logo alinea.id logo alinea.id

Perseteruan memanas, Prancis tarik dubesnya dari Italia

Perseteruan memanas setelah Wakil PM Italia bertemu dengan perwakilan demonstran rompi kuning yang anti-pemerintah Prancis.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 08 Feb 2019 17:47 WIB
Perseteruan memanas, Prancis tarik dubesnya dari Italia

Prancis menarik duta besarnya untuk Italia pada Kamis (7/2), perpecahan diplomatik yang luar biasa antar tetangga dan sekutu Uni Eropa. Peristiwa ini terjadi setelah apa yang digambarkan sebagai serangan berulang yang tidak berdasar oleh para pemimpin politik Italia terhadap Prancis.

Penarikan pertama utusan untuk Italia sejak Perang Dunia II itu diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Prancis.

Para diplomat menuturkan bahwa langkah tersebut merupakan buntut dari serangkaian hinaan oleh Italia, terutama keputusan Wakil Perdana Menteri Luigi di Maio (32) pekan ini untuk bertemu dengan demonstran rompi kuning, yang telah berunjuk rasa selama berbulan-bulan di berbagai kota di Prancis. Terkadang, aksi mereka diwarnai kekerasan.

"Prancis, selama beberapa bulan menjadi sasaran serangan berulang, tidak berdasar, dan pernyataan-pernyataan kasar," sebut Kementerian Luar Negeri Prancis. "Memiliki perbedaan pendapat adalah hal wajar, tetapi memanipulasi hubungan untuk tujuan pemilu adalah hal lain."

Di Maio, pemimpin Five Star Movement, yang berkoalisi dengan partai berhaluan kanan, Liga, membela keputusannya untuk bertemu dengan demonstran rompi kuning. "Rakyat Prancis adalah teman dan sekutu kami."

"Presiden Macron telah berulang kali mengecam pemerintah Italia karena sejumlah alasan politik jelang pemilihan Eropa," ungkap Di Maio, merujuk pada pemungutan suara Parlemen Eropa yang akan berlangsung pada Mei dan diharap menunjukkan peningkatan dukungan bagi partai-partai populis. "Pertemuan saya sebagai pemimpin politik Five Star Movement dengan anggota rompi kuning sepenuhnya legal. Saya mengklaim hak untuk berbicara dengan kekuatan politik lain yang mewakili rakyat Prancis."

Di Maio dikabarkan sangat bersemangat untuk menjadikan dirinya sebagai saingan bagi Macron yang tergolong sebagai pemimpin muda. Usia Presiden Prancis itu 41 tahun.

Macron belum merespons pernyataan Di Maio. Sang presiden menghabiskan sebagian besar waktunya di bulan lalu untuk berkeliling menyapa warga sebagai upaya untuk mendongkrak peringkat persetujuannya dan mendapat kembali ikhtiar dalam menghadapi gelombang unjuk rasa.

Sponsored

Menteri Prancis untuk Urusan Eropa Nathalie Loiseau menegaskan bahwa keputusan untuk memanggil pulang duta besar itu jarang terjadi tetapi kali ini penting dilakukan.

"Ada perilaku anggota pemerintah Italia yang kami anggap tidak biasa, tidak bersahabat, dan itu ditambah pula oleh sejumlah pernyataan resmi Italia yang sulit kami pahami dalam hal bagaimana itu dapat membantu hubungan Prancis-Italia," ungkap Loiseau kepada France Info.

Basta Italia!

Hubungan antara dua sekutu yang secara tradisional dekat, telah tumbuh semakin tegang sejak pertengahan 2018, dengan Di Maio dan wakil PM lainnya Matteo Salvini dari Partai Liga membidik Macron dan Prancis atas kebijakan migrasi.

Macron pernah meresponsnya, mengkritik Italia pada Juni lalu atas penolakannya untuk menerima kapal bermuaran migran yang diselamatkan di Mediterania dan juga keuangan publik Roma.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir adu mulut lebih tajam dan personal. Di Maio menuduh Prancis memicu kemiskinan di Afrika, melabelinya sebagai kekuatan neokolonialisme.

Salvini menuduh Prancis mengeksploitasi kerusuhan di Libya untuk menguntungkan perusahaan minyak Total, yang bersaing dengan perusahaan Italia ENI dalam pengembangan aset energi regional. Dia juga berharap partai Macron akan kalah dalam pemilihan Eropa. 

Selama kunjungan ke Mesir bulan lalu, Macron dinilai berusaha menghindari adu mulut dengan menyebut komentar Salvini dan Di Maio tidak signifikan dan menambah bahwa dia hanya berurusan dengan PM Giuseppe Conte.

Pada Kamis kemarin, nada Salvini jauh lebih bersahabat. Dia mengatakan tidak ingin berdebat dengan Prancis dan akan senang jika dapat bertemu dengan Macron. Lazimnya, sebagai kepala negara, Macron akan bertemu dengan sesama kepala negara atau kepala pemerintahan, bukan wakil.

"Kami siap dan bersedia, dengan semangat konstruktif, untuk membuka halaman baru demi kebaikan rakyat kita," sebut Salvini.

Meski tergolong langka, namun tindakan Prancis yang menarik dubesnya di Italia bukan 'insiden' pertama yang terjadi antara sesama anggota Uni Eropa. Pada 2016, Yunani memanggil kembali dubesnya untuk Austria, dan pada 2017, Hongaria memulangkan utusannya untuk Belanda.

Sumber : Reuters