sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pascapembunuhan Jenderal Iran, militer Israel siaga

Anggota kabinet Israel diminta untuk tidak mengomentari pembunuhan Soleimani.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 03 Jan 2020 18:48 WIB
Pascapembunuhan Jenderal Iran, militer Israel siaga

Pada Jumat (3/1), militer Israel dalam siaga tinggi setelah Iran berjanji akan balas dendam atas pembunuhan Kepala Pasukan Quds Mayor Jenderal Qasem Soleimani.

Soleimani tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad, Irak, pada Jumat.

Anggota kabinet PM Netanyahu diminta untuk tidak mengomentari pembunuhan Soleimani.

"Kabinet menerima instruksi untuk menolak diwawancarai tentang masalah ini," tutur Wakil Menteri Luar Negeri Israel Tzachi Hanegbi.

Sejumlah pihak menilai hal itu merupakan upaya untuk mencegah tindakan pembalasan dari sekutu Iran di kawasan, termasuk Hizbullah serta kelompok-kelompok militan asal Palestina, Hamas dan Jihad Islam.

"Tujuannya jelas, agar tidak menyulitkan Israel dan memastikan kabinet satu suara," tutur analis politik, Dana Weiss.

Berbeda dengan kabinet Netanyahu yang bungkam, anggota parlemen oposisi, Yair Lapid, memberi selamat kepada Presiden Donald Trump melalui Twitter.

Dia menyebut mereka yang diperintahkan Trump untuk dibunuh bertanggung jawab atas tindakan terorisme dari Damaskus hingga Buenos Aires.

Sponsored

Tidak hanya Soleimani, serangan udara tersebut juga menewaskan komandan militer Irak, Abu Mahdi al-Muhandis dan lima orang lainnya.

Akibat situasi kawasan yang memanas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mempersingkat kunjungannya ke Yunani. Dia berada di Athena untuk menyaksikan penandatanganan kesepakatan pembangunan pipa bawah laut sepanjang 1.900 km dengan Yunani dan Siprus.

Army Radio milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan, Menteri Pertahanan Naftali Bennet telah menggelar rapat penilaian situasional dengan pejabat militer dan intelijen.

Juru bicara militer Israel Avichay Adraee menuturkan bahwa resor ski Gunung Hermon, di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan berbatasan dengan Suriah telah ditutup.

"Tidak ada instruksi lebih lanjut kepada penduduk daerah Dataran Tinggi Golan. Kegiatan rutin berlanjut seperti biasa," tambah Adraee.

Sejak lama, Israel menganggap Soleimani sebagai ancaman besar. Pada Agustus 2019, militer mengklaim telah menggagalkan serangan pesawat tanpa awak Pasukan Quds yang diluncurkan dari Suriah.

Israel menuduh Soleimani memimpin upaya Pasukan Quds untuk membangun program rudal bagi Hizbullah.

Hamas, yang berbasis di Gaza, mengutuk pembunuhan Soleimani dan mengirim belasungkawa kepada rakyat Iran.

"Pembunuhan tersebut membuka pintu bagi segala hal, kecuali ketenangan dan stabilitas, untuk masuk ke kawasan. AS memikul tanggung jawab atas hal itu," twit seorang pejabat Hamas, Bassem Naim.

Juru bicara Jihad Islam Abu Hamza memuji Soleimani sebagai pemimpin yang dapat membuat AS dan Israel takut.

"Aliansi perlawanan tidak akan dikalahkan, justru kami akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi Israel dan AS," ujar Hamza.

Menanggapi ketegangan pascapembunuhan Jenderal Soleimani, Menteri Luar Negeri Prancis Amelie de Montchalin menegaskan bahwa prioritas negaranya adalah untuk menstabilkan Timur Tengah.

"Apa yang terjadi adalah hal yang kami khawatirkan sejak lama, ketegangan antara AS-Iran semakin meningkat ... Prioritas kami adalah untuk menstabilkan kawasan," ujar Menlu Montchalin.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya