logo alinea.id logo alinea.id

PM Netanyahu larang dua wanita Kongres AS injakkan kaki di Israel

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar merupakan wanita muslim pertama yang duduk di Kongres.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 16 Agst 2019 13:28 WIB
PM Netanyahu larang dua wanita Kongres AS injakkan kaki di Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (15/8), melarang anggota Kongres Amerika Serikat asal Partai Demokrat Rashida Tlaib dan Ilhan Omar melawat ke negaranya. Langkah tersebut diambil setelah Donald Trump meminta sekutunya itu untuk tidak membiarkan mereka masuk.

"Beberapa hari lalu, kami menerima rencana kedatangan mereka ke Israel, yang mengungkapkan bahwa mereka merencanakan kunjungan yang tujuan utamanya adalah untuk memperkuat boikot terhadap kami dan menyangkal legitimasi Israel," kata Netanyahu.

Pada dasarnya, keputusan Netanyahu tidak mengherankan mengingat dia banyak berutang budi kepada Trump menyusul sejumlah kebijakan AS yang memihak Israel, termasuk pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Tlaib dan Omar, dua wanita muslim pertama yang duduk di Kongres, merupakan anggota sayap progresif Demokrat. Mereka adalah kritikus tajam kebijakan Trump dan kebijakan Israel terhadap Palestina.

Kedua perempuan itu dilaporkan berencana untuk berkeliling ke Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Tidak diketahui pasti kapan tepatnya keduanya menjadwalkan kunjungan ke Israel.

Langkah Netanyahu menuai kritik dari kalangan Demokrat di AS dan juga Palestina.

Namun, di lain sisi, keputusan melarang keduanya masuk ke Israel dinilai dapat membantu menyiapkan dukungan di antara basis pemilih konservatif Trump dan Netanyahu ketika keduanya bersiap mengikuti pemilu.

Israel akan mengadakan pemilihan nasional pada 17 September dan Trump akan ikut serta dalam pemilu berikutnya yang digelar pada November 2020.

Sponsored

Tlaib dan Omar telah menyuarakan dukungan mereka atas kampanye global Boycott, Divestment and Sanctions (BDS), yang menekan Israel dari segi ekonomi dan politik agar mau mematuhi tujuan gerakan ini, yaitu mengakhiri pendudukan dan kolonisasi Israel terhadap tanah Palestina, kesetaraan hak warga Arab-Palestina di Israel, dan menghormati hak pulang pengungsi Palestina.

Di bawah hukum Israel, pendukung BDS dapat ditolak masuk negara itu.

Netanyahu mengklaim bahwa Israel sangat menghormati Kongres AS tetapi Tlaib dan Omar mempromosikan lesgilasi yang menyerukan boikot terhadap Israel.

Omar menyebut keputusan Netanyahu penghinaan bagi nilai-nilai demokrasi.

Israel, pada awalnya memilih untuk mengizinkan kunjungan keduanya. Sebuah sumber yang ambil bagian dalam diskusi yang diadakan Netanyahu dengan anggota dan penasihat kabinet mengatakan kepada Reuters bahwa Israel mundur karena tekanan Trump.

"Dalam sebuah diskusi yang diadakan dua pekan lalu, seluruh pejabat mendukung untuk membiarkan mereka masuk. Tetapi, setelah tekanan Trump, mereka mengubah keputusan tersebut," kata sumber itu. 

Lewat sebuah twit pada Kamis (16/8), Trump menulis, "Akan menunjukkan kelemahan besar jika Israel mengizinkan Omar dan Tlaib berkunjung ... Mereka memalukan!."

Pernyataan Trump dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah AS yang menyebutkan bahwa AS mencari perlakuan dan kebebasan yang sama bagi warga AS untuk bepergian terlepas dari latar belakang etnis. Disebutkan pula bahwa mereka yang ditolak masuk harus diberikan penjelasan tertulis.

Trump, dalam beberapa bulan terakhir menuduh Tlaib, Omar dan dua wanita Kongres asal Demokrat lainnya yang memiliki latar belakang beragam, memusuhi Israel. Tuduhan tersebut dicap rasialis dan secara luas dipandang sebagai cara Trump untuk mengumpulkan suara pada pemilu 2020.

Omar, yang berdarah Somalia-AS, disebut sebagai target favorit Trump. Dalam sebuah kampanye baru-baru ini di North Carolina, para pendukung Trump berteriak agar perempuan 37 tahun itu dipulangkan ke Somalia. Trump menuduhnya mendukung Al Qaeda.

Sementara Omar bermigrasi ke AS dari Somalia saat masih kanak-kanak, Tlaib sendiri seorang keturunan Palestina yang lahir di AS.

Omar pernah dikritik baik oleh partainya sendiri maupun Partai Republik atas pernyataan-pernyataan tajamnya terhadap Israel, salah satunya twitnya pada tahun ini yang menyebut bahwa dukungan terhadap Israel adalah berkaitan dengan uang. Omar telah meminta maaf soal itu.

Netanyahu mengklaim bahwa jika Tlaib mengajukan permintaan untuk mengunjungi keluarga maka pihaknya akan mempertimbangkannya dengan catatan dia berjanji tidak mempromosikan boikot terhadap Israel.

Nenek dan keluarga besar Tlaib dilaporkan tinggal di Desa Beit Ur Al-Fauqa, Palestina.

Sumber : Reuters