sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Salip Italia, fatalitas Covid-19 Inggris tertinggi di Eropa

Inggris memiliki lebih dari 194.000 kasus positif Covid-19, di mana 29.427 di antaranya meninggal.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 06 Mei 2020 10:15 WIB
Salip Italia, fatalitas Covid-19 Inggris tertinggi di Eropa
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Pada Selasa (5/5), Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengumumkan bahwa 29.427 orang meninggal akibat Covid-19 di negara tersebut. Angka terbaru itu menjadikan fatalitas di Inggris yang tertinggi di Eropa, menyalip Italia, dan juga kedua tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat.

Per Selasa, Italia mencatat 29.315 kematian sementara AS melaporkan 68.279.

Termasuk angka kematian nasional, Inggris melaporkan lebih dari 194.000 kasus positif Covid-19 dengan 926 pasien yang sembuh.

Italia dan Spanyol, yang sebelumnya dianggap paling terpukul Covid-19 di Eropa, dinilai secara signifikan berada di depan Inggris dalam keberhasilan mengekang penyebaran virus. Kedua negara tersebut kini secara bertahap mulai mengangkat sejumlah pembatasan sosial.

Pakar kesehatan dari University of Cambridge, David Spiegelhalter, mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk membuat perbandingan fatalitas antarnegara dan menarik kesimpulan sendiri. Dia menekankan, populasi Inggris sekitar 10% lebih besar dari Italia.

Hal serupa juga disampaikan Menlu Raab pada Selasa.

"Menurut saya, kita belum bisa mendapatkan vonis akhir tentang seberapa baik negara-negara menjalankan tugas mereka untuk mengekang virus sampai pandemik ini benar-benar selesai," ujar dia.

Perkembangan terkait rekor fatalitas akibat Covid-19 di Inggris datang hanya beberapa hari sebelum Perdana Menteri Boris Johnson dijadwalkan menyampaikan pidato pada Minggu (10/5).

Sponsored

Johnson diperkirakan akan mengumumkan fase kedua terkait upaya pengekangan penyebaran coronavirus jenis baru di dalam negeri dan menjelaskan kapan Inggris dapat melonggarkan pembatasan sosial.

"Kami ingin memastikan bahwa fase berikutnya lebih berkelanjutan," kata Menlu Raab pada Selasa.

Inggris berada di bawah lockdown atau karantina wilayah sejak 21 Maret, memaksa bisnis nonesensial tutup dan warga dilarang keluar jika tidak ada keperluan mendesak.

PM Johnson menuai kritik karena kurangnya pengujian serta dinilai gagal menyediakan alat pelindung diri (APD) yang layak bagi para pekerja medis.

Pemerintah mengklaim telah mencapai target pengujian yakni di atas 100.000 tes sehari pada akhir April, tetapi sejak itu, jumlah tes per hari turun menjadi 84.000 pada Senin (4/5) dan 85.000 pada Selasa. (CNN, CNBC, dan BBC)

Berita Lainnya