close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi penjaga gawang./Foto RoboMichalec/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi penjaga gawang./Foto RoboMichalec/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 03 Juli 2024 12:00

Cara kiper menggagalkan eksekusi penalti

Ada beberapa kunci yang bisa dilakukan penjaga gawang agar berhasil menggagalkan tendangan penalti.
swipe

Penjaga gawang Portugal, Diogo Costa, menjadi pahlawan kemenangan tim nasional negaranya usai menggagalkan tiga tendangan penalti secara berturut-turut dari pemain Slovenia dalam drama adu penalti pada babak 16 besar kompetisi antarnegara Eropa Euro 2024 di Frankfurt Arena, Jerman, Selasa (2/7) dini hari.

Bahkan, produsen data olahraga Opta Analyst menyebut, Diogo mencatatkan rekor sebagai kiper pertama yang bisa menepis tiga penalti sepanjang sejarah Euro.

Penalti merupakan salah satu momen paling menegangkan dalam sepak bola, terutama antara sang penenda dengan penjaga gawang. Pemain bisa menjadi pahlawan saat tendangannya berhasil masuk ke gawang, tetapi bisa jadi pecundang ketika bola berhasil ditepis kiper.

Tiga orang peneliti, yakni Benjamin Noel dari German Sport University Cologne, John van der Kamp dari Vrije Universiteit Amsterdam, dan Stefanie Klatt dari University of Rostock dalam jurnal Frontiers in Psychology (2021) menganalisis video perilaku pengambil tendangan penalti dan penjaga gawang selama adu penalti di Piala Dunia dan Euro untuk meneliti apakah aspek temporak pengambilan keputusan berdampak pada keberhasilan tendangan penalti.

Mereka menulis, kiper yang menunggu lebih lama untuk memutuskan melompat ke salah satu sisi gawang lebih sukses menepis bola. Sebab, hal ini memungkinkan mereka mengakses informasi yang lebih bisa diandalkan dari sepakan penendang bola.

“Artinya, orientasi yang tidak menendang memberikan informasi lebih dari 80% tentang arah tendangan, sementara gerakan selanjutnya dari kaki yang menendang memberikan informasi yang lebih dapat diandalkan,” tulis mereka.

“Sebaliknya, ketika melakukan lompatan lebih awal, keputusan spasial hanya dapat didasarkan pada informasi yang kurang atau tidak dapat diandalkan.”

Alternatif lainnya, penjaga gawang dapat menggunakan pengetahuan tentang sisi tendangan yang disukai pengambil penalti. “Berdasarkan penelitian ini, rekomendasi yang disarankan adalah penjaga gawang harus menunggu selama mungkin,” tulis para peneliti.

Para peneliti menulis, menunggu lama membuat pengambil tendangan penalti lebih cenderung menghasilkan tembakan yang lemah dan tidak akurat. Namun, Noel dkk melanjutkan, mengingat penendang penalti ada yang tak bergantung pada sikap penjaga gawang, maka tak heran jika kiper lebih berhasil menepis bola ketika melompat lebih awal dibandingkan menunggu.

Dalam pengambilan keputusan, kiper cenderung memprioritaskan pemilihan sisi gawang yang tepat dibandingkan melompat lebih awal, dan meremehkan pentingnya ketepatan waktu untuk dapat memblok bola.

“Kami berspekulasi, penjaga gawang mungkin berperilaku seperti ini karena mereka ingin menunjukkan mampu memilih sisi yang tepat. Strategi ini tampaknya sangat merugikan, meningat strategi tendangan penalti yang sebenarnya,” tulis Noel dkk.

Para peneliti menyimpulkan, keberhasilan melakukan penyelamatan tendangan penalti tidak hanya bergantung pada pengambilan keputusan spasial, misalnya memilih sisi kiri atau kanan gawang, tetapi harus diimbangi dengan aspek temporal, misalnya memutuskan kapan harus melompat.

Psikolog olahraga di Manchester Metropolitan University Institute of Sport, Greg Wood, mengatakan bagi seorang penjaga gawang masalah yang dibutuhkan adalah waktu. Dikutip dari Washington Post, mata manusia memerlukan waktu untuk mencatat informasi visual, yang kemudian perlu diproses oleh area visual otak. Informasi visual ini perlu diteruskan lagi ke korteks motorik otak, yang lalu memberitahu otot bagaimana cara bergerak. Jika dijumlahkan, waktu reaksi visual dari masing-masing  penyampaian biologis manusia sekitar 200 milidetik.

“Pergerakannya sendiri bisa memakan waktu 500 milidetik, jika kiper ingin melompat mendekati tiang,” kata Wood, seperti dikutip dari Washington Post.

Wood melanjutkan, penjaga gawang yang baik tidak menebak-nebak arah sepakan bola. Namun, mencoba mengantisipasi berdasarkan sejumlah isyarat yang diberikan penendang penalti, seperti gestur dan kaki.

Dalam riset yang dilakukan para peneliti dari Australia dan Amerika Serikat, yang terbit di jurnal Sports (2018) ditemukan, semakin banyak informasi yang dilihat kiper menjelang tendangan penalti, maka semakin besar pula kemungkinan mereka memprediksi arah tembakan penendang. Pada riset tersebut, para peneliti menunjukkan kepada lebih dari 700 peserta daring dari berbagai tingkat pengalaman sepak bola, 60 video tendangan penalti berbeda dengan jangka waktu berbeda-beda menjelang tendangan penalti.

Penjaga gawang pun dapat memengaruhi tendangan penalti dengan cara lain. Menurut Washington Post, sebuah penelitian menemukan, kiper yang berdiri sedikit ke separuh gawang dapat membuat penendang condong menembak ke arah sisi yang lebih terbuka, sehingga tendangannya lebih muda diprediksi.

Dalam penelitian yang diterbitkan Journal of Sports Sciences (2010), Wood dan seorang rekan penelitinya, Mark R. Wilson menemukan, ketika penjaga gawang melambaikan tangannya ke atas dan ke bawah, gangguan tersebut menyebabkan penendang lebih banyak menembak ke tengah dan dapat diantisipasi kiper dengan mudah.

Di sisi lain, fakta menariknya, dalam riset Iain A. Greenlees dari University of Chichester, Michael Eynon dari University of the West of Scotland, dan Richard C. Thelwell dari University of Portsmouth yang diterbitkan Sage Journals (2013), jersei kiper dapat memengaruhi hasil tendangan penalti. Mereka menemukan, pengambil tendangan penalti lebih mungkin meleset dari sasaran ketika kiper mengenakan jersei merah dibandingkan warna lainnya.

Warna merah, menurut peneliti, yang dianggap lebih dominan atau mengintimidasi bisa memengaruhi kepercayaan diri terhadap pengambilan keputusan penendang penalti.

Para peneliti bereksperimen dengan 40 pemain sepak bola berpengalaman yang melakukan 10 tendangan penalti terhadap penjaga gawang yang mengenakan seragam hitam. Seminggu kemudian, mereka melakukan 10 tendangan penalti terhadap penjaga gawang yang mengenakan seragam merah, hijau, biru, atau kuning.

“Pemain yang berhadapan dengan kiper mengenakan jersei merah mencetak tendangan penalti lebih sedikit dibandingkan dengan kiper berbaju biru atau hijau,” tulis para peneliti.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan