sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

PM Inggris: Lockdown belum akan berakhir

Inggris mencatat total 219.183 kasus Covid-19, termasuk 31.855 kematian dan 1.002 pasien yang dinyatakan sembuh.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 11 Mei 2020 10:07 WIB
PM Inggris: Lockdown belum akan berakhir
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 563.680
Dirawat 80.023
Meninggal 17.479
Sembuh 466.178

Perdana Menteri Boris Johnson pada Minggu (10/5) menekankan bahwa lockdown atau karantina wilayah di Inggris belum akan berakhir dalam waktu dekat. Dia meminta rakyat untuk tetap waspada terhadap risiko penularan Covid-19.

"Ini bukan waktunya untuk mencabut lockdown," tutur PM Johnson dalam pidato yang disiarkan via televisi.

Dia mengumumkan bahwa pemerintah akan secara perlahan melonggarkan sejumlah pembatasan sosial yang diterapkan sejak lockdown diberlakukan pada 23 Maret. Mulai Rabu (13/5), warga Inggris akan diizinkan untuk melakukan lebih banyak aktivitas olahraga di luar rumah, duduk-duduk di taman, serta menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi ke tujuan masing-masing.

Sebelumnya, warga hanya diizinkan untuk berolahraga di luar ruangan sehari sekali dan dilarang duduk-duduk di taman.

Meskipun ada pelonggaran pembatasan, PM Johnson menegaskan bahwa aturan social distancing tetap harus dipatuhi. Dia menambahkan, warga yang melanggarnya akan dijatuhkan denda.

Johnson meminta warga untuk tetap bekerja dari rumah jika memungkinkan, tetapi mereka yang tidak bisa melakukannya, seperti pekerja konstruksi dan manufaktur, diizinkan untuk kembali bekerja mulai Senin (11/5).

Dia menyebut bahwa setidaknya mulai 1 Juni pemerintah kemungkinan besar akan secara bertahap membuka kembali sejumlah toko dan mengizinkan sekolah untuk mengadakan kegiatan belajar tatap muka.

Kemudian pada awal Juli, industri perhotelan dan sejumlah tempat umum lainnya rencananya akan diizinkan beroperasi dengan penerapan social distancing yang ketat.

Sponsored

"Selama periode dua bulan ke depan ini, kita akan didorong bukan hanya oleh harapan atau kebutuhan ekonomi, tetapi oleh data dan fakta-fakta ilmiah," tutur dia.

Johnson mengatakan, dia akan menghadap parlemen pada Senin untuk secara lebih konkret menetapkan rincian pelonggaran pembatasan sosial secara bertahap.

Ekonomi Inggris, terbesar kelima di dunia, telah terpukul berat akibat lockdown yang diterapkan untuk mengekang penyebaran Covid-19.

Kelompok bisnis menyambut keputusan Johnson untuk secara perlahan melakukan relaksasi pembatasan, tetapi mereka mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan akan membutuhkan lebih banyak arahan terkait pedoman keselamatan kerja karyawan.

Sementara itu, Pemimpin Partai Buruh Keir Starmer menilai pernyataan PM Johnson tidak memberikan arahan yang jelas bagi warga Inggris.

"PM Johnson memberi tahu jutaan warga Inggris untuk kembali bekerja tanpa adanya panduan keselamatan yang jelas tentang bagaimana mereka akan menuju ke tempat kerja tanpa menggunakan transportasi umum," kata dia. "Apa yang dibutuhkan negara ini adalah kejelasan dan konsensus, tetapi kami tidak mendapatkan keduanya."

Pemerintah Inggris telah menuai kritik atas penanganannya terhadap pandemik coronavirus jenis baru. Dalam pidatonya, Johnson menyatakan bahwa mencabut lockdown terlalu cepat akan meningkatkan potensi lonjakan kasus positif dan kematian.

The Sunday Times melaporkan, para pakar kesehatan Inggris telah memberi tahu pemerintah bahwa angka kematian dapat melampaui 100.000 pada akhir 2020 jika lockdown dicabut terlalu cepat.

Inggris mencatat total 219.183 kasus Covid-19, termasuk 31.855 kematian dan 1.002 pasien yang dinyatakan sembuh. Fatalitas akibat coronavirus jenis baru di Inggris adalah yang tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat. (Reuters dan Al Jazeera)

Geliat staycation pengusir penat

Geliat staycation pengusir penat

Jumat, 04 Des 2020 16:55 WIB
Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kamis, 03 Des 2020 16:21 WIB
Berita Lainnya

Begini penampakan vivo X60 Pro

Jumat, 04 Des 2020 16:43 WIB

Fanatisme Bisa Merusak Kemajemukan

Sabtu, 05 Des 2020 04:13 WIB