atau persatuan nasional. Nilai-nilai dari sepak bola bisa digunakan untuk mencerminkan retorika rezim fasis Mussolini.

Piala Dunia ke-2 tahun 1934 yang digelar di Italia begitu berarti bagi Mussolini. Propaganda rezim Mussolini dengan “visi harmoni, disiplin, keteraturan, dan keberanian” tercermin di lapangan oleh Tim Nasional Italia. Mussolini ingin menunjukkan pada dunia betapa rezim fasisnya bisa begitu efektif, terorganisir, dan produktif. Italia melangkah ke final dan memenangkan Piala Dunia 1934 setelah menumbangkan Cekoslovakia.

Sama seperti halnya Mussolini, Putin juga menggunakan sepak bola untuk menunjukkan kesuksesan rezimnya kepada Eropa dan seluruh dunia. “Putin dan Rusia mencoba menunjukkan kekuatan soft powernya melalui atraksi Piala Dunia ini,” ucap Marten.

Soft power, seperti yang dituturkan oleh Joseph Nye adalah kemampuan untuk mencapai tujuan melalui atraksi daripada melalui kekerasan. “Hasilnya, penggunaan paksaan menjadi kurang ditoleransi dalam masyarakat pasca-industri, dan akan mengarahkan pada meningkatnya pentingnya penggunaan soft power,” kata Nye.

Berita Lainnya