sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

WHO perkirakan kasus Covid-19 di Eropa meningkat

Kasus Covid-19 di Eropa meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 15 Sep 2020 14:59 WIB
WHO perkirakan kasus Covid-19 di Eropa meningkat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 291182
Dirawat 61839
Meninggal 10856
Sembuh 218487

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Eropa Hans Kluge pada Senin (14/9) menyatakan bahwa Eropa dapat melihat lonjakan tingkat kematian akibat Covid-19 sepanjang Oktober dan November mendatang.

"Kami memperkirakan peningkatan kasus Covid-19, yang berarti lebih banyak kasus kematian," kata Kluge.

Jumlah kasus di Benua Biru meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, terutama di Spanyol dan Prancis.

Pada Jumat (11/9), lebih dari 51.000 kasus infeksi baru dilaporkan di total 55 negara Eropa. Angka itu melampaui puncak tertinggi pada April.

Sejauh ini, jumlah kematian harian di seluruh benua tetap pada tingkat yang sama sejak awal Juni, sekitar 400 hingga 500 kematian per hari akibat Covid-19.

"Ini adalah momen di mana negara-negara tidak ingin mendengar berita buruk ini," kata Kluge.

Kluge mengungkapkan keinginannya untuk mengirimkan pesan positif bahwa pandemik ini akan berakhir. Namun, dia menekankan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa vaksin.

"Kami bahkan tidak tahu apakah vaksin itu akan membantu semua kelompok populasi. Kami sekarang mendapatkan beberapa tanda bahwa vaksin itu akan hanya membantu kelompok-kelompok tertentu saja," katanya.

Sponsored

Komentar Kluge itu datang saat WHO Eropa memulai pertemuan online pada Senin dan Selasa. Sebanyak 53 negara anggota yang tergabung dalam WHO Eropa tengah mendiskusikan tanggapan mereka terhadap Covid-19 dan akan menyetujui keseluruhan strategi lima tahun mereka.

Sebelumnya, Komisaris Ekonomi Uni Eropa Paolo Gentiloni mengatakan, setelah berbicara dengan 27 negara anggota, blok tersebut saat ini tidak berada dalam risiko serius gelombang kedua karena telah menerapkan kebijakan lockdown yang ketat.

"Untuk saat ini, meskipun kita dibayang-bayangi ketidakpastian, tetapi kita tidak bisa menyatakan bahwa kita akan memasuki gelombang kedua pandemik," jelas Gentiloni. (Deutsche Welle)

Berita Lainnya

, : WIB

, : WIB

, : WIB