sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mantan Wapres AS jadi lawan tangguh Trump di Pilpres 2020?

Biden disebut-sebut sebagai sosok yang sudah lama dikhawatirkan Donald Trump akan muncul sebagai saingannya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 26 Apr 2019 13:25 WIB
Mantan Wapres AS jadi lawan tangguh Trump di Pilpres 2020?

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah sah masuk dalam daftar kandidat calon presiden dari Partai Demokrat untuk Pemilu 2020. Lewat pengumuman yang disampaikannya via video, Biden mengakhiri spekulasi yang seliweran selama berbulan-bulan.

"Nilai-nilai inti bangsa ... demokrasi kita, semua yang telah membentuk Amerika menjadi Amerika, dipertaruhkan," ungkap Biden dalam video deklarasi pencalonannya.

Biden disebut-sebut sebagai sosok yang sudah lama dikhawatirkan Donald Trump akan muncul sebagai saingannya.

Pria berusia 76 tahun ini telah dua kali mencalonkan diri untuk kursi kepresidenan, tepatnya pada 1988 dan 2008. Kini dia akan berhadapan dengan 19 penantang, termasuk Senator Elizabeth Warren, Kamala Harris dan Bernie Sanders.

Dalam videonya, Biden yang menjabat sebagai wapres Barack Obama, mengingatkan kembali komentar Trump saat merespons kerusuhan Charlottesville pada 2017 yang banyak dikritik.

"Di kedua sisi terhadap orang-orang yang sangat baik," kata Biden mengutip pernyataan Trump.

Menurut Biden, "Dengan kata-kata tersebut, Presiden AS menetapkan kesetaraan moral antara mereka yang menyebarkan kebencian dan mereka yang berani menentangnya ... Saya percaya sejarah akan melihat kembali pada empat tahun masa kepresidenan ini dan semua hal-hal menyimpang yang dilakukannya selama itu. Tapi jika kita memberi Donald Trump delapan tahun di Gedung Putih, dia akan selamanya dan secara fundamental mengubah karakter bangsa ini, yang mana kita, dan saya sendiri tidak bisa hanya berdiri dan menonton itu terjadi."

Sponsored

Merespons pencalonan Biden, juru bicara Obama mengatakan memilih Biden sebagai calon wapresnya adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dibuat Presiden ke-44 AS tersebut dan keduanya pun menjalin ikatan khusus. 

Namun, Obama tidak secara langsung mengumumkan dukungannya terhadap Biden.

Ketika ditanya oleh wartawan di Delaware mengapa Obama tidak mendukungnya, Biden menjawab, "Saya meminta Presiden Obama untuk tidak mendukung saya dan dia juga tidak ingin melakukannya ... siapapun yang memenangkan pencalonan ini harus memenangkan berdasarkan kemampuan mereka sendiri."

Adapun Trump mengomentari pencalonan Biden dengan mentwit, "Selamat datang ke perlombaan Sleepy Joe ... Ini tidak akan menyenangkan - Anda akan berhadapan dengan orang-orang yang benar-benar memiliki ide yang gila dan sakit."

Biden merupakan kandidat Demokrat yang paling berpengalaman, seorang senator enam periode.

Dia telah menikmati popularitas relatif di kalangan Demokrat dalam beberapa tahun terakhir, secara konsisten Biden memimpin setiap jajak pendapat primer nasional Demokrat yang dilacak oleh situs RealClearPolitics.

Biden juga disebut memiliki daya tarik terkuat dari kandidat capres Demokrat di seluruh Midwest, di mana dalam beberapa tahun terakhir banyak pemilih berpendapatan rendah telah meninggalkan partai demi mendukung Trump.

Belakangan, Biden dihadapkan pada isu pelecehan perempuan. Dia dituduh menyentuh secara tidak pantas sejumlah perempuan. Terkait hal ini Biden telah meminta maaf.

Siapa Joe Biden?

Joseph Robinette Biden Jr lahir pada 20 November 1942 di Scranton, Pennsylvania. Dia anak pertama dari empat bersaudara yang tumbuh dalam keluarga Katolik-Irlandia.

Pada 1972 saat usianya 29 tahun, Biden terpilih menjadi anggota Senat AS dan mulai menjabat beberapa minggu kemudian ketika dia berusia 30 tahun. Itu merupakan usia minimum untuk memasuki Senat.

Tepat sebelum dia menjabat, tragedi terjadi. Istrinya Neilia dan bayi perempuannya Naomi tewas dalam kecelakaan mobil.

Biden pertama kali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun 1988, tetapi dia mundur setelah mengakui bahwa dia telah menjiplak pidato Neil Kinnock, pemimpin Partai Buruh di Inggris pada saat itu.

Setelah itu dia membangun kariernya di Senat hingga akhirnya menjadi ketua komite kehakiman dan hubungan luar negeri.

Pada 2008 dia mencalonkan diri lagi sebagai presiden, tetapi gagal mendapatkan traksi politik yang dia butuhkan.